Wall Street Masih Terpuruk Hingga Akhir Pekan

Sabtu, 09 Januari 2016 - 09:56 WIB
Wall Street Masih Terpuruk...
Wall Street Masih Terpuruk Hingga Akhir Pekan
A A A
NEW YORK - Indeks saham Wall Street pada penutupan akhir pekan kemarin waktu setempat tercatat masih terpuruk untuk mencetak rekor terburuk dalam lima hari sebelumnya ketika harga minyak mentah terus menurun. Ditambah para investor masih mencemaskan kondisi pertumbuhan ekonomi global di tengah pelemahan ekonomi China.

Dilansir Reuters, Jumat (9/1/2015) indeks Dow melemah 6,2% selama satu pekan dan indeks S & P 500 bergeser 6%. Sedangkan Nasdaq mengalami hal serupa, tapi lebih buruk yakni menyusut 7,3% pekan ini. Secara bersamaan ketiga indeks tersembut kompak mengalami penurunan.

Pasar sebenarnya sempat menunjukkan kenaikan, saat data US nonfarm payrolls naik pada bulan Desember. Tapi hal itu tidak cukup untuk menjaga saham berada di level positif. Sementara harga minyak mentah masih terus merosot ketika jenis Brent turun 10% selama satu pekan, dan sektor energi S & P memperpanjang tren negatif untuk mengakhiri akhir pekan turun 1,3%.

Ketakutan akan imbas perlambatan ekonomi China kepada ekonomi global, masih jadi perhatian serius investor untuk membuat perdagangan di awal tahun ini bergolak. "Awalnya sangat minim saat para investor cenderung bertahan," jelas Wakil Presiden Senior di BB & T Wealth Management Hellwig Bucky.

"Dalam menghadapi melemahkan pertumbuhan global, sangat sulit untuk menemukan alasan untuk semua orang menginvestasikan uangnya dan saya harap saham dapat pulih pekan depan," tambahnya.

Hari ini tercatat Dow Jones industrial average turun 167,65 poin atau 1,02% ke posisi 16,346.45 dan S & P 500 kehilangan 21,06 poin atau 1,08% ke level, 1,922.03. Sedangkan komposit Nasdaq turun 45,80 poin atau 0,98% ke posisi 4,643.63.

Saham Apple (AAPL. O) yang sempat terpuruk selama tiga hari mulai naik 0,5% menjadi USD96,96. Volume perdagangan masih tertekan ketika sekira 8,9 miliar saham diperdagangkan pada bursa saham AS dengan rata-rata harian 7,3 miliar selama 20 hari, menurut data Thomson Reuters.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Wall Street Terdongkrak...
Wall Street Terdongkrak Diterpa Optimisme Pengembangan Vaksin Corona
Wall Street Berbalik...
Wall Street Berbalik Jatuh di Tengah Ancaman Trump Tutup Facebook dan Twitter
Wall Street Mixed Saat...
Wall Street Mixed Saat Dow dan S&P 500 Jatuh Dibayangi Kasus Baru Covid-19
Wall Street Turun Tajam...
Wall Street Turun Tajam Dihantam Aksi Jual Saham Teknologi
Microsoft Pikir-pikir...
Microsoft Pikir-pikir Beli TikTok Bikin Nasdaq Cetak Rekor, Wall Street Rebound
Wall Street Lebih Tinggi...
Wall Street Lebih Tinggi di Tengah Ancang-ancang Stimulus USD1 Triliun Gedung Putih
Berita Terkini
Garuda Terapkan Bagasi...
Garuda Terapkan Bagasi Piece Concept, Bawaan Penumpang Bisa hingga 64 Kg
38 menit yang lalu
Selat Hormuz Kembali...
Selat Hormuz Kembali Ditutup Total, Siap-siap Harga Minyak Bisa Meroket
1 jam yang lalu
Bandara Banda Neira...
Bandara Banda Neira Bakal Dibangun Ulang, Pesawat Kapasitas Besar Bisa Mendarat
3 jam yang lalu
Bank Sentral Global...
Bank Sentral Global Kompak Borong Emas, Hapus Ketergantungan Dolar AS
4 jam yang lalu
Modi Incar Harta Karun...
Modi Incar Harta Karun Terlarang Australia demi Terangi Negaranya
6 jam yang lalu
Sucofindo Catatkan Laba...
Sucofindo Catatkan Laba Bersih 100,7% dari Target RKAP 2025
7 jam yang lalu
Infografis
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved