Impor Nonmigas RI Masih Dominan dari China, Nilainya Lampaui USD5 Miliar di Mei 2022
Rabu, 15 Juni 2022 - 20:42 WIB
loading...
Foto/Ilustrasi
A
A
A
JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) membeberkan sejumlah negara asal barang impor nonmigas yang masuk ke Indonesia selama bulan Mei 2022. Bisa diterka, China masih menjadi pemasok terbesar barang impor ke Tanah Air.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto mengungkapkan, China menyumbang pasar impor nonmigas senilai USD5,07 miliar atau setara 33,25%.
"Kedua adalah Jepang dengan nilai USD1,26 miliar atau 8,27%, lalu Thailand dengan nilai USD0,93 miliar atau 6,07%," urainya dalam rilis BPS, Rabu (15/6/2022).
Baca juga: Nilai Impor RI Bulan Mei Capai USD18,61 Miliar, Ini Rinciannya
Selanjutnya adalah Australia dengan nilai USD0,8 miliar atau 5,24%. Kelima, Amerika Serikat (AS) dengan nilai USD0,79 miliar atau 5,19%.
Korea Selatang juga menyumbang impor nonmigas USD0,78 miliar atau 5,09%. Singapura menyumbang USD0,69 miliar atau setara 4,55%, India USD0,66 miliar atau 4,35%, kemudian Malaysia USD0,48 miliar atau 3,11% dan Taiwan USD0,35 miliar atau 2,95%.
"Dari ASEAN pangsa nonmigasnya USD2,58 miliar atau 16,89%, sedangkan Eropa USD0,89 miliar atau 5,84%," terang Setianto.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto mengungkapkan, China menyumbang pasar impor nonmigas senilai USD5,07 miliar atau setara 33,25%.
"Kedua adalah Jepang dengan nilai USD1,26 miliar atau 8,27%, lalu Thailand dengan nilai USD0,93 miliar atau 6,07%," urainya dalam rilis BPS, Rabu (15/6/2022).
Baca juga: Nilai Impor RI Bulan Mei Capai USD18,61 Miliar, Ini Rinciannya
Selanjutnya adalah Australia dengan nilai USD0,8 miliar atau 5,24%. Kelima, Amerika Serikat (AS) dengan nilai USD0,79 miliar atau 5,19%.
Korea Selatang juga menyumbang impor nonmigas USD0,78 miliar atau 5,09%. Singapura menyumbang USD0,69 miliar atau setara 4,55%, India USD0,66 miliar atau 4,35%, kemudian Malaysia USD0,48 miliar atau 3,11% dan Taiwan USD0,35 miliar atau 2,95%.
"Dari ASEAN pangsa nonmigasnya USD2,58 miliar atau 16,89%, sedangkan Eropa USD0,89 miliar atau 5,84%," terang Setianto.
Lihat Juga :