Kata Staf Ahli Menkeu soal Paket Ekonomi Kurang Nendang

Minggu, 04 Oktober 2015 - 16:23 WIB
Kata Staf Ahli Menkeu...
Kata Staf Ahli Menkeu soal Paket Ekonomi Kurang Nendang
A A A
JAKARTA - Paket kebijakan ekonomi Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang dinilai banyak kalangan kurang nendang kian menjadi perbincangan utama. Belum adanya efek dari kebijakan jilid I dan II membuat publik bertanya, sampai di mana keseriusan pemerintah dalam menanggulangi pelemahan ekonomi.

Terlebih lagi, mantan Wali Kota Solo tersebut akan segera mengeluarkan paket kebijakan jilid III, yang sedianya bakal dirilis pekan depan. (Baca: Mantan Menkeu Tak Yakin Pemerintah Serius Perbaiki Ekonomi)

Menanggapi hal itu, Staf Ahli‎ Menteri Keuangan (Menkeu) Arif Budimanta menilai, memang seyogyannya paket kebijakan ekonomi dikeluarkan untuk memperbaiki kerangka ekonomi.

‎"Paket kebijakan ekonomi ini bukan pengalaman pertama karena sejak jaman dulu ada paket-paket kebijakan yang dikeluarkan. Paket-paket tersebut pada kenyataannya bukan hanya untuk menanggulangi masalah krisis ekonomi, tapi juga permasalahan politik. Nah paket sekarang adalah kerangka untuk memperkuat ekonomi kita," kata Arif di Jakarta, Minggu (4/10/2015).

Selain itu, dia menjelaskan, keadaan juga berubah saat masa lalu dan masa kini, terutama pada kekuatan bank sentral. (Baca: Paket Kebijakan Ekonomi Jokowi Dinilai Kurang Nendang)

"Namanya Bank Sentral itu sepenuhnya di bawah kendali presiden. Sejak tahun 1999‎, itu menjadi lembaga independen yang diatur oleh UU. Jadi kebijakan moneter adalah tanggung jawab BI itu sendiri dan di sini harapan kita bersinergi dengan pemerintah," katanya.

Arif menuturkan bahwa paket yang sekarang dikeluarkan lebih melihat ke arah fiskal melalui relaksasi ataupun dengan stimulus. Kemudian berikutnya adalah masalah otoritas negara soal transformasi dana desa untuk kepentingan padat karya di wilayah pedesaan.

"Artinya, ini adalah peluang untuk membuka lapangan kerja di desa. Misalnya, BPS laporkan soal penduduk miskin yang meningkat 800.000 dan kebanyakan yang miskin itu berada di desa. Itu bisa terbantu," kata dia.

Selanjutnya adalah mengenai tax allowance dan tax holiday yang pada dasarnya memang harus ada dan digalakkan untuk kepentingan investasi sebagai penggerak kualitas ekonomi Indonesia. Hal itu berkaitan dengan kompetitifnes Indonesia dengan negara berkembang lainnya.

"Ini akan membuat kita bisa berkompetisi dan bahkan unggul dari negara lain," pungkasnya.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Menko Airlangga Beberkan...
Menko Airlangga Beberkan Arah Kebijakan Perekonomian Nasional
Keras! Ekonom Ini Sebut...
Keras! Ekonom Ini Sebut Kebijakan Ekonomi Pemerintah Bak 'Mengisi Ember Bocor
6 Kebijakan Baru di...
6 Kebijakan Baru di Tahun 2026: Dari Pajak, Pertanahan, hingga Transportasi
Pesan Erick Thohir:...
Pesan Erick Thohir: Jangan Karena Ganti Pemimpin, Kebijakannya Ganti Lagi
Perbandingan Kebijakan...
Perbandingan Kebijakan al-Sisi dan Mursi ketika Memimpin Mesir
Pengamat dari UNM Dukung...
Pengamat dari UNM Dukung Strategi Ekonomi Jokowi
Berita Terkini
Dukung Industri Kreatif,...
Dukung Industri Kreatif, Joshua Khubani Siapkan Investasi USD100 Juta
1 jam yang lalu
Jelajahi 197 Negara,...
Jelajahi 197 Negara, Peneliti Temukan Kesederhanaan Jadi Kunci Kebahagiaan
1 jam yang lalu
Pasar Keuangan Ambruk...
Pasar Keuangan Ambruk Lebih Dalam, Rupiah Diramal Tembus Rp19.000 Akhir Bulan Ini
1 jam yang lalu
BRIN Apresiasi Program...
BRIN Apresiasi Program Konservasi Astra Agro Dukung Target Biodiversitas
1 jam yang lalu
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Mager di Rp2,73 Juta per Gram, Berikut Rinciannya
2 jam yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Perkuat Ketahanan Pangan Melalui Program CID
3 jam yang lalu
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved