Kadin Ingin Sektor Kelautan dan Perikanan Jadi Penopang Ekonomi
Kamis, 02 Juli 2020 - 10:12 WIB
loading...
A
A
A
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) kuartal I/2020, ekspor dari budi daya perikanan komoditas tersebut sangat menjanjikan. Udang mendominasi ekspor dengan nilai mencapai USD466,24 juta (37,56%). Tuna-tongkol-cakalang (TTC) senilai USD176,63 juta (14,23%). Kemudian cumi-sotong-gurita senilai USD131,94 juta (10,63%), disusul rajungan-kepiting dengan nilai USD105,32 juta (8,48%) dan rumput laut dengan nilai USD53,75 juta (4,33%).
“Budi daya bagus untuk penciptaan lapangan kerja, meningkatkan taraf hidup petambak, dan menjaga kelestarian,” jelasnya. (Baca juga: Industri Penerbangan Diprediksi Baru Pulih Akhir 2022)
Kadin berharap, sektor kelautan dan perikanan dapat menjadi ujung tombak perekonomian nasional dalam masa pemulihan pasca-Covid-19. “Selama PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) berlangsung, aktivitas produksi perikanan tetap berjalan dengan memperhatikan protokol kesehatan dan ekspornya cukup baik,” kata Yugi.
Berdasarkan data BPS, volume ekspor Januari–Maret 2020 mencapai 295,13 ribu ton atau meningkat 10,96% bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019. Sementara itu nilai ekspor Indonesia selama Januari–Maret 2020 mencapai USD 1,24 miliar atau meningkat 9,82% bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019. Pada April 2020 volume ekspor tercatat mencapai 119,65 ribu ton atau meningkat 29,84% apabila dibandingkan dengan April 2019, dengan nilai ekspor perikanan mencapai USD 438,02 juta.
Meningkatnya produktivitas perikanan dan peningkatan ekspor itu merupakan andil dari adanya dukungan regulasi. Kadin menilai KKP berhasil melakukan gebrakan melalui reformasi perizinan dengan efektifnya Sistem Informasi Izin Layanan Cepat (Silat) berbasis online. Sistem yang dikelola Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (Ditjen PT) ini mampu memangkas pengurusan izin dari 14 hari menjadi satu jam saja.
“Budi daya bagus untuk penciptaan lapangan kerja, meningkatkan taraf hidup petambak, dan menjaga kelestarian,” jelasnya. (Baca juga: Industri Penerbangan Diprediksi Baru Pulih Akhir 2022)
Kadin berharap, sektor kelautan dan perikanan dapat menjadi ujung tombak perekonomian nasional dalam masa pemulihan pasca-Covid-19. “Selama PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) berlangsung, aktivitas produksi perikanan tetap berjalan dengan memperhatikan protokol kesehatan dan ekspornya cukup baik,” kata Yugi.
Berdasarkan data BPS, volume ekspor Januari–Maret 2020 mencapai 295,13 ribu ton atau meningkat 10,96% bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019. Sementara itu nilai ekspor Indonesia selama Januari–Maret 2020 mencapai USD 1,24 miliar atau meningkat 9,82% bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019. Pada April 2020 volume ekspor tercatat mencapai 119,65 ribu ton atau meningkat 29,84% apabila dibandingkan dengan April 2019, dengan nilai ekspor perikanan mencapai USD 438,02 juta.
Meningkatnya produktivitas perikanan dan peningkatan ekspor itu merupakan andil dari adanya dukungan regulasi. Kadin menilai KKP berhasil melakukan gebrakan melalui reformasi perizinan dengan efektifnya Sistem Informasi Izin Layanan Cepat (Silat) berbasis online. Sistem yang dikelola Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (Ditjen PT) ini mampu memangkas pengurusan izin dari 14 hari menjadi satu jam saja.
Lihat Juga :