BI: USD Makin Perkasa jika Suku Bunga The Fed Naik
Rabu, 26 Agustus 2015 - 05:41 WIB
BI: USD Makin Perkasa jika Suku Bunga The Fed Naik
A
A
A
JAKARTA - Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, jika Amerika Serikat (AS) memutuskan untuk menaikkan suku bunga The Fed, maka dolar akan semakin perkasa dan menekan ekonomi negara-negara berkembang.
Amerika Serikat saat ini sudah mengurangi likuiditasnya dan bersiap menggelar Federal Open Meeting Committee (FOMC) untuk menentukan Fed Rate. Hal ini akan berimbas besar pada stabilitas ekonomi global.
"Amerika Serikat saat ini sedang bersiap forum FOMC untuk memutuskan apakah suku bunga The Fed ini akan naik atau tidak. Itu nanti 17 atau 19 September 2015. Ini yang menyebabkan pasar global betul-betul ada tekanan bahwa dolar akan terus menunjukkan kekuatannya," kata dia di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (25/8/2015).
Menurutnya, Yuan China juga terevaluasi dengan kondisi global. Harga minyak turun, komoditas di sana juga mengalami penurunan. "Ini kondisi karena faktor-faktor risk of global masih berlanjut, enggak hanya beri tekanan pada nilai tukar kita tapi juga dunia," ujar Perry‎.
Meski belum pasti naik atau turun (Fed Rate), namun dia menyayangkan bahwa masyarakat sudah merespon ini dengan sangat berlebihan sehingga menimbulkan sentimen dan spekulasi negatif terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah.
"Justru apa yang terjadi selama ini, reaksi pasar terhadap antisipasi kenaikan cenderung berlebihan, sehingga tekanan-tekanan terhadap rupiah juga semakin tinggi, padahal sudah oversuite, tapi memang itulah kondisi yang dihadapi di sisi global," pungkasnya.
Amerika Serikat saat ini sudah mengurangi likuiditasnya dan bersiap menggelar Federal Open Meeting Committee (FOMC) untuk menentukan Fed Rate. Hal ini akan berimbas besar pada stabilitas ekonomi global.
"Amerika Serikat saat ini sedang bersiap forum FOMC untuk memutuskan apakah suku bunga The Fed ini akan naik atau tidak. Itu nanti 17 atau 19 September 2015. Ini yang menyebabkan pasar global betul-betul ada tekanan bahwa dolar akan terus menunjukkan kekuatannya," kata dia di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (25/8/2015).
Menurutnya, Yuan China juga terevaluasi dengan kondisi global. Harga minyak turun, komoditas di sana juga mengalami penurunan. "Ini kondisi karena faktor-faktor risk of global masih berlanjut, enggak hanya beri tekanan pada nilai tukar kita tapi juga dunia," ujar Perry‎.
Meski belum pasti naik atau turun (Fed Rate), namun dia menyayangkan bahwa masyarakat sudah merespon ini dengan sangat berlebihan sehingga menimbulkan sentimen dan spekulasi negatif terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah.
"Justru apa yang terjadi selama ini, reaksi pasar terhadap antisipasi kenaikan cenderung berlebihan, sehingga tekanan-tekanan terhadap rupiah juga semakin tinggi, padahal sudah oversuite, tapi memang itulah kondisi yang dihadapi di sisi global," pungkasnya.
(izz)