Mengembalikan Kejayaan Daerah Penghasil Kakao Terbesar di Indonesia
Sabtu, 24 September 2022 - 13:26 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Indonesia Belum Punya Destinasi Wisata Cokelat, Ini Penyebabnya!
Persoalan lain adalah terkait harga jual kakao yang banyak dikeluhkan petani. Sebagai informasi, saat ini kakao di Pinrang dijual dengan harga Rp28-30 ribuan per kilogram.
Meski mengikuti standar global, harga tersebut ternyata masih lebih rendah dibandingkan harga kakao di Kolaka, Sulawesi Tenggara yang menyentuh Rp42.000 per kilogram.
Persoalan harga ini sebetulnya dapat diselesaikan bila petani kakao Pinrang dapat meningkatkan kualitas dari produk mereka sendiri. Tentunya dibutuhkan program pelatihan dan edukasi yang komprehensif untuk mencapai tujuan tersebut.
"Harga kakao itu memang dilihat dari sejumlah faktor seperti kualitas kadar air, lalu ada yang namanya binkon yang jadi pengukur kualitas. Nah kalau standar di Indonesia sendiri yang berlaku adalah di dalam 100 gram itu terdapat 115 biji kakao. Ketika misalnya dia melewati standar tersebut, itu baru ada klaim kualitas namanya. Kadar air pun begitu. Yang menjadi standar kita adalah 7-8%, jadi ketika petani jual di atas dari 8% nah itu akan mempengaruhi kualitas harga," jelas Agronomist dari Barry Calebaut Umar Jamaluddin.
Kuncinya, lanjut Umar, para petani dari sekarang harus diedukasi terkait treatment pasca panen karena pada tahap inilah kualitas biji kakao ditentukan.
Untuk kadar air misalnya, dapat ditekan bila proses pengeringan atau penjemuran dilakukan dengan baik dan benar. Tidak boleh nanggung dan tidak boleh terlalu lama karena dapat memicu timbulnya jamur.
"Dalam proses pengeringan itu terkadang masih ada petani yang tidak memisahkan antara biji dan plasenta. Itu juga jadi faktor penurunan harga, karena plasenta dapat merusak kualitas biji kakao, dan dihitung sebagai sampah. Jadi faktor-faktor itu yang perlu kita edukasi dalam proses pasca panen kepada petani," urainya.
Persoalan lain adalah terkait harga jual kakao yang banyak dikeluhkan petani. Sebagai informasi, saat ini kakao di Pinrang dijual dengan harga Rp28-30 ribuan per kilogram.
Meski mengikuti standar global, harga tersebut ternyata masih lebih rendah dibandingkan harga kakao di Kolaka, Sulawesi Tenggara yang menyentuh Rp42.000 per kilogram.
Persoalan harga ini sebetulnya dapat diselesaikan bila petani kakao Pinrang dapat meningkatkan kualitas dari produk mereka sendiri. Tentunya dibutuhkan program pelatihan dan edukasi yang komprehensif untuk mencapai tujuan tersebut.
"Harga kakao itu memang dilihat dari sejumlah faktor seperti kualitas kadar air, lalu ada yang namanya binkon yang jadi pengukur kualitas. Nah kalau standar di Indonesia sendiri yang berlaku adalah di dalam 100 gram itu terdapat 115 biji kakao. Ketika misalnya dia melewati standar tersebut, itu baru ada klaim kualitas namanya. Kadar air pun begitu. Yang menjadi standar kita adalah 7-8%, jadi ketika petani jual di atas dari 8% nah itu akan mempengaruhi kualitas harga," jelas Agronomist dari Barry Calebaut Umar Jamaluddin.
Kuncinya, lanjut Umar, para petani dari sekarang harus diedukasi terkait treatment pasca panen karena pada tahap inilah kualitas biji kakao ditentukan.
Untuk kadar air misalnya, dapat ditekan bila proses pengeringan atau penjemuran dilakukan dengan baik dan benar. Tidak boleh nanggung dan tidak boleh terlalu lama karena dapat memicu timbulnya jamur.
"Dalam proses pengeringan itu terkadang masih ada petani yang tidak memisahkan antara biji dan plasenta. Itu juga jadi faktor penurunan harga, karena plasenta dapat merusak kualitas biji kakao, dan dihitung sebagai sampah. Jadi faktor-faktor itu yang perlu kita edukasi dalam proses pasca panen kepada petani," urainya.
(ind)
Lihat Juga :