Rencana AS Batasi Harga Minyak Rusia Disebut Ide Konyol

Selasa, 19 Juli 2022 - 14:07 WIB
loading...
Rencana AS Batasi Harga...
Rencana AS dan sekutunya membatasi harga minyak Rusia dinilai sebagai ide konyol. Foto/Ilustrasi/Reuters
A A A
JAKARTA - Usulan Amerika Serikat (AS) dan negara-negara G7 lainnya untuk menerapkan pembatasan harga (price cap) untuk minyak Rusia dinilai sebagai ide konyol. Alih-alih bisa membuat minyak lebih murah, rencana itu justru bisa mendorong harga minyak ke USD140 per barel.

"Ini semacam ide yang konyol menurut saya," kata Co-director Institute for the Analysis of Global Security Gal Luft seperti dilansir CNBC, Senin (18/7/2022).

Baca Juga: Rusia Sebut Upaya Barat Batasi Harga Minyak Bisa Berefek Sebaliknya

Dia menegaskan, ide itu mengabaikan fakta bahwa minyak adalah komoditas fungible. Istilah fungible berarti dapat dipertukarkan. Luft menyamakan rencana itu dengan pergi ke toko dan meminta penjual untuk menerima lebih sedikit uang dari harga yang tercantum. "Itu bukan cara kerja pasar minyak," cetusnya. "Ini adalah pasar yang sangat canggih, Anda tidak bisa memaksa harga turun."

Apa yang mungkin terjadi, sambung dia, adalah bahwa Rusia justru akan membatasi produksinya dan menciptakan kelangkaan artifisial di pasar. "Orang-orang Eropa dan Amerika yang berbicara tentang harga USD40 per barel, justru akan mendapatkan harga USD140 per barel," ujar Luft.

Bloomberg, mengutip orang-orang yang mengetahui masalah ini, melaporkan bahwa AS dan sekutunya telah membahas pembatasan harga minyak Rusia antara USD40 dan USD60 per barel. "Anda tidak bisa menipu hukum penawaran dan permintaan, dan Anda tidak bisa menentang hukum gravitasi ketika menyangkut komoditas yang fungible," tegasnya.

Harga minyak belakangan ini telah melonjak karena permintaan kembali meningkat setelah negara-negara kembali membuka diri setelah pandemi Covid-19.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
10 Negara Produsen Pertanian...
10 Negara Produsen Pertanian Terbesar di Dunia, Indonesia Urutan Berapa?
Bos Raksasa Minyak Rusia:...
Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
Barat Remehkan Blokade...
Barat Remehkan Blokade Selat Hormuz, Pasokan Minyak Dunia di Titik Kritis
Buntut Dugaan Kerja...
Buntut Dugaan Kerja Paksa, Indonesia Terancam Digetok Tarif Baru dari AS
Gegara Ledakan AI, Industri...
Gegara Ledakan AI, Industri Cip Rp27.000 Triliun Jadi Medan Perang AS-China
Hamas Ungkap Pertemuan...
Hamas Ungkap Pertemuan di Kairo Bahas Penerapan Gencatan Senjata Gaza
AS Pertimbangkan Gunakan...
AS Pertimbangkan Gunakan Aset Iran untuk Biaya Rekonstruksi Negara-negara Teluk
AS Curigai Zionis, Pentagon...
AS Curigai Zionis, Pentagon Naikkan Tingkat Ancaman Spionase Israel Jadi Kritis
Rekomendasi
Marc Marquez Juara MotoGP...
Marc Marquez Juara MotoGP Hungaria 2026, Hapus Dahaga Gelar 266 Hari
15.080 Peserta Siap...
15.080 Peserta Siap Ikuti Riau Bhayangkara Run 2026
Bhakti TNI, Satgas Yonif...
Bhakti TNI, Satgas Yonif 631/Antang Bangun MCK di Dagai Puncak Jaya
Berita Terkini
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
PLN EPI Targetkan Pengembangan...
PLN EPI Targetkan Pengembangan Bio-CNG Berbasis Limbah Sawit Dukung Transisi Energi
IHSG dan Rupiah Tertekan,...
IHSG dan Rupiah Tertekan, Pasar Uji Kredibilitas Sistem Keuangan Indonesia
Redam Sentimen Sell...
Redam Sentimen 'Sell Indonesia', Ini Saran dari Ekonom
Soroti Pelemahan Rupiah,...
Soroti Pelemahan Rupiah, BADKO HMI Jatim Dorong Evaluasi Kebijakan Moneter
Kanda Dukung Afi Trending...
'Kanda Dukung Afi' Trending Global Jelang Pemilihan Ketum Hipmi
Infografis
10 Negara Menaikkan...
10 Negara Menaikkan Harga BBM Akibat Perang AS-Iran, Banyak Tetangga RI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved