Penguatan Rupiah Dinilai Rentan Tertekan Sentimen Eksternal

Kamis, 10 Maret 2016 - 17:41 WIB
Penguatan Rupiah Dinilai...
Penguatan Rupiah Dinilai Rentan Tertekan Sentimen Eksternal
A A A
JAKARTA - Penguatan nikai tukar rupiah yang terjadi beberapa hari belakangan menurut Institute for Development of Economics and Finance (Indef) hanya bersifat sementara, tergantung dari fenomena perkembangan perekonomian China, Amerika Serikat (AS) dan Dunia ke depannya. Ekonom Indef, Dzulfian Syahrian menerangkan fenomena ini menunjukkan bahwa rupiah sangat rentan terhadap guncangan eksternal.

"Penguatan rupiah yang sempat menyentuh angka Rp13.029/USD berdasarkan kurs BI disebabkan oleh faktor eksternal, khususnya perkembangan isu perekonomian terkini di ekonomi terbesar pertama (AS) dan terbesar kedua (China)," jelasnya di Jakarta, Kamis (10/3/2016).

(Baca Juga: Euro Jatuh, Rupiah Ditutup Hampir Tinggalkan Level Rp13.000/USD)

Dia menambahkan rencana pemerintah China yang bakal melakukan reformasi ekonomi, khususnya reformasi berbagai BUMN milik mereka dan menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan memberikan kabar baik. Bahkan Pemerintah Cina juga mewacanakan akan adanya kepemilikian gabungan (mixed ownership) atau privatisasi atas berbagai BUMN mereka.

"Hal ini tentu kabar sangat menggembirakan bagi para investor mengingat Cina memiliki sekitar 150.000 BUMN dengan total asset sekitar USD15 trilliun dan mempekerjakan lebih dari 30 juta pekerja," ungkap dia.

Lanjut dia pemerintah China juga memasang target pertumbuhan ekonomi pada tahun ini (2016) akan berada di kisaran 6,5-7,0% dan tidak akan pernah kurang dari 6,5% dalam lima tahun ke depan. Menurutnya angka ini cukup memberikan kepercayaan diri pasar mengingat tren pertumbuhan ekonomi China yang terus menurun, bahkan tahun lalu menyentuh titik terendah dalam 25 tahun terakhir, yaitu hanya sebesar 6,9%.

Dia mengungkapkan, kabar gembira dari China tentu diharapkan akan berdampak pada naiknya harga-harga komoditas.Jika harga komoditas kembali bangkit, ekspor Indonesia lambat laun akan pulih mengingat sebagian besar ekspor Indonesia bergantung pada komoditas dimana China adalah salah satu pasar utamanya.

"Pemulihan ekonomi yang terjadi di Amerika membuat nilai tukar mereka dolar Amerika (USD) menguat cukup signifikan terhadap hampir seluruh mata uang dunia," ujar dia.

Disisi lain, menurutnya penguatan rupiah juga disebabkan oleh data-data perekonomian Amerika, khususnya data ketenagakerjaan, menunjukkan angka yang cukup baik.

"Juma’at lalu, Pemerintah Amerika mengumumkan penambahan tenaga kerja baru sekitar 242.000 selama bulan Februari 2016 dan angka pengangguran berkisar 4,9% terendah sejak krisis finansial global 2008," papar dia.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Rupiah Ditutup Melemah...
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.409 per Dolar AS
Rupiah Terlemah Sepanjang...
Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah
Rupiah Ditutup Melemah...
Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp15.526
Wacana Lama Hidup Lagi,...
Wacana Lama Hidup Lagi, Ini Dua Sisi Pentingnya Redenominasi Rupiah
Bikin Gaduh Karena Keliru...
Bikin Gaduh Karena Keliru Tampilkan Kurs Rupiah, Pengamat: Google Harus Tanggung Jawab!
Google Keliru Tampilkan...
Google Keliru Tampilkan Kurs Rupiah, Pengamat: Timbulkan Kegaduhan!
Berita Terkini
Mitigasi Risiko Blackout,...
Mitigasi Risiko Blackout, Diversifikasi Energi Jadi Strategi Ketahanan Listrik
5 menit yang lalu
Danantara Mulai Merger...
Danantara Mulai Merger BUMN Sekuritas, Mandiri hingga BNI Sekuritas Dilebur
13 menit yang lalu
BI Blak-blakan soal...
BI Blak-blakan soal Kombinasi Pemicu Kejatuhan Rupiah yang Sempat Rp18 Ribu per Dolar AS
46 menit yang lalu
Dukung Ekonomi Berkelanjutan,...
Dukung Ekonomi Berkelanjutan, Jamkrindo Syariah Perkuat Penerapan Prinsip Syariah
1 jam yang lalu
Purbaya Tolak Permintaan...
Purbaya Tolak Permintaan Himbara Perpanjang Tenor Dana SAL hingga Setahun
1 jam yang lalu
100 Jenama Indonesia...
100 Jenama Indonesia Unjuk Gigi di MASA Singapore 2026, Astra Dorong Kolaborasi Bersama
1 jam yang lalu
Infografis
Gen Z Kelompok Paling...
Gen Z Kelompok Paling Rentan, 52% Pekerja Alami Kelelahan Kerja Kronis
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved