Pensiunkan PLTU Batu Bara, Sri Mulyani Beberkan Bantuan dari Biden Rp311 Triliun
Kamis, 17 November 2022 - 18:30 WIB
loading...
Presiden Joko Widodo berjabat tangan dengan Presiden AS Joe Biden saat pertemuan bilateral di sela rangkaian kegiatan KTT G20 Indonesia di Nusa Dua, Bali, Senin (14/11/2022). FOTO/ANTARA/Nugroho Gumay
A
A
A
NUSA DUA - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan program transisi energi memperoleh dukungan dari Amerika Serikat (AS) hingga lembaga dunia. Presiden AS Joe Biden bersama negara G7 lainnya memberntuk Just Energy Transition Partnership (JETP) untuk mendanai hingga USD20 miliar atau sekitar Rp311 triliun mendukung transisi energi di Indonesia.
"Kita mendapatkan pendanaan dari Climate Investment Fund USD500 juta, JETP USD20 miliar yang berasal dari berbagai sumber yang bisa digunakan atau didedikasikan dalam rangka untuk transisi energi. Ini semua satu paket," kata dia saat konferensi pers usai penutupan KTT G20, di Nusa Dua, Bali, Rabu(16/11/2022).
Baca Juga: Joe Biden Tinggalkan Bali Naik Air Force One
Dia mengungkapkan berbagai langkah diperlukan untuk mencapai energi berkelanjutan. Maka itu, salah satunya adalah facing out dari bahan bakar fosil atau batu bara meskipun beralih ke energi bersih tidak semudah membalikkan telapak tangan.
"Karena sebagaimana diketahui, di G20 ada negara seperti Saudi, bahkan kita mengundang Uni Emirat Arab (UEA) yang sangat kaya akan minyak," ungkapnya.
"Kita mendapatkan pendanaan dari Climate Investment Fund USD500 juta, JETP USD20 miliar yang berasal dari berbagai sumber yang bisa digunakan atau didedikasikan dalam rangka untuk transisi energi. Ini semua satu paket," kata dia saat konferensi pers usai penutupan KTT G20, di Nusa Dua, Bali, Rabu(16/11/2022).
Baca Juga: Joe Biden Tinggalkan Bali Naik Air Force One
Dia mengungkapkan berbagai langkah diperlukan untuk mencapai energi berkelanjutan. Maka itu, salah satunya adalah facing out dari bahan bakar fosil atau batu bara meskipun beralih ke energi bersih tidak semudah membalikkan telapak tangan.
"Karena sebagaimana diketahui, di G20 ada negara seperti Saudi, bahkan kita mengundang Uni Emirat Arab (UEA) yang sangat kaya akan minyak," ungkapnya.
Lihat Juga :