Sandiaga : Inovasi Digitalisasi Produk Bisa Menjadi Inspirasi di 'Jemput Rezeki'
Jum'at, 26 Juni 2020 - 15:09 WIB
loading...
Pemilik Abon Nona Tuna, Kenny Alkano
A
A
A
JAKARTA - Terdapat banyak rintangan untuk menjadi seorang pengusaha. Ejekan hingga cibiran yang biasanya datang dari orang terdekat sering dirasakan oleh para pelaku usaha. Contohnya pemilik Abon Nona Tuna, Kenny Alkano. Kenny diejek oleh orang terdekatnya karena hanya bisa berjualan abon tuna walaupun memiliki pendidikan tinggi.
Berkat kegigihan dan keuletan Kenny, produk olahan ikannya dipasarkan secara digital atau online hingga mampu menembus lintas negara dan menghasilkan omzet penjualan yang fantastis.
“Tuna itu memiliki protein yang tinggi dan kandungan vitamin yang melimpah. Produk saya juga sudah diuji laboratorium. Pemasaran produk saya 80 persen melalui digital. Saya sudah mengirim ke seluruh Indonesia, bahkan produk tuna ini sudah tembus sampai keluar negeri,” ujar Kenny kepada Sandiaga di ‘Jemput Rezeki’.
Usaha olahan ikannya dengan modal Rp7 juta. Wabah Covid-19 yang melanda dunia tidak membuat ia patah semangat. Hasil jerih payah selama ini membuat usahanya tetap meroket di tengah pandemi dengan omzet penjualan mencapai Rp90 juta per bulan, yang jika dibandingkan dengan omzet sebelum pandemi mencapai Rp50 juta.
“Untuk modal awalnya Rp5-7 juta. Omzet per bulannya sebelum ada pandemi Covid-19 bisa capai Rp 40-50 juta. Saat ada pandemi, Alhamdulillah meningkat jadi Rp 80-90 juta per bulan,” katanya.
Berkat kegigihan dan keuletan Kenny, produk olahan ikannya dipasarkan secara digital atau online hingga mampu menembus lintas negara dan menghasilkan omzet penjualan yang fantastis.
“Tuna itu memiliki protein yang tinggi dan kandungan vitamin yang melimpah. Produk saya juga sudah diuji laboratorium. Pemasaran produk saya 80 persen melalui digital. Saya sudah mengirim ke seluruh Indonesia, bahkan produk tuna ini sudah tembus sampai keluar negeri,” ujar Kenny kepada Sandiaga di ‘Jemput Rezeki’.
Usaha olahan ikannya dengan modal Rp7 juta. Wabah Covid-19 yang melanda dunia tidak membuat ia patah semangat. Hasil jerih payah selama ini membuat usahanya tetap meroket di tengah pandemi dengan omzet penjualan mencapai Rp90 juta per bulan, yang jika dibandingkan dengan omzet sebelum pandemi mencapai Rp50 juta.
“Untuk modal awalnya Rp5-7 juta. Omzet per bulannya sebelum ada pandemi Covid-19 bisa capai Rp 40-50 juta. Saat ada pandemi, Alhamdulillah meningkat jadi Rp 80-90 juta per bulan,” katanya.
Lihat Juga :