Imbas Wabah Covid-19, Industri Sawit Lakukan Efisiensi Maksimal

Selasa, 14 April 2020 - 08:16 WIB
loading...
Imbas Wabah Covid-19,...
Imbas wabah Covid-19 telah menjalar ke berbagai sektor industri, termasuk kelapa sawit. Kini industri sawit harus melakukan efisiensi secara maksimal. Foto/Istimewa
A A A
JAKARTA - Imbas wabah Covid-19 telah menjalar ke berbagai sektor industri, termasuk kelapa sawit. Untuk dapat bertahan dalam kondisi seperti ini, industri sawit harus melakukan efisiensi secara maksimal.

"Selain terus menjalankan protokol melawan Covid-19 di semua lini aktivitas, untuk dapat bertahan tentu saja melakukan efisiensi besar-besaran, pengaturan kembali rencana cash flow termasuk merealokasi peruntukan dengan merevisi prioritas budget, menyiapkan beberapa alternatif skenario krisis (semacam stress test) dan solusinya. Meninjau ulang mana yang tetap harus berjalan dan mana yg bisa ditunda," ujar Sekjen Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kanya Lakshmi Sidarta di Jakarta kemarin.

Kanya mengatakan, meski industri sawit mengalami imbas yang cukup besar akibat wabah Covid-19, dirinya memastikan belum ada penutupan pabrik sampai saat ini. Namun, di lapangan terjadi kesulitan cash flow dan jika tangki stok sudah dirasa tidak menampung, maka pembelian buah sawit dari luar kemungkinan dikurangi.

"Kelihatannya 1-2 bulan ke depan bisa saja sudah ada yang mulai mengurangi pembelian buah dari luar dan hanya mengolah buah internal atau bahkan mengurangi jam operasi pabrik," tegasnya.

Menurut Kanya, meski dalam masa sulit, industri sawit belum ada rencana untuk melakukan PHK karyawan. Bahkan Gapki sedang memperjuangkan agar para pekerja/karyawan baik yang di kebun maupun yang di pabrik mendapatkan tunjangan tambahan untuk kelompok yang dipandang lemah dan rentan terhadap krisis.

"PHK adalah pilihan terakhir, saya tidak mendengar dari teman-teman sesama industri yang berencana melakukan PHK," tegasnya.

Dia berharap dengan kondisi ini pemerintah memberikan insentif bagi industri sawit. Menurut Kanya, insentif yang dikeluarkan pemerintah untuk meringankan beban karyawan masih kurang merata.

Dia mencontohkan antara lain tunjangan PPh21 perusahaan yang biasanya disetorkan kepada negara, disarankan untuk dibayarkan kepada karyawan pabrik saja. Sementara perusahaan sawit bentuk manajemennya beragam, ada yang satu atap, ada yang terpisah antara kebun dan pabrik.

"Jadi jika hal ini diberlakukan, maka akan terdapat pembedaan perlakuan terhadap sesama karyawan dalam satu grup perusahaan. Justru hal ini dapat memicu permasalahan baru di lapangan," katanya.

Selain itu, lanjut dia, insentif yang diharapkan lagi adalah bantuan strategi dan solusi mengatasi berkurang drastisnya ekspor sawit. Hal ini karena pasar global sedang merata terkena pandemi corona yang berakibat terhadap penurunan permintaan.

"Tetapi kan industri ini jangan sampai mati atau berhenti, lebih dari 70% produksi sawit Indonesia selama ini adalah untuk diekspor. Oleh karenanya, perlu diberikan kemudahan-kemudahan pelaksanaan penyerapan lebih besar di dalam negeri selain untuk biodiesel, tapi juga untuk energi terbarukan yang lain, misalnya pembangkit listrik yang saat ini belum dapat dijalankan, antara lain adanya birokrasi yang belum tuntas," papar Kanya.

Sementara untuk ekspor, selain semakin terbatasnya armada, peningkatan biaya transportasi dan ekspedisi kapal yang melonjak signifikan agar diturunkan atau mendapat kompensasi atas perbedaan antara sebelum dan pada masa wabah ini, terutama untuk pengangkutan bahan kebutuhan pokok. (Rakhmat Baihaqi)
(yuds)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Jadi Andalan Saat Krisis,...
Jadi Andalan Saat Krisis, APBN Harus Dipastikan Tetap Sehat
Industri Kecil Menengah...
Industri Kecil Menengah Sektor Mamin Tetap Tumbuh di Masa Pandemi
Terungkap! Turis Asing...
Terungkap! Turis Asing Timor Leste Paling Banyak Datang ke RI
Pemerintah Patok 6,1...
Pemerintah Patok 6,1 Juta UMKM Go Digital
Cegah Varian Delta India...
Cegah Varian Delta India Ngamuk di RI, Jokowi Diminta Lockdown Besar-besaran
Waspada! Menular Sangat...
Waspada! Menular Sangat Cepat, Mutasi Virus Corona Serang Kudus & Madura
Industri Kecil dan Menengah...
Industri Kecil dan Menengah Berpeluang Besar Tumbuh di Klaten
Pulih dari Covid-19,...
Pulih dari Covid-19, PM Singapura Diizinkan Kembali Bekerja
PM Singapura Positif...
PM Singapura Positif Covid-19 Usai Lawatan ke Afrika
Rekomendasi
5 Fakta Krisis Timur...
5 Fakta Krisis Timur Tengah Membara, Apache Ditembak Jatuh hingga 3 Negara Arab Dirudal Iran
Ciptakan Krisis Energi...
Ciptakan Krisis Energi di Rusia, Drone Ukraina Serang Krimea dan Kilang Minyak Utama
Ketum All Cipayung Nusantara...
Ketum All Cipayung Nusantara Berharap Sidang Kasus Ijazah Jokowi Digelar Terbuka
Berita Terkini
Skenario Terburuk Pasar...
Skenario Terburuk Pasar Energi 2026: Exxon Peringatkan Harga Minyak Dunia Bakal Tembus USD160/Barel
Otto Media Grup Kolaborasi...
Otto Media Grup Kolaborasi Sadewi Essential Care, Perkuat Integrasi Brand-Rantai Pasok
Binus School dan Damai...
Binus School dan Damai Indah Golf Sinergi Perkuat Pengembangan Soft Skill Siswa
Permintaan Minyak Dunia...
Permintaan Minyak Dunia Diramal Turun 1,1 Juta Barel per Hari di 2026
Centrepark Perkuat Penerapan...
Centrepark Perkuat Penerapan Parkir Cashless di Properti Komersial Indonesia
Industri Aset Digital...
Industri Aset Digital Dorong Penguatan Ekosistem Hospitality Bandara
Infografis
11 Bandara Papua Ditutup...
11 Bandara Papua Ditutup Sementara Imbas Penembakan Pesawat Smart Air
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved