Profil Low Tuck Kwong, Orang Terkaya Kedua di Indonesia Berharta Rp187,8 Triliun

Jum'at, 09 Desember 2022 - 19:58 WIB
loading...
A A A
Truk pengangkut trailer ganda, yag masing-masing lebih besar dari paus biru dewasa, membawa 230 ton batu bara sejauh 69 kilometer dari tambang ke Pelabuhan Senyiur sepanjang waktu kecuali dua hari dalam setahun, Hari Kemerdekaan Indonesia dan Idul Fitri.

Saat ini ada 150 truk dan jumlah itu akan berlipat ganda untuk mengimbangi target perusahaan untuk meningkatkan produksi menjadi 60 juta ton per tahun pada tahun 2026.

Bayan diharuskan memberikan emas hitamnya kepada pelanggan domestik —dimana ada kewajiban untuk memasok utilitas listrik negara— untuk selanjutnya ke internasional. Dalam sembilan bulan pertama tahun 2022, seperempat batubara Bayan masuk ke pasar Indonesia, sementara pembeli internasional utama di antaranya termasuk Filipina (30%), Korea Selatan (15%), India (9%), Bangladesh (7%) dan Malaysia (5%).

Sulit untuk melebih-lebihkan pentingnya batu bara bagi Indonesia. Ini adalah pengekspor batubara termal terbesar di dunia, yang diperkirakan akan menghasilkan lebih dari USD91 miliar tahun ini. Dan itu masih merupakan sumber daya terbesar bagi Indonesia, terhitung 38% dari energi yang dihasilkan pada tahun 2021, berada di depan minyak bumi dan gas alam sedangkan energi terbarukan hanya 12%.

Ada banyak kandungan batu bara yang masih tersimpan di bawah tanah, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah memperkirakan bahwa dengan produksi domestik tahunan rata-rata 600 juta ton, cadangan batubara Indonesia yang ada dapat bertahan lebih dari 60 tahun.

Sepak Terjang

Selama 25 tahun, Low yang merupkan kelahiran Singapura telah melihat banyak pasang surut dalam apa yang disebutnya sebagai "bisnis yang sulit". Ayahnya bermigrasi ke Singapura dari Guangzhou di China selatan ketika dia berusia tiga tahun untuk memulai sebuah perusahaan konstruksi sipil, Sum Cheong.

Ketika Low berusia 14 tahun, dia mulai membantu ayahnya dalam membangun proyek sepulang sekolah. Sum Cheong akhirnya menjadi perusahaan yang sukses di Singapura dan Malaysia.

Tetapi alih-alih berencana untuk mengambil alih, Low ingin pergi sendiri, di tempat yang lebih besar dan melihat peluang di Indonesia. Di mana pada saat itu hanya sedikit orang dari Singapura yang berbisnis.

Pada tahun 1973 —pada usia 25 tahun— ia mendapatkan proyek pertamanya, melakukan pekerjaan dasar untuk sebuah pabrik es krim di Ancol, di pantai Jakarta. Low mengatakan, dia adalah kontraktor pertama di Indonesia yang menggunakan palu diesel untuk tiang pancang, yang mempercepat pekerjaan.

Saat menjalankan pekerjaan itu, Low mendapatkan terobosan besar. Dia mengaku sangat beruntung karena bertemu Liem Sioe Liong, pendiri Salim Group dan teman mendiang Presiden Soeharto. Liem kemudian menjadi pengusaha terkaya Indonesia sebagai pemilik pabrik tepung terigu Bogasari di dekat pabrik es krim.

"Dia melihat kami membawa tumpukan, menghentikan kami dan berbicara dengan saya. Saya mengatakan kepadanya bahwa saya tidak bisa berbicara bahasa Indonesia, dan dia memberi saya kartu namanya. Ia berbicara kepada saya dalam bahasa Mandarin dan meminta saya untuk menemuinya nanti," kata Low.

Hal ini nantinya membuat Low bekerja dengan Liem, yang meninggal pada tahun 2012, dan putra bungsunya Anthoni yang berada pada posisi No. 5 dalam daftar 50 Orang Terkaya di Indonesia. "Keduanya banyak membantu kami," kata Low.

Low Tuck Kwong juga bekerja sama dengan Jaya Steel —anak perusahaan Pembangunan Jaya, perusahaan patungan antara pemerintah provinsi Jakarta dan pengusaha lokal termasuk mendiang taipan properti Ciputra— untuk mendirikan Jaya Sumpiles Indonesia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Eksodus Miliarder: Mengapa...
Eksodus Miliarder: Mengapa Mark Zuckerberg hingga Orang Kaya Inggris Kompak Kabur?
Kontrak Batu Bara Baru...
Kontrak Batu Bara Baru 144 Juta Ton, ESDM Minta PLN Percepat Pengiriman ke PLTU
Pengawasan DMO Diperketat,...
Pengawasan DMO Diperketat, PLN Didorong Kebut Kontrak Pasokan Batu Bara
Mitigasi Risiko Blackout,...
Mitigasi Risiko Blackout, Diversifikasi Energi Jadi Strategi Ketahanan Listrik
Indonesia Negara Kaya...
Indonesia Negara Kaya Batu Bara, Mengapa Justru Impor dari AS?
Cegah Pemadaman Listrik...
Cegah Pemadaman Listrik Bergilir, PLTU Bakal Dimodif Bisa Pakai Batu Bara Kalori Rendah
Febrie Adriansyah Mundur...
Febrie Adriansyah Mundur di Tengah Penyelidikan Kasus Dugaan Korupsi Batu Bara-Asabri
Pengamat: Blackout Sumatera...
Pengamat: Blackout Sumatera Belum Tentu Dipicu karena Pengadaan Batu Bara
Polri Harus Bongkar...
Polri Harus Bongkar Aktor Intelektual dan Korporasi Dugaan Korupsi Batu Bara
Rekomendasi
Eks Jampidsus Jadi Tersangka,...
Eks Jampidsus Jadi Tersangka, Said Didu Minta Febrie Adriansyah Ungkap Semua Pihak yang Terlibat
10 Danau Terjernih di...
10 Danau Terjernih di Dunia, Nomor 7 dari Indonesia
FIP Bronze Banten 2026...
FIP Bronze Banten 2026 Hadirkan Persaingan Atlet Padel dari 30 Negara
Berita Terkini
Mengintegrasikan AI...
Mengintegrasikan AI Demi Mewujudkan Ekosistem Investasi Mass Market
UE Putar Haluan Kembali...
UE Putar Haluan Kembali ke Pelukan Rusia, Rogoh Dana Raksasa Rp123 Triliun demi LNG
Harga MinyaKita Tembus...
Harga MinyaKita Tembus Rp16.000 per Liter di Atas HET, Apa Sebabnya?
Kimia Farma Siapkan...
Kimia Farma Siapkan Rantai Layanan Hulu-Hilir Percepat Penanggulangan TB
Esgin dan Agraus Resources...
Esgin dan Agraus Resources Sinergi Garap Potensi Investasi Hijau dan Ekonomi Karbon
Kasus Hukum Febrie Momentum...
Kasus Hukum Febrie Momentum Audit Menyeluruh Tata Kelola Sawit Sitaan Negara
Infografis
Ranking FIFA Terbaru:...
Ranking FIFA Terbaru: Argentina Gusur Spanyol di Puncak, Indonesia Meroket 4 Tingkat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved