Ekspor Furnitur Indonesia Masih Keok oleh Malaysia, Apalagi Vietnam
Rabu, 24 Agustus 2022 - 14:46 WIB
loading...
Ekspor produk furnitur Indonesia masih kalah dari Vietnam dan Malaysia. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Ketua Presidium Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia ( HIMKI ) Abdul Sobur mengungkapkan, nilai ekspor produk furnitur Indonesia masih berada di bawah Malaysia dan Vietnam.
Baca juga: Bisnis Mebel dan Kerajinan Menjanjikan, HIMKI Target Ekspor Capai USD5 Miliar
Dia menyebutkan negara dengan nilai ekspor furnitur terbesar adalah China. Nilai ekspor China mencapai USD70 miliar kemudian disusul oleh Vietnam dengan USD18 miliar dan Malaysia dengan capaian ekspor produk furnitur kurang lebih US3,5 miliar.
"Jadi sebetulnya kita masih berada di bawah Malaysia dan Vietnam," ungkap Abdul dalam program Market Review di IDX Channel, Rabu (24/8/2022).
Meskipun demikian, dia mengaku optimistis bahwa nilai ekspor Indonesia akan bisa menyusul Malaysia dan lambat laun juga akan menyalip Vietnam.
"Jadi dalam beberapa tahun ke depan kita salip dulu Malaysia baru kita berpikir cara menyalip Vietnam. Itu tidak mudah juga karena begitu besar, omzetnya bisa mencapai empat kali lebih besar dari kita," jelasnya.
Untuk memuluskan rencana tersebut ia melihat pengelolaan niaga bahan baku menjadi lebih fokus diberikan kepada industri hilir atau coba membangun nilai tambah dan hilirisasi diperkuat.
Baca juga: Bisnis Mebel dan Kerajinan Menjanjikan, HIMKI Target Ekspor Capai USD5 Miliar
Dia menyebutkan negara dengan nilai ekspor furnitur terbesar adalah China. Nilai ekspor China mencapai USD70 miliar kemudian disusul oleh Vietnam dengan USD18 miliar dan Malaysia dengan capaian ekspor produk furnitur kurang lebih US3,5 miliar.
"Jadi sebetulnya kita masih berada di bawah Malaysia dan Vietnam," ungkap Abdul dalam program Market Review di IDX Channel, Rabu (24/8/2022).
Meskipun demikian, dia mengaku optimistis bahwa nilai ekspor Indonesia akan bisa menyusul Malaysia dan lambat laun juga akan menyalip Vietnam.
"Jadi dalam beberapa tahun ke depan kita salip dulu Malaysia baru kita berpikir cara menyalip Vietnam. Itu tidak mudah juga karena begitu besar, omzetnya bisa mencapai empat kali lebih besar dari kita," jelasnya.
Untuk memuluskan rencana tersebut ia melihat pengelolaan niaga bahan baku menjadi lebih fokus diberikan kepada industri hilir atau coba membangun nilai tambah dan hilirisasi diperkuat.
Lihat Juga :