Mengungkap 5 Penyebab Perlambatan Ekonomi China
Rabu, 05 Oktober 2022 - 09:48 WIB
loading...
A
A
A
Tapi hal tersebut terjadi setelah dua bulan di mana manufaktur tidak berkembang. Dan itu menimbulkan pertanyaan, terutama sejak survei swasta menunjukkan bahwa aktivitas pabrik sebenarnya turun pada bulan September, dengan permintaan memukul output, pesanan baru dan lapangan kerja.
Permintaan di negara-negara seperti AS juga telah menyusut karena tingkat suku bunga yang lebih tinggi, inflasi dan perang di Ukraina. Para ahli sepakat bahwa Beijing dapat berbuat lebih banyak untuk merangsang ekonomi, tetapi tidak leluasa sampai kebijakan Zero-Covid berakhir.
"Tidak ada gunanya memompa uang ke dalam ekonomi, jika bisnis tidak dapat berkembang atau orang tidak dapat membelanjakan uangnya," kata Kepala ekonom Asia di S&P Global Ratings, Louis Kuijs.
2. Beijing Belum Berbuat Banyak
Beijing mulai bertindak, dimana pada bulan Agustus mengumumkan rencana 1 triliun yuan (USD203 miliar) untuk meningkatkan usaha kecil, infrastruktur dan real estate. Tetapi para pejabat dapat berbuat lebih banyak untuk memicu pengeluaran agar bisa mencapai target pertumbuhan dan menciptakan lapangan kerja.
Termasuk di antaranya lebih banyak berinvestasi di infrastruktur, meringankan persyaratan pinjaman bagi individu, pengembang properti dan pemerintah daerah, serta keringanan pajak untuk rumah tangga.
"Respon pemerintah terhadap pelemahan ekonomi cukup sederhana dibandingkan dengan apa yang telah kita lihat selama serangan pelemahan ekonomi sebelumnya," kata Kuijs.
3. Pasar Properti China Sedang Krisis
Lemahnya aktivitas real estate dan sentimen negatif di sektor perumahan tidak diragukan lagi memperlambat pertumbuhan.
Ini telah memukul ekonomi dengan keras karena properti dan industri lain berkontribusi besar, dimana menyumbang hingga sepertiga dari Produk Domestik Bruto (PDB) China.
"Ketika kepercayaan lemah di pasar perumahan, itu membuat orang merasa tidak yakin tentang situasi ekonomi secara keseluruhan," kata Kuijs.
Para pembeli rumah telah menolak untuk melakukan pembayaran hipotek pada bangunan yang belum selesai dan beberapa ragu rumah mereka akan pernah selesai. Permintaan untuk rumah baru juga mengalami penurunan dan itu telah mengurangi kebutuhan impor komoditas yang digunakan dalam konstruksi.
Terlepas dari upaya Beijing untuk menopang pasar real estat, harga rumah di puluhan kota telah menurun lebih dari 20% tahun ini. Sedangkan pengembang properti di bawah tekanan, analis mengatakan pihak berwenang mungkin harus berbuat lebih banyak untuk memulihkan kepercayaan di pasar real estat.
4. Perubahan Iklim Memperburuk Keadaan
Permintaan di negara-negara seperti AS juga telah menyusut karena tingkat suku bunga yang lebih tinggi, inflasi dan perang di Ukraina. Para ahli sepakat bahwa Beijing dapat berbuat lebih banyak untuk merangsang ekonomi, tetapi tidak leluasa sampai kebijakan Zero-Covid berakhir.
"Tidak ada gunanya memompa uang ke dalam ekonomi, jika bisnis tidak dapat berkembang atau orang tidak dapat membelanjakan uangnya," kata Kepala ekonom Asia di S&P Global Ratings, Louis Kuijs.
2. Beijing Belum Berbuat Banyak
Beijing mulai bertindak, dimana pada bulan Agustus mengumumkan rencana 1 triliun yuan (USD203 miliar) untuk meningkatkan usaha kecil, infrastruktur dan real estate. Tetapi para pejabat dapat berbuat lebih banyak untuk memicu pengeluaran agar bisa mencapai target pertumbuhan dan menciptakan lapangan kerja.
Termasuk di antaranya lebih banyak berinvestasi di infrastruktur, meringankan persyaratan pinjaman bagi individu, pengembang properti dan pemerintah daerah, serta keringanan pajak untuk rumah tangga.
"Respon pemerintah terhadap pelemahan ekonomi cukup sederhana dibandingkan dengan apa yang telah kita lihat selama serangan pelemahan ekonomi sebelumnya," kata Kuijs.
3. Pasar Properti China Sedang Krisis
Lemahnya aktivitas real estate dan sentimen negatif di sektor perumahan tidak diragukan lagi memperlambat pertumbuhan.
Ini telah memukul ekonomi dengan keras karena properti dan industri lain berkontribusi besar, dimana menyumbang hingga sepertiga dari Produk Domestik Bruto (PDB) China.
"Ketika kepercayaan lemah di pasar perumahan, itu membuat orang merasa tidak yakin tentang situasi ekonomi secara keseluruhan," kata Kuijs.
Para pembeli rumah telah menolak untuk melakukan pembayaran hipotek pada bangunan yang belum selesai dan beberapa ragu rumah mereka akan pernah selesai. Permintaan untuk rumah baru juga mengalami penurunan dan itu telah mengurangi kebutuhan impor komoditas yang digunakan dalam konstruksi.
Terlepas dari upaya Beijing untuk menopang pasar real estat, harga rumah di puluhan kota telah menurun lebih dari 20% tahun ini. Sedangkan pengembang properti di bawah tekanan, analis mengatakan pihak berwenang mungkin harus berbuat lebih banyak untuk memulihkan kepercayaan di pasar real estat.
4. Perubahan Iklim Memperburuk Keadaan
Lihat Juga :