Waspada, Serangan Siber Bisa Mengancam Keberlangsungan Bisnis
Rabu, 10 Agustus 2022 - 21:41 WIB
loading...
A
A
A
Hal itu menunjukkan bahwa serangan siber dapat terjadi di seluruh dunia dan akan terus mendisrupsi keberlangsungan bisnis.
Di antara semua serangan siber yang terjadi, serangan virus ransomware merupakan yang paling banyak ditemui di Indonesia dan telah terhitung atas hampir setengah dari total serangan ransomware yang terjadi seluruh Asia Tenggara.
Terkait penyebab perusahaan lebih rentan terhadap risiko serangan siber tersebut, lebih dari setengah (57%) responden di Asia menyebut kebijakan bekerja jarak jauh dan dari rumah atau lebih dikenal dengan WFH (work from home) menjadi penyebab terbesar.
Penyebab lainnya adalah perangkat atau aplikasi personal yang digunakan oleh karyawan (52%); penggunaan infrastruktur dan platform cloud (46%); serta penggunaan produk digital, aplikasi, dan platform dagang elektronik yang berhubungan langsung dengan pelanggan oleh perusahaan (46%).
Temuan Marsh dan Microsoft dalam laporan tersebut juga menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan di Asia belum sepenuhnya siap seperti yang mereka bayangkan untuk menghadapi serangan siber karena kurangnya pengendalian risiko keamanan siber – yang merupakan sebuah syarat mutlak bagi program-program asuransi.
Demikian halnya dengan Indonesia, di mana perusahaan-perusahaan di negara ini memiliki skor kesiapan serangan siber yang rendah dan berada di peringkat 83 dari 160 negara di dunia.
"Ini mengkhawatirkan mengetahui bahwa 1 dari 3 organisasi di Asia tidak memiliki perangkat pendeteksi endpoint yang mana akan membahayakan potensi insurabilitas organisasi tersebut,” kata Head of Cyber Advisory Asia Pacific Marsh Advisory Faizal Janif dalam keterangannya, dikutip Kamis (11/8/2022).
Baca juga: Perkuat Pertahanan TI dan Tangkis Serangan Siber Perbankan, Ini Strategi OJK
Di antara semua serangan siber yang terjadi, serangan virus ransomware merupakan yang paling banyak ditemui di Indonesia dan telah terhitung atas hampir setengah dari total serangan ransomware yang terjadi seluruh Asia Tenggara.
Terkait penyebab perusahaan lebih rentan terhadap risiko serangan siber tersebut, lebih dari setengah (57%) responden di Asia menyebut kebijakan bekerja jarak jauh dan dari rumah atau lebih dikenal dengan WFH (work from home) menjadi penyebab terbesar.
Penyebab lainnya adalah perangkat atau aplikasi personal yang digunakan oleh karyawan (52%); penggunaan infrastruktur dan platform cloud (46%); serta penggunaan produk digital, aplikasi, dan platform dagang elektronik yang berhubungan langsung dengan pelanggan oleh perusahaan (46%).
Temuan Marsh dan Microsoft dalam laporan tersebut juga menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan di Asia belum sepenuhnya siap seperti yang mereka bayangkan untuk menghadapi serangan siber karena kurangnya pengendalian risiko keamanan siber – yang merupakan sebuah syarat mutlak bagi program-program asuransi.
Demikian halnya dengan Indonesia, di mana perusahaan-perusahaan di negara ini memiliki skor kesiapan serangan siber yang rendah dan berada di peringkat 83 dari 160 negara di dunia.
"Ini mengkhawatirkan mengetahui bahwa 1 dari 3 organisasi di Asia tidak memiliki perangkat pendeteksi endpoint yang mana akan membahayakan potensi insurabilitas organisasi tersebut,” kata Head of Cyber Advisory Asia Pacific Marsh Advisory Faizal Janif dalam keterangannya, dikutip Kamis (11/8/2022).
Baca juga: Perkuat Pertahanan TI dan Tangkis Serangan Siber Perbankan, Ini Strategi OJK
Lihat Juga :