Kejahatan Digital Mengintai, Konsumen Jangan Lengah Jaga Data Pribadi

Selasa, 20 September 2022 - 16:16 WIB
loading...
Kejahatan Digital Mengintai,...
Tingginya aktivitas digital turut membuka potensi buruk seperti tindakan penipuan dan pencurian akun. Ilustrasi foto/pexels/cup of couple
A A A
JAKARTA - Perkembangan industri teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang sedemikian pesat tak dimungkiri membuat bangsa ini semakin maju namun di sisi lain risikonya pun tak kalah besar.

Tidak hanya memberikan peluang dan keuntungan bagi penggunanya, teknologi digital juga turut membuka potensi baru ancaman kejahatan digital semisal penipuan serta pencurian data pribadi.

Untuk itu, konsumen pengguna internet alias warganet juga perlu hati-hati dan harus terus meningkatkan kecakapan digitalnya.

Dalam webinar bertema "Hati-Hati Jaga Privasi dan Data Pribadi di Ruang Digital" yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi, Kamis (15/9), Dosen Teknologi Informasi Politeknik Negeri Samarinda Mulyanto mengatakan, warganet harus mampu meningkatkan kecakapan khususnya terkait keamanan digital. Pasalnya, tingginya aktivitas digital turut membuka potensi buruk seperti tindakan penipuan dan pencurian akun.

Baca juga: Menkominfo: UU PDP Langkah Awal Wujudkan Pelindungan Data yang Ideal

Relawan TIK Kalimantan Timur itu pun lantas membeberkan sejumlah kiat yang dapat dilakukan. Antara lain waspada dan menjaga identitas dengan berhati-hati saat berbagi data pribadi, membuat akun dengan kata sandi yang kuat serta dilengkapi dengan two factor authentication (2FA).

“Waspada akan tautan tidak dikenal, jangan pernah memberikan one time password (OTP), hanya mengunduh aplikasi dari tempat yang resmi, serta mengenali dengan siapa kita sedang berkomunikasi,” ujarnya, dikutip Selasa (20/9/2022).

Baca juga: Cak Imin Ngaku Jadi Korban Bjorka, Ratusan Pesan Tak Dikenal Masuk ke WhatsApp-nya

Dia pun menekankan bahwa tidak ada yang aman 100% di dunia digital. “Seseorang bisa membuat akun bernama A tapi ternyata orangnya berbeda. Sehingga, yang bisa kita lakukan adalah mengurangi risikonya sedapat mungkin,” tandasnya dalam webinar yang ditujukan untuk komunitas masyarakat Kalimantan dan sekitarnya itu.

Kemudian, sambung dia, keamanan itu berbanding terbalik dengan kemudahan atau kenyamanan. Sehingga, konsumen harus mau sedikit repot demi mengamankan perangkat atau data-datanya.

“Memang agak sedikit ribet seperti pakai One Time Password (OTP) atau tools authentication akan sedikit repot, tapi hal itu akan membuat lebih waspada dan akan lebih aman di dunia digital," tandasnya.

Pada kesempatan yang sama, Relawan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Solo sekaligus Dosen Fakultas Hukum UNS Adriana Grahani Firdausy mengingatkan, data pribadi yang tidak terjaga dengan baik akan berpotensi mendatangkan keburukan bagi si pemilik.

Misalnya, ancaman kekerasan atau intimidasi, serta penyalahgunaan data ataupun pencemaran nama baik. Selain itu, konstitusi juga menjamin setiap orang sebagai pengendali atas data pribadinya.

Untuk dapat menjaga data pribadi, warganet diharapkan berhati-hati dalam mengunggah sesuatu di media sosial dan menghindari untuk berbagi identitas pribadi, memajang foto anak, serta alamat lengkap rumah.

Warganet juga harus memastikan dengan hanya membuka situs internet yang telah dilengkapi enkripsi SSL atau dengan alamat yang diawali https, menghindari wifi publik saat membuka aplikasi yang sifatnya rahasia, serta berhati-hati dengan ancaman phishing.

"Ada juga tips dan trik untuk memeriksa apakah alamat email sudah aman dari kebocoran data, salah satunya dengan aplikasi periksadata.com. Kalau ternyata ada email yang sudah tidak aman, maka segera ganti password,” saran dia.



Selain itu, untuk menjaga keamanan, gunakan juga alamat email yang berbeda-beda sesuai aktivitas. “Misalnya satu alamat email untuk pekerjaan, satu untuk transaksi penjualan online, dan satu lagi untuk email perbankan," urainya.

Programmer website dan juga Relawan TIK Tri Wiyatmo Sumaryawan menambahkan, salah satu upaya dalam meningkatkan keamanan digital yaitu warganet harus berhati-hati dalam mengunjungi tautan di internet dan jangan asal klik. Sebab, dampak yang bisa terjadi akibat salah mengunjungi suatu tautan ialah serangan malware.

Virus tersebut merupakan perangkat lunak yang dirancang untuk merusak sistem atau mencuri data pribadi. Menurut dia, situs yang paling rentan serangan virus misalnya website yang berisi konten pornografi.

Beberapa ciri gawai yang terindikasi terkena serangan malware di antaranya muncul aplikasi yang belum pernah diunduh sebelumnya, tidak berfungsi atau nge-hang secara teratur, baterai cepat terkuras, penggunaan data lebih meningkat, iklan pop-up muncul lebih sering, serta tiba-tiba datang tagihan via pesan singkat.

“Selain serangan virus, potensi kejahatan digital yang mengancam pencurian data pribadi juga bisa terjadi lewat modus phising dan scam,” ucapnya.

Dia menjelaskan, scam adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan skema penipuan bisnis untuk mengambil uang atau barang lainnya dari korban.

“Pelaku kejahatan scam biasanya menggunakan website palsu untuk mencuri informasi pribadi serta menyalahgunakannya untuk keuntungan finansial. Contohnya, link BRI palsu yang disebarkan untuk tujuan mendapatkan user name dan password pemilik akun aplikasi Brimo,” ungkapnya.

Dengan hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kementerian Kominfo diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif di era industri 4.0.
(ind)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
BTN Dukung Transaksi...
BTN Dukung Transaksi Digital Indonesia Coffee Expo 2026 lewat Aplikasi Bale
DSI Diminta Tak Kuasai...
DSI Diminta Tak Kuasai Perdagangan Sawit, Fokus ke Pengawasan Digital
MNC Bank Borong 5 Penghargaan...
MNC Bank Borong 5 Penghargaan Bergengsi di Infobank-Isentia Digital Brand Awards 2026
BSI dan Baznas Hadirkan...
BSI dan Baznas Hadirkan Layanan DAM Haji dan Kurban Digital
Melalui Teknologi Otonom,...
Melalui Teknologi Otonom, Registrasi Digital Siap Bantu Industri Event
ICC Unsoed 2026, Mahasiswa...
ICC Unsoed 2026, Mahasiswa Diingatkan Risiko Pinjol Ilegal hingga Pentingnya Literasi Digital
Promosikan Startup ke...
Promosikan Startup ke Dunia, Indonesia Gabung London Tech Week
Enam Tahun Penerjemahan,...
Enam Tahun Penerjemahan, Alkitab Bahasa Sunda Kini Hadir dalam Format Cetak dan Digital
AI Juru Selamat atau...
AI Juru Selamat atau Kepunahan Pekerja Industri Kreatif?
Rekomendasi
Cerita Davi, Mahasiswa...
Cerita Davi, Mahasiswa Kedokteran Unair yang Raih Medali Emas ONMIPA-PT 2026 Bidang Biologi
Tim Putri UBAYA dan...
Tim Putri UBAYA dan Tim Putra Perbanas Juara Campus League Basketball Season 1 2026
Forum ILC Jenewa, Delegasi...
Forum ILC Jenewa, Delegasi Indonesia Dorong Payung Hukum Global bagi Pekerja Digital
Berita Terkini
Asprindo Dorong Skema...
Asprindo Dorong Skema Hybrid Pengelolaan Blok Andaman
20 Negara Pengimpor...
20 Negara Pengimpor Terbesar Produk China, Indonesia Peringkat Berapa?
Industri Diajak Bergerak...
Industri Diajak Bergerak Cepat Adopsi Energi Surya
Migrasi Pertamax ke...
Migrasi Pertamax ke Pertalite, Subsidi BBM Terancam Jebol Rp19,5 Triliun
Komitmen Perbaikan Tata...
Komitmen Perbaikan Tata Kelola Pengadaan Energi, Pertamina Patra Niaga Gelar FGD
Rupiah Menguat dalam...
Rupiah Menguat dalam Sepekan, Simak Prediksi Pekan Depan
Infografis
Jangan Pinjamkan 9 Barang...
Jangan Pinjamkan 9 Barang Pribadi Ini ke Orang Lain Ya, Bahaya!
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved