Kimpul Bisa Jadi Alternatif Pengganti Nasi, Cocok untuk Penderita Diabetes

Sabtu, 20 Agustus 2022 - 10:39 WIB
loading...
Kimpul Bisa Jadi Alternatif...
Kementerian Pertanian (Kementan) menginisiasi talas Belitung atau yang dikenal dengan kimpul, sebagai calon pengganti nasi dari beras yang cocok untuk penderita diabetes dan menu diet. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) menginisiasi talas Belitung atau yang dikenal dengan kimpul, sebagai calon pengganti nasi dari beras yang cocok untuk penderita diabetes dan menu diet. Hal itu dilakukan sebagai salah satu upaya diversifikasi pangan.

“Kimpul sendiri komoditas penghasil karbohidrat nonberas dari golongan umbi-umbian, selain ubi kayu dan ubi jalar. Kimpul punya potensi sebagai pengganti nasi,” kata perwakilan Direktur Aneka Kacang dan Umbi, Ditjen Tanaman Pangan, Kementan, Inna Dwi Hidayah, Kamis (18/8).

Baca Juga: UI: Indonesia Sukses Tingkatkan Produksi Pangan Nasional

Dalam 100 gram umbi kimpul terdapat kandungan protein 2,81%, lemak 0,08%, air 67,26%, abu 1,19%, karbohidrat 28,66%, pati 20,87%, serat kasar 0,56%, serat pangan larut air 1,31%, serat pangan tidak larut air 6,93%, polisakarida larut air 0,99%, dan giosgenin 0,00083 mg.

“Umbi kimpul mengandung senyawa bioaktif giosgenin dan polisakarida larut air. Ini bermanfaat untuk menurunkan berat badan bagi yang diet dan mencegah diabetes,” katanya.

Selain bisa menurunkan berat badan dan mencegah diabetes, kimpul juga bisa menstabilkan tekanan darah dan kolesterol, detoksifikasi dan sumber antioksidan tubuh, mencegah kanker, kesehatan otak dan mencegah stroke, kesehatan ibu hamil karena tinggi asam folat dan zat besi, meningkatkan imun tubuh, meningkatkan kesehatan kulit, serta mencegah kerutan, noda hitam dan tanda penuaan pada wajah.

Dari sisi budidaya, kimpul memiliki keunggulan karena lebih toleran terhadap kekeringan dibandingkan jenis talas lainnya. “Tanaman kimpul mudah ditanam, sehingga layak untuk dikembangkan. Biasanya ditanam di lahan kering yang lembab, tapi tidak becek. Bisa hidup di lahan sawah, tetapi pada musim kemarau,” kata Inna.

Produksi kimpul bisa mencapai 3,7-7,5 ton per hektare dan umumnya dipanen diumur 5-9 bulan setelah tanam. “Beberapa jenis kimpul dapat mulai dipanen dan memiliki produksi yang tinggi pada umur tujuh sampai delapan bulan,” katanya.

Pengembangan talas kimpul, lanjut Inna, berpotensi dilakukan di lahan di bawah tegakan tanaman perkebunan atau tanaman kehutanan secara tumpang sari. “Dengan naungan 75% menghasilkan produksi umbi lebih tinggi dibandingkan yang tanpa naungan,” katanya.

Baca Juga: Pemerintah Genjot Produksi Pangan Lokal Pengganti Komoditas Impor

Menurut Dosen Universitas Lampung Solihin, tanaman kimpul adalah tanaman yang bisa dimanfaatkan semua bagiannya, bukan hanya umbinya. “Kimpul itu zero waste, semua bagian tanamannya bisa dimanfaatkan,” kata Solihin.

Inna menambahkan, batang dan daun muda tanaman kimpul bisa digunakan sebagai sayuran, juga sebagai pakan ternak. “Daun kimpul bisa dirajang-rajang, direbus, dicampur bekatul,” kata Inna.

Sentra produksi tanaman kimpul berada di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Papua Barat, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Barat.

“Di Sumatera Barat, Papua, kimpul biasa digunakan untuk pengganti nasi. Sedangkan di Jawa Barat, Jawa Timur, sudah banyak dilakukan home industry. Dia memiliki nilai tambah, diolah menjadi produk olahan,” katanya.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dataran Tinggi Tak Lagi...
Dataran Tinggi Tak Lagi Area Pinggiran, UPLAND Jadikannya Pilar Kedaulatan Pangan
Inovasi Terbaru Novo...
Inovasi Terbaru Novo Nordisk untuk Diabetes Tipe 2 Disetujui FDA AS
FAO Ingatkan Risiko...
FAO Ingatkan Risiko Krisis Pangan Global, Indonesia Siap Ambil Peran Pemasok Pangan Dunia
Dukung Arah Ekonomi...
Dukung Arah Ekonomi Prabowo, Elemen Masyarakat Minta Distribusi Pangan Diperbaiki
Bahan Pangan Masih Impor,...
Bahan Pangan Masih Impor, Siap-siap Hadapi Lonjakan Harga Imbas Rupiah Loyo
Bertemu PM Belarus,...
Bertemu PM Belarus, Airlangga Dorong Penguatan Kerja Sama Pangan hingga Energi
Dirjenbun Kementan Pastikan...
Dirjenbun Kementan Pastikan Perlindungan dan Pemberdayaan Petani
Gerakan Pangan Murah...
Gerakan Pangan Murah Partai Perindo Ringankan Beban Warga Kendari
Gerakan Pangan Murah...
Gerakan Pangan Murah Partai Perindo Sultra Diserbu Warga
Rekomendasi
KPK Tahan Bupati Kuansing...
KPK Tahan Bupati Kuansing dan Dua Orang Lainnya terkait Suap Pengisian Jabatan
Presiden Belarus Lukashenko...
Presiden Belarus Lukashenko Tiba di Jakarta, Bertemu Prabowo Besok
Video Detik-detik Penangkapan...
Video Detik-detik Penangkapan Roy Suryo Diputar di Sidang Praperadilan
Berita Terkini
Lesca Gadai Premier...
Lesca Gadai Premier Tawarkan Likuiditas Cepat dan Privat bagi Pelaku Bisnis
Pertamina dan Pupuk...
Pertamina dan Pupuk Indonesia Jajaki Kolaborasi Strategis untuk Perkuat Ketahanan Energi dan Pangan Nasional
AQUA Masih Dominasi...
AQUA Masih Dominasi Penjualan Air Mineral di Berbagai Kota Besar
Siap-siap Banjir Pasokan...
Siap-siap Banjir Pasokan Minyak Dunia, Morgan Stanley Koreksi Harga Brent di Angka USD75/Barel
IHSG Balik Melawan,...
IHSG Balik Melawan, Hari Ini Ditutup Menghijau Sentuh Level 5.695
Rupiah Ambruk Dekati...
Rupiah Ambruk Dekati Rp18.000, Dolar AS Masih Terlalu Perkasa
Infografis
3 Alasan Greenland Jadi...
3 Alasan Greenland Jadi Kunci AS untuk Perang Nuklir Melawan Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved