Inisiasi Proyek Berteknologi Binary, PGE Dukung Percepatan Transisi Energi G20
Senin, 18 Juli 2022 - 19:25 WIB
loading...
Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Ahmad Yuniarto dalam acara G20 Sustainable Finance For Climate Action di Nusa Dua, Bali, pekan lalu. Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) mendukung percepatan transisi energi berkelanjutan sebagai salah satu isu prioritas Presidensi G20 Indonesia. Dukungan tersebut diwujudkan PGE dengan menginisiasi proyek percontohan peningkatan kapasitas terpasang panas bumi, melalui penerapan teknologi binary dengan membangun Binary Unit di Lahendong, Kota Tomohon, Sulawesi Utara, untuk menghasilkan potensi tambahan kapasitas listrik hingga 25 MW.
Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Ahmad Yuniarto dalam acara G20 Sustainable Finance For Climate Action di Nusa Dua, Bali, pekan lalu.mengatakan bahwa perusahaan sebagai bagian dari Subholding Pertamina Power & New Renewable Energy (PNRE) telahmemiliki peta jalan pengembangan kapasitas terpasang di wilayah kerja panas bumi PGE hingga 5 tahun ke depan. Hal ini untuk mempersiapkan panas bumi sebagai base load energi baru terbarukan di Indonesia.
Baca Juga: Jadi Pemain Global, Pertamina Kejar Transisi Energi
"PGE mengundang negara anggota G20 untuk bekerja sama dalam pengembangan energi panas bumi di Indonesia sebagai salah satu solusi dalam menghadapi isu-isu besar seperti pemanasan global dan dekarbonisasi menuju net zero emission 2060," kata Ahmad Yuniarto dalam siaran pers yang diterima, Senin (18/7/2022).
Ahmad menyebutkan, ada tiga area di mana kemitraan bisa dilakukan, yakni Co-generation, Co-production, dan Co-development. Pembangkitan bersama bisa dilakukan melalui optimalisasi uap air panas (Steam n Brines to green power) untuk melahirkan listrik ramah lingkungan (green electricity). Selain itu, ada empat bidang yang bisa dikerjakan bersama-sama (Co-production), yaitu pemanfaatan CO2 untuk bahan bakar alternatif; ekstraksi nano material yaitu dengan pemanfaatan kandungan berharga di fluida panas bumi (rare earth element); green hidrogen sebagai bahan bakar masa depan yang ramah lingkungan; dan green Metanol. Pengembangan bersama( co-development) bisa dilakukan untuk membangun Geo-eco tourism, dan Geo-agro industry. “Pada prinsipnya, operasi PGE harus efisien, termasuk dalam memanfaatkan waste,” ujarnya.
Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Ahmad Yuniarto dalam acara G20 Sustainable Finance For Climate Action di Nusa Dua, Bali, pekan lalu.mengatakan bahwa perusahaan sebagai bagian dari Subholding Pertamina Power & New Renewable Energy (PNRE) telahmemiliki peta jalan pengembangan kapasitas terpasang di wilayah kerja panas bumi PGE hingga 5 tahun ke depan. Hal ini untuk mempersiapkan panas bumi sebagai base load energi baru terbarukan di Indonesia.
Baca Juga: Jadi Pemain Global, Pertamina Kejar Transisi Energi
"PGE mengundang negara anggota G20 untuk bekerja sama dalam pengembangan energi panas bumi di Indonesia sebagai salah satu solusi dalam menghadapi isu-isu besar seperti pemanasan global dan dekarbonisasi menuju net zero emission 2060," kata Ahmad Yuniarto dalam siaran pers yang diterima, Senin (18/7/2022).
Ahmad menyebutkan, ada tiga area di mana kemitraan bisa dilakukan, yakni Co-generation, Co-production, dan Co-development. Pembangkitan bersama bisa dilakukan melalui optimalisasi uap air panas (Steam n Brines to green power) untuk melahirkan listrik ramah lingkungan (green electricity). Selain itu, ada empat bidang yang bisa dikerjakan bersama-sama (Co-production), yaitu pemanfaatan CO2 untuk bahan bakar alternatif; ekstraksi nano material yaitu dengan pemanfaatan kandungan berharga di fluida panas bumi (rare earth element); green hidrogen sebagai bahan bakar masa depan yang ramah lingkungan; dan green Metanol. Pengembangan bersama( co-development) bisa dilakukan untuk membangun Geo-eco tourism, dan Geo-agro industry. “Pada prinsipnya, operasi PGE harus efisien, termasuk dalam memanfaatkan waste,” ujarnya.
Lihat Juga :