Rusia Sebut Upaya Barat Batasi Harga Minyak Bisa Berefek Sebaliknya

Kamis, 14 Juli 2022 - 18:02 WIB
loading...
Rusia Sebut Upaya Barat...
Rusia memperingatkan bahwa rencana Barat menetapkan pembatasan harga untuk minyak dari negara itu justru akan mendongkrak harga lebih jauh. Foto/Ilustrasi
A A A
MOSKOW - Rusia akhirnya buka suara mengenai upaya Barat membatasi harga minyak dari negara tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengatakan, upaya G7 dan negara-negara barat untuk membatasi harga minyak Rusia itu justru dapat menyebabkan harga semakin terkerek naik.

"Rencana (pembatasan harga) itu anti-pasar dan berisiko," tegas Zakharova dalam pengarahan mingguan seperti dilansir Reuters, Kamis (14/7/2022).

Baca Juga: Terungkap Rahasia Minyak Rusia Tetap Laris di Tengah Sanksi Embargo Barat

Sementara itu, Kementerian Perdagangan China juga menyatakan kehati-hatiannya terkait rencana tersebut. China menyatakan bahwa bahwa menetapkan batas pada harga minyak Rusia adalah "masalah yang sangat rumit". China juga menegaskan bahwa prasyarat untuk menyelesaikan krisis Ukraina adalah dengan mempromosikan pembicaraan damai di antara pihak-pihak terkait ketimbang menetapkan sanksi.

"Adalah kepentingan semua pihak untuk mendorong situasi krisis Ukraina menjadi dingin, bukan untuk memanaskannya," kata Juru Bicara Kementerian Perdagangan China Shu Jueting pada konferensi pers.

Sementara itu, Menteri Keuangan AS Janet Yellen di Bali mengemukakan bahwa gagasan untuk membatasi harga minyak Rusia akan sangat penting untuk membantu menurunkan inflasi yang melonjak ke level tertinggi 40 tahun di 9,1% pekan ini. Berbicara sebelum dimulainya pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral Kelompok 20 di Bali, Yellen mengatakan upaya harus dilakukan untuk mengendalikan dua dampak ekonomi utama dari krisis Rusia-Ukraina - yaitu, harga bahan bakar yang tinggi dan meningkatnya kerawanan pangan yang menyapu seluruh AS dan secara global.

"Kami melihat efek limpahan negatif dari perang (Rusia-Ukraina) di setiap sudut dunia, terutama sehubungan dengan harga energi yang lebih tinggi, dan meningkatnya kerawanan pangan," kata Yellen seperti dilansir CNBC.

Dia mengatakan, AS akan melanjutkan percakapan dengan negara-negara lain untuk melihat apa yang dapat dilakukan bersama untuk membantu semua pihak di seluruh dunia yang terkena dampak perang Rusia-Ukraina. Hal ini, imbuh dia, termasuk mengatasi kerawanan pangan, dan desain serta implementasi pembatasan harga minyak Rusia.

"Batas harga minyak Rusia adalah salah satu alat kami yang paling ampuh untuk mengatasi rasa sakit yang dirasakan orang Amerika dan keluarga di seluruh dunia di pompa bensin dan toko kelontong saat ini. Pembatasan harga minyak Rusia akan menekan pendapatan Putin yang dibutuhkan mesin perangnya," kata dia.

Diketahui, saat Washington melarang pembelian minyak dan negara-negara Eropa mengurangi penggunaan minyak Rusia, harga minyak mentah telah melonjak. Harga minyak mentah naik di atas USD120 per barel pada Maret setelah perang Rusia-Ukraina dimulai. Para ekonom telah memperingatkan bahwa larangan lebih lanjut dapat mendorong harga minyak hingga setinggi USD175 per barel.

Baca Juga: Analis Swiss: Embargo Minyak Uni Eropa Malah Menguntungkan Rusia

Mekanisme pembatasan harga minyak Rusia rencananya akan melibatkan AS dan negara-negara lain yang membentuk kartel untuk membeli minyak Rusia dengan harga rendah, namun cukup untuk tetap menjaga produksi minyak dari negara itu berjalan sehingga pasokan tetap berjalan, tetapi pada saat yang sama mengurangi pendapatan Rusia yang memungkinkan negara itu mendanai perangnya di Ukraina.

"Kami akan membangun sanksi bersejarah yang telah kami terapkan yang membuat Rusia lebih sulit untuk berperang atau menumbuhkan ekonominya," tegas Yellen.

Amerika berharap China dan India sebagai pembeli utama minyak Rusia, turut serta dalam rencana tersebut. Yellen mengatakan, dia pembatasan harga diharapkan menarik bagi banyak perusahaan pengimpor minyak Rusia karena akan mengurangi tingginya biaya karena asuransi serta sanksi keuangan yang dikenakan pada impor minyak Rusia.
(fai)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Trump Peringatkan Iran,...
Trump Peringatkan Iran, Tarif Selat Hormuz Tak Dapat Diterima
Harga Minyak Dunia Hancur...
Harga Minyak Dunia Hancur Mendekati Level Normal! Kapan BBM RI Turun?
Usai Perang dengan Iran,...
Usai Perang dengan Iran, Trump Janji Ekonomi AS Segera Bangkit
Pasokan Teluk Pulih,...
Pasokan Teluk Pulih, Harga Minyak Mentah Brent Turun ke Level Terendah dalam Empat Bulan
Harga LNG Naik Turun...
Harga LNG Naik Turun Mengacu Harga Minyak Dunia
Janji Manis Investasi...
Janji Manis Investasi Rp5.323 Triliun di Balik Kesepakatan Damai AS-Iran
Iran Tolak Pendapat...
Iran Tolak Pendapat Menlu AS Rubio tentang Kesepakatan Damai
Trump Ungkap Turki Siap...
Trump Ungkap Turki Siap Gabung Perang Bersama Iran tapi Dicegah AS
Venezuela Umumkan Keadaan...
Venezuela Umumkan Keadaan Darurat setelah Diguncang 2 Gempa Dahsyat, 32 Orang Tewas
Rekomendasi
Korban Gempa Venezuela...
Korban Gempa Venezuela Bertambah, 164 Orang Tewas, 971 Luka-luka
Padi Reborn hingga Mahalini...
Padi Reborn hingga Mahalini Bakal Hibur Warga pada Puncak HUT Jakarta
Kapal Induk Garibaldi...
Kapal Induk Garibaldi dan Masa Depan Strategi Maritim Indonesia
Berita Terkini
Waspadai Phishing dan...
Waspadai Phishing dan CS Palsu di Platform Kripto, Begini Modusnya
EV Services: Membangun...
EV Services: Membangun Ekosistem Kendaraan Listrik yang Semakin Terintegrasi
Nasabah Mekaar Naik...
Nasabah Mekaar Naik Kelas Capai 2,5 Juta Sepanjang 2025
Jembatan Pasar Aset...
Jembatan Pasar Aset Tradisional dan Digital, ICE dan OKX Bentuk Joint Venture
Kredit Pintar dan AFPI...
Kredit Pintar dan AFPI Edukasi Mahasiswa Kelola Keuangan Digital
Trump Peringatkan Iran,...
Trump Peringatkan Iran, Tarif Selat Hormuz Tak Dapat Diterima
Infografis
Jika Diinvasi Barat,...
Jika Diinvasi Barat, Rusia Pastikan Gunakan Senjata Nuklir
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved