Kehilangan Pasokan Gas Rusia Memaksa Jerman Merogoh Kocek Rp 7.258 Triliun

Minggu, 18 Desember 2022 - 06:20 WIB
loading...
A A A
Ditambahka juga bahwa LNG dan terminal yang diperlukan untuk mengimpornya adalah bagian penting dari hal itu. Ketahanan yang lebih mahal memang akan menyakitkan bagi ekonomi yang sudah diperkirakan akan menyusut paling banyak di antara negara-negara G7 tahun depan, menurut Dana Moneter Internasional (IMF).

Tagihan impor energi Jerman diproyeksi bakal tumbuh sebesar 124 miliar euro tahun ini dan berikutnya naik dari pertumbuhan 7 miliar untuk tahun 2020 dan 2021, menurut data yang diberikan oleh Kiel Institute. Kondisi ini menghadirkan tantangan besar bagi industri dengan kebutuhan energi intens di negara itu.

Sektor bahan kimia di Jerman menjadi yang paling terpapar dari kenaikan biaya listrik, hingga diperkirakan mempengaruhi produksi yang akan turun 8,5% pada tahun 2022, menurut asosiasi industri VCI. Mereka juga memperingatkan, terjadinya "kerusakan struktural besar dalam lanskap industri Jerman".

Mendekati Pengeluaran Covid

Dana sebesar 440 miliar euro atau setara Rp7.258 triliun (Kurs Rp 16.496 per euro) yang dialokasikan untuk memerangi krisis energi sudah mendekati sekitar 480 miliar euro yang menurut IW telah dihabiskan Jerman sejak 2020 untuk melindungi ekonominya dari dampak pandemi COVID-19.

Uang itu termasuk empat paket bantuan senilai 295 miliar euro, termasuk bailout 51,5 miliar euro dari perusahaan listrik Uniper (UN01.DE) dan paket penyelamatan 14 miliar untuk Sefe, yang sebelumnya dikenal sebagai Gazprom Germania.

Lalu likuiditas hingga 100 miliar untuk utilitas agar mengamankan penjualan mereka dari default; dan sekitar 10 miliar untuk infrastruktur dalam menopang impor LNG.

Jumlah tersebut juga termasuk komitmen yang sebelumnya tidak dilaporkan sebesar 52,2 miliar euro oleh pemberi pinjaman negara KfW (KFW. UL) untuk membantu utilitas dan pedagang mengisi penyimpanan gas, membeli batu bara, mengganti sumber pengadaan gas dan menutupi beberapa margin call, menurut data KfW yang ditinjau oleh Reuters.

Terlepas dari upaya ini, ada sedikit kepastian tentang bagaimana negara itu dapat menggantikan pasokan gas Rusia. Tercatat Jerman mengimpor sekitar 58 miliar meter kubik (bcm) gas dari Rusia tahun lalu, menurut data dari Eurostat dan asosiasi industri Jerman BDEW, mewakili sekitar 17% dari total konsumsi energinya.

Jerman menginginkan energi terbarukan menyumbang setidaknya 80% dari produksi listrik pada tahun 2030, naik dari 42% pada tahun 2021. Namun pada tingkat ekspansi baru-baru ini, tetap menjadi tujuan yang masih jauh untuk dicapai.

Jerman hanya memasang 5,6 gigawatt (GW) kapasitas surya dan 1,7 GW kapasitas angin dari darat pada 2021. Untuk mencapai tujuan 80%, instalasi angin baru perlu ditingkatkan sekitar enam kali lipat hingga 10 GW per tahun, menurut laporan Oktober oleh pemerintah federal dan negara bagian Jerman. Instalasi tenaga surya harus empat kali lipat setiap tahun menjadi 22 GW.

Peneliti kebijakan senior dari European Council on Foreign Relations (ECFR), Susi Dennison mengatakan, bahwa sementara Jerman telah melakukan "pekerjaan plester yang baik" dengan mengganti volume gas dengan daya dari pasar spot. Di saat yang sama Jerman telah kehilangan posisinya sebagai pemimpin atau pelopor dalam energi bersih.

"Bagi saya apa yang benar-benar tidak ada dalam strategi Jerman adalah perhatian yang mirip dengan peningkatan energi terbarukan dengan cepat. Bahwa sekarang adalah waktu yang tepat untuk berinvestasi dalam infrastruktur hidrogen dan tenaga angin, untuk menggantikan gas," ungkapnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rupiah Keok Lawan Dolar...
Rupiah Keok Lawan Dolar AS, Hari Ini Berakhir Sentuh Rp17.839
Ekonomi Singapura Melesat...
Ekonomi Singapura Melesat 6% Berkat Demam AI, Mengapa Masih Kirim Sinyal Bahaya?
Eropa Diam-diam Borong...
Eropa Diam-diam Borong Gas Rusia hingga Tembus Rekor, Terjebak Skenario Krisis Energi?
Rusia Tebar Diskon Gas...
Rusia Tebar Diskon Gas ke China Sampai 2029, Lebih Murah dari Eropa
Eropa Terpecah! Italia...
Eropa Terpecah! Italia Desak Blokir Minyak dan Gas Rusia Dibuka
Dalih Iran Soal Penutupan...
Dalih Iran Soal Penutupan Ketat di Selat Hormuz, Stabilitas Harga Energi Masih Jauh
Inggris, Prancis, Jerman,...
Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia Siap Cabut Sanksi Teheran setelah Kesepakatan Damai AS-Iran
Jenderal Jerman Ancam...
Jenderal Jerman Ancam Serang Dahsyat Rusia: Kami Siap Bertempur Malam Ini
Jamu Presiden Steinmeier,...
Jamu Presiden Steinmeier, Prabowo Sebut Jerman Jadi Inspirasi Inovasi Teknologi
Rekomendasi
Drama di Akhir Laga,...
Drama di Akhir Laga, Ghana Tekuk Panama 1-0
Hotman Paris Sindir...
Hotman Paris Sindir Mantan yang Pamer Pasangan Baru, Sindir Sarwendah?
Slopaganda: Propaganda...
Slopaganda: Propaganda Massal di Era AI
Berita Terkini
Penunjukan Luke Thomas...
Penunjukan Luke Thomas Dinilai Mencerminkan Meritokrasi di DSI
Bukan Rp16.250, Harga...
Bukan Rp16.250, Harga Asli Pertamax Seharusnya Rp20.200 per Liter
Terbitkan Panda Bond,...
Terbitkan Panda Bond, Menkeu Purbaya Kantongi Dukungan China
Indonesia Raih Komitmen...
Indonesia Raih Komitmen Pendanaan AIIB USD17 Miliar, Bukti Kepercayaan pada Fiskal RI
Maskapai China Spring...
Maskapai China Spring Airlines Resmi Mengudara di Indonesia, Buka Rute Seminggu 3 Kali
Indo Livestock 2026...
Indo Livestock 2026 Satukan Pelaku Industri dari 30 Negara, Perkuat Daya Saing Industri Peternakan RI
Infografis
Rp603 Triliun Milik...
Rp603 Triliun Milik Amerika Serikat Habis Terbakar di Langit Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved