Hati-hati, Periode Super Dolar AS hingga Tahun Depan
Rabu, 27 Januari 2016 - 19:28 WIB
Hati-hati, Periode Super Dolar AS hingga Tahun Depan
A
A
A
JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo meminta para pelaku usaha hati-hati terhadap periode super dolar AS yang akan berlangsung hingga tiga tahun ke depan. Karena, tingkat suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (Fed Rate) mengalami kenaikan secara gradual.
Apalagi, kenaikan Fed Rate yang secara bertahap tersebut juga diimbangi dengan kondisi perekonomian AS yang terus mengalami perbaikan.
"Kayak kemarin, consumer confidentnya menunjukan nilai membaik membuat AS akan makin kuat kursnya," katanya di Hotel Fairmont, Jakarta, Rabu (27/1/2016).
Menurutnya, Indonesia dan seluruh negara berkembang (emerging market) lainnya harus waspada dengan fenomena super dolar yang ditunjukkan dengan kenaikan tingkat suku bunga tersebut. Dunia pun perlu mewaspadai risiko rebalancing portfolio.
"Dunia perlu khawatir kalau ada risiko rebalancing portfolio. Apakah alan dikeluarkan untuk investasi di AS," imbuh dia.
Mantan Menteri Keuangan ini menambahkan, korporasi yang memiliki utang luar negeri (ULN) memiliki risiko jika utangnya akan jauh lebih mahal, sementara jatuh tempo waktu pinjamannya tidak diperpanjang.
"Ini kami waspadai kalau ada super dolar. Tapi saya setiap bulan selalu melakukan kajian kepatuhan perusahaan swasta terhadap kebijakan BI yakni kewajiban hedging," tandasnya.
Apalagi, kenaikan Fed Rate yang secara bertahap tersebut juga diimbangi dengan kondisi perekonomian AS yang terus mengalami perbaikan.
"Kayak kemarin, consumer confidentnya menunjukan nilai membaik membuat AS akan makin kuat kursnya," katanya di Hotel Fairmont, Jakarta, Rabu (27/1/2016).
Menurutnya, Indonesia dan seluruh negara berkembang (emerging market) lainnya harus waspada dengan fenomena super dolar yang ditunjukkan dengan kenaikan tingkat suku bunga tersebut. Dunia pun perlu mewaspadai risiko rebalancing portfolio.
"Dunia perlu khawatir kalau ada risiko rebalancing portfolio. Apakah alan dikeluarkan untuk investasi di AS," imbuh dia.
Mantan Menteri Keuangan ini menambahkan, korporasi yang memiliki utang luar negeri (ULN) memiliki risiko jika utangnya akan jauh lebih mahal, sementara jatuh tempo waktu pinjamannya tidak diperpanjang.
"Ini kami waspadai kalau ada super dolar. Tapi saya setiap bulan selalu melakukan kajian kepatuhan perusahaan swasta terhadap kebijakan BI yakni kewajiban hedging," tandasnya.
(izz)