Cara Mitra Taksi Online Menyiasati Orderan Sepi Saat Pandemi
Rabu, 01 Juli 2020 - 12:54 WIB
loading...
Sepinya orderan akibat pandemi Covid-19 membuat Mitra transportasi online mulai beralih profesi. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Sepinya orderan akibat pandemi Covid-19 membuat Mitra Grabcar menyiasatinya dengan beralih profesi. Akun @dedemboo milik Nabila Bunyamin, yang merespon thread @GrabID soal peluncuran bantuan Grab terhadap UMKM, mengatakan jika pendapatan orang tuanya sebagai supir GrabCar turun hingga 70% selama pandemi.
“Sepi banget, (pendapatan) turun 70% lebih. Cicilan mobil belum ada info keringanan. Kalau misalnya order delivery makanan dikasih ke GrabCar, rasanya bakal membantu,” tukas akun tersebut.
Cuitan akun @dedemboo itu kemudian ditimpali oleh akun lain, @Bendda_, yang mengungkapkan jika orang tuanya yang berprofesi sebagai supir GrabCar terpaksa harus jualan masker demi mencari nafkah tambahan. “Papaku driver GrabCar dan selama pandemi sepi order. Jadi dia inisiatif bikin masker kain motif,” tukasnya.
Akun @hesbima yang dimiliki Hesbi Maulana semakin menunjukkan kondisi sulit para mitra GrabCar. Hesbi menerangkan jika dirinya terpaksa beralih menjadi penjual kopi robusta karena sepi order di kota asalnya, Pekalongan.
Sementara itu admin @GrabID membalas cuitan @hesbima tersebut dengan memberikan komentar pendek yang intinya mendoakan kesuksesan Hesbi. Kondisi kesulitan order ini tidak hanya terjadi selama pandemi saja. Sebuah akun bernama @Abdulholik1970, yang mengaku sebagai mitra GrabCar telah mengeluhkan kesulitan order sejak November 2019.
“@GrabID saya selaku mitra GrabCar kecewa dengan kondisi order di Jabotabek yang sepi. Apa yang salah sehingga hal ini terjadi," tulisnya pada 12 November 2019.
Fenomena kesulitan order yang dikeluhkan oleh mitra GrabCar terungkap dari penelitian oleh Centre for Strategic and International Studies (CSIS) dan Tenggara Strategics yang dirilis Grab belum lama ini menunjukkan bahwa mereka yang bergabung di ekosistem Grab, mulai dari mitra pengemudi, merchant dan agen Grab di 12 kota, telah mengalami peningkatan kualitas hidup dan inklusi keuangan.
“Sepi banget, (pendapatan) turun 70% lebih. Cicilan mobil belum ada info keringanan. Kalau misalnya order delivery makanan dikasih ke GrabCar, rasanya bakal membantu,” tukas akun tersebut.
Cuitan akun @dedemboo itu kemudian ditimpali oleh akun lain, @Bendda_, yang mengungkapkan jika orang tuanya yang berprofesi sebagai supir GrabCar terpaksa harus jualan masker demi mencari nafkah tambahan. “Papaku driver GrabCar dan selama pandemi sepi order. Jadi dia inisiatif bikin masker kain motif,” tukasnya.
Akun @hesbima yang dimiliki Hesbi Maulana semakin menunjukkan kondisi sulit para mitra GrabCar. Hesbi menerangkan jika dirinya terpaksa beralih menjadi penjual kopi robusta karena sepi order di kota asalnya, Pekalongan.
Sementara itu admin @GrabID membalas cuitan @hesbima tersebut dengan memberikan komentar pendek yang intinya mendoakan kesuksesan Hesbi. Kondisi kesulitan order ini tidak hanya terjadi selama pandemi saja. Sebuah akun bernama @Abdulholik1970, yang mengaku sebagai mitra GrabCar telah mengeluhkan kesulitan order sejak November 2019.
“@GrabID saya selaku mitra GrabCar kecewa dengan kondisi order di Jabotabek yang sepi. Apa yang salah sehingga hal ini terjadi," tulisnya pada 12 November 2019.
Fenomena kesulitan order yang dikeluhkan oleh mitra GrabCar terungkap dari penelitian oleh Centre for Strategic and International Studies (CSIS) dan Tenggara Strategics yang dirilis Grab belum lama ini menunjukkan bahwa mereka yang bergabung di ekosistem Grab, mulai dari mitra pengemudi, merchant dan agen Grab di 12 kota, telah mengalami peningkatan kualitas hidup dan inklusi keuangan.
Lihat Juga :