Mengungkap Fakta-fakta Alternatif Eropa Jika Rusia Matikan Pasokan Gas Selamanya

Jum'at, 21 Oktober 2022 - 09:44 WIB
loading...
Mengungkap Fakta-fakta...
Ledakan pipa Nord Stream di bawah Laut Baltik bisa saja membuat aliran gas Rusia ke Eropa mati selamanya. Berikut fakta-fakta dan opsi yang bisa diambil Eropa dalam mengamankan kebutuhan energinya. Foto/Dok
A A A
LONDON - Ledakan pada pipa Nord Stream yang berada di bawah Laut Baltik telah memupus harapan bahwa aliran gas Rusia ke Jerman akan dilanjutkan dalam waktu dekat. Sejauh ini belum diketahui apa yang menjadi penyebab kerusakan pada pipa gas utama Rusia ke Eropa itu.

Baca Juga: Gas Rusia Berhenti Mengalir, Kroasia Jadi Gerbang Energi Eropa Timur

Nord Stream 1 telah menganggur sejak akhir Agustus 2022, lalu karena adanya pekerjaan pemeliharaan, hingga memicu kekhawatiran bahwa pemadaman pasokan gas Rusia ke Eropa bakal berkepanjangan.

Perbaikan Nord Stream 1 juga telah memutus pasokan gas ke beberapa negara Eropa seperti Bulgaria, Denmark, Finlandia, Belanda dan Polandia. Selain itu aliran pipa gas melalui pipa lain juga menyusut sejak Perang Rusia Ukraina pecah yang disebut Moskow sebagai 'operasi militer khusus'.

Baca Juga: Profil 4 Perusahaan India Pembeli Minyak Mentah Rusia

Berikut beberapa opsi-opsi yang bisa diambil Eropa dalam mengamankan kebutuhan energi.

Apa Rute Utama Gas Rusia ke Eropa?

Rusia biasanya memasok sekitar 40% gas alam ke Eropa, yang sebagian besar dikirimkan melalui pipa. Pengiriman tahun lalu tercatat sekitar 155 miliar meter kubik (bcm).

Melalui jalur Ukraina, gas Rusia pergi dengan tujuan utama yakni Austria, Italia, Slovakia dan negara-negara Eropa timur lainnya. Operator sistem transmisi Ukraina telah menyatakan force majeure di pipa titik masuk Sokhranovka yang berjalan melalui wilayah yang diduduki Rusia di timur negara itu.

Tetapi sekitar 42 juta meter kubik (mcm) per hari masih dipompa melalui Ukraina melalui rute Sudzha.

Sementara itu ada juga rute alternatif ke Eropa yang tidak melalui Ukraina, termasuk pipa Yamal-Eropa yang melintasi Belarus dan Polandia hingga ke Jerman. Pipa Yamal-Eropa memiliki kapasitas 33 bcm, sekitar seperenam dari ekspor gas Rusia ke Eropa.

Aliran dari pipa gas ini telah dibalik untuk mengalir ke timur antara Polandia dan Jerman sejak awal tahun ini dan kapasitasnya terus menurun.

Moskow sendiri telah menjatuhkan sanksi pada pemilik bagian Polandia dari pipa Yamal-Eropa. Namun, Polandia dapat mengelola tanpa membalikkan aliran gas pada pipa Yamal, kata menteri iklimnya.

Diketahui pipa Nord Stream 1 dan Nord Stream 2 yang dibangun untuk memasok gas Rusia ke Eropa melalui Jerman, mengalami kerusakan akibat ledakan, dimana perbaikannya membutuhkan waktu yang lebih lama. Sebelumnya Jerman menghentikan sertifikasi pipa gas Nord Stream 2 dari Rusia karena perang Ukraina sehingga belum pernah beroperasi.

Presiden Rusia, Vladimir Putin mengusulkan pada bulan Oktober untuk membangun pusat gas di Turki sebagai rute pasokan alternatif, sebuah rencana yang didukung oleh Presiden Turki Tayyip Erdogan.

Rusia juga mengatakan, dapat memompa gas melalui jalur Nord Stream 2 yang tidak ada kerusakan, tetapi Jerman belum menyetujui hal ini.

Pemasok Alternatif Eropa?

Beberapa negara memiliki opsi pasokan alternatif dan jaringan gas yang terhubung ke Eropa sehingga pasokan dapat dibagi, meskipun pasar gas global sangat ketat bahkan sebelum perang Ukraina.

Jerman, sebagai konsumen gas Rusia terbesar di Eropa dapat mengimpor gas dari Inggris, Denmark, Norwegia, dan Belanda melalui pipa.

Norwegia yang menjadi pemasok gas terbesar kedua untuk Eropa di belakang Rusia, telah meningkatkan produksi untuk membantu Uni Eropa menuju targetnya mengakhiri ketergantungan pada bahan bakar fosil Rusia pada tahun 2027.

Centrica Inggris telah menandatangani kesepakatan dengan Equinor Norwegia untuk pasokan tambahan selama tiga musim dingin ke depan. Inggris sudah tidak lagi bergantung pada gas Rusia dan juga dapat mengekspor ke Eropa melalui jaringan pipa.

Eropa bagian Selatan dapat menerima gas Azeri melalui Pipa Trans Adriatik ke Italia dan Pipa Gas Alam Trans-Anatolia (TANAP) melalui Turki. Impor gas alam cair (LNG) ke Eropa telah meningkat dari produsen seperti Amerika Serikat (AS), Qatar dan negara-negara lain.

Tetapi gangguan yang tidak direncanakan di negara-negara tersebut terkait dengan kapasitas produksi, insiden, dan bahaya iklim dapat menekan pasokan.

Terminal LNG Eropa juga memiliki kapasitas terbatas untuk impor tambahan dan penambahan kapal yang membawa LNG tidak dapat mengamankan slot untuk menurunkan kargo mereka. Kapal-kapal itu mungkin mulai mencari pelabuhan alternatif di luar Eropa jika simpanan tetap ada.

Jerman termasuk di antara beberapa negara yang ingin membangun terminal LNG baru. Ekonomi terbesar di Eropa itu berencana membangun lima.

Polandia, yang bergantung pada Rusia untuk sekitar 50% dari konsumsi gasnya atau sekitar 10 bcm, mengatakan dapat memperoleh gas melalui dua linknya terkait dengan Jerman.

Pipa Baltik dari Norwegia ke Polandia melalui Denmark mulai beroperasi pada 1 Oktober, meskipun awalnya diisi dengan gas dari Jerman. Jaringan ini memiliki kapasitas hingga 10 bcm/tahun.

Pembukaan terminal Denmark untuk gas Norwegia yang akan dipompa melalui pipa Pipa Baltik yang baru ke Polandia telah ditunda hampir dua minggu hingga 1 November.

Polandia juga membangun hubungan gas baru dengan Slovakia pada bulan Agustus dan meminta Komisi di akhir September agar menyediakan dana untuk pipa gas baru yang menghubungkan Republik Ceko ke jaringan dan terminal LNG-nya.

Spanyol dan Jerman telah mendorong pembangunan koneksi gas baru melalui pegunungan Pyrenees, tetapi Prancis menentang inisiatif tersebut. Mereka dengan mengatakan terminal LNG baru, yang dapat dibuat mengapung akan menjadi pilihan yang lebih cepat dan lebih murah daripada pipa baru.

Pilihan Lain Untuk Mengatasi Krisis Pasokan Gas?

Beberapa negara dapat berusaha mengisi kesenjangan dalam pasokan energi dengan beralih ke impor listrik melalui interkoneksi dari tetangga mereka. Atau pilihan lain dengan meningkatkan pembangkit listrik dari nuklir, energi terbarukan, tenaga air atau batu bara.

Ketersediaan nuklir menyusut di Belgia, Inggris, Prancis, dan Jerman ketika pembangkit menghadapi pemadaman seiring bertambahnya usia, dinonaktifkan atau dihapus. Tingkat hidro telah turun sepanjang musim panas ini karena curah hujan yang rendah dan gelombang panas.

Eropa sendiri telah mencoba beralih dari batu bara untuk memenuhi target iklim, tetapi beberapa pembangkit telah dihidupkan kembali untuk mengamankan energi pada musim dingin ini dan sebagai upaya mengekang kenaikan harga energi.

Para menteri energi sepakat bahwa semua negara UE harus secara sukarela memotong penggunaan gas mereka sebesar 15% dari Agustus hingga Maret 2023, dibandingkan dengan penggunaan tahunan rata-rata mereka selama 2017-2021 dan memperkenalkan target di seluruh UE untuk mengisi ulang penyimpanan gas.

Negara-negara di seluruh Eropa juga sedang mempersiapkan kemungkinan kekurangan daya, pemadaman listrik, dan penjatahan energi. Prancis meluncurkan rencana penghematan energi nasional untuk mengurangi konsumsi energi.

Sedangkan Inggris telah mengeluarkan peringatan soal kemungkinan adanya pemadaman listrik yang direncanakan selama tiga jam untuk rumah dan sektor bisnis sebagai upaya terakhir.

Komisi Eropa telah mengusulkan beberapa paket yang berisi langkah-langkah darurat untuk mengatasi krisis energi, termasuk bagi negara-negara anggota untuk mulai bersama-sama membeli gas.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Apes, Uni Eropa Terancam...
Apes, Uni Eropa Terancam Kehilangan Pasokan Gas AS usai Tinggalkan Rusia
Genderang Perang Dagang,...
Genderang Perang Dagang, Trump Ancam Tarif 100% yang Berani Pajaki Google, Meta, dan Apple!
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Badai PHK Guncang Inggris...
Badai PHK Guncang Inggris di Tengah Perang AS-Iran, Tembus Rekor Tertinggi 5 Tahun
Rubel Jadi Mata Uang...
Rubel Jadi Mata Uang Terkuat di Dunia, Sanksi Barat ke Rusia Tak Mempan
Eropa Diam-diam Borong...
Eropa Diam-diam Borong Gas Rusia hingga Tembus Rekor, Terjebak Skenario Krisis Energi?
Rusia Balas Dendam!...
Rusia Balas Dendam! Rudal dan Drone Gempur Ukraina, 11 Orang Tewas
Siapa Vadym Yermolaiev?...
Siapa Vadym Yermolaiev? Taipan Ukraina yang Terluka dalam Ledakan di Monako
Italia Blokir Bantuan...
Italia Blokir Bantuan Militer NATO kepada Ukraina Senilai Rp1.436 Triliun, Sinyal Kemenangan bagi Rusia?
Rekomendasi
Roy Suryo Ajukan Praperadilan...
Roy Suryo Ajukan Praperadilan di PN Jaksel, Kubu Jokowi Sebut Mengulur Waktu
Jelajahi Dataran Tinggi...
Jelajahi Dataran Tinggi dan Perkotaan, BYD M6 DM Media Challenge Buktikan Efisiensi Teknologi Dual Mode
RCTI Rilis Sinetron...
RCTI Rilis Sinetron 'Terlanjur Mencintaimu', Chicco Jerikho dan Marsha Aruan Siap Bikin Baper
Berita Terkini
Hadir Kembali, Mandiri...
Hadir Kembali, Mandiri Donor Darah Gerakkan 280 Pendonor di 12 Region: Satu Langkah Darimu, Sejuta Harapan Untuknya
Tak Lagi Sekadar Hiburan,...
Tak Lagi Sekadar Hiburan, Industri Entertainment Kini Jadi Ladang Investasi Baru
Perkuat Kontribusi ke...
Perkuat Kontribusi ke Pembangunan Sultra, Setoran Pajak CNI Paling Besar
Nekat Melenceng dari...
Nekat Melenceng dari Jalur Bakal Disikat! Iran Ultimatum Keras soal Selat Hormuz
Satu Sendok, Sejuta...
Satu Sendok, Sejuta Mitos: Sasa Luruskan Fakta MSG yang Benar
TAP Untuk Negeri Perkuat...
TAP Untuk Negeri Perkuat Produktivitas Petani Sawit Dukung Program B50
Infografis
7 Fakta Pulau Pedofil...
7 Fakta Pulau Pedofil Jeffrey Epstein: Kuil Misterius hingga Dugaan Kejahatan Seksual
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved