BI Diminta Waspadai Utang Luar Negeri Swasta

Minggu, 20 Maret 2016 - 21:09 WIB
BI Diminta Waspadai...
BI Diminta Waspadai Utang Luar Negeri Swasta
A A A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) dan Pemerintah disarankan oleh Ekonom INDEF Dzulfian Syafrian harus tetap waspada dan memantau kondisi utang luar negeri (ULN), khususnya ULN swasta. Pasalnya dalam hal ini ULN perusahaan Indonesia dinilai sangat rentan terhadap gejolak eskternal, khususnya fluktuasi nilai tukar.

Dia menambahkan ULN Swasta meningkat cukup tajam dalam beberapa tahun terakhir. Posisi saat ini tercatat masih sekitar 30-35% terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional. "Meskipun demikian, ULN swasta Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan Negara-negara Emerging Markets lainnya seperti India, Malaysia, Thailand dan Filipina dimana rasio ULN swasta mereka terhadap PDB sekitar 70%," jelasnya saat dihubungi di Jakarta, Minggu (20/3/2016).

Menurutnya kerentanan ULN swasta utamanya disebabkan oleh nilai tukar rupiah yang tidak stabil, bahkan cenderung melemah (terhadap USD) dalam beberapa tahun belakang. "Celakannya sekitar 60% ULN swasta tercatat dalam mata uang asing, khususnya dalam USD," papar dia.

(Baca Juga: Utang Luar Negeri RI Januari Tumbuh 2,2%)

Menurutnya sektor yang mesti mendapat perhatian khusus oleh BI dan Pemerintah dalam hal ULN Swasta adalah perusahaan-perusahaan berbasis komoditas (seperti batu bara, minyak, gas, dan pertambangan) dan barang-barang yang tidak bisa diperdagangkan/non-tradeable (contoh: transportasi dan komunikasi). Selain itu, besarnya ULN swasta dalam mata uang asing juga utamanya dipicu oleh BUMN berbasis energi, seperti Pertamina dan PLN yang memiliki ULN sangat besar.

Dzulfian mengungkapkan, Jika pergolakan rupiah tidak terkendali, bukan tidak mungkin akan terjadi currency mismatches pada ULN swasta ini sehingga menyebabkan gagal bayar.

Apalagi, risiko gagal bayar ULN Swasta ini akan berbahaya bagi perekonomian nasional jika ULN Swasta tersebut terjadi di perusahaan besar dan konglomerasi sehingga akan berdampak sistemik ke perusahaan lain dan juga sektor keuangan. "Terlebih banyak dari ULN swasta ini belum melakukan ‘hedging’ sehingga sangat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar," tukas dia.

Oleh karena itu, pendalaman dan pengembangan sektor keuangan dan inklusi keuangan (financial inclusion) harus segera dipercepat guna mengurangi costs of hedging, mengurangi gejolak di sektor keuangan, dan mempermudah transaksi keuangan di Indonesia.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BI Ungkap Posisi Utang...
BI Ungkap Posisi Utang Luar Negeri Indonesia
Gubernur BI Pastikan...
Gubernur BI Pastikan Utang Luar Negeri Indonesia Masih Aman
BI Pastikan Posisi Utang...
BI Pastikan Posisi Utang Luar Negeri Masih Sehat
Utang Luar Negeri Per...
Utang Luar Negeri Per Februari 2020 Melambat Jadi USD407,5 Miliar
Utang Luar Negeri Capai...
Utang Luar Negeri Capai Rp5.800 Triliun pada Kuartal I/2020
Bank Indonesia: Utang...
Bank Indonesia: Utang Luar Negeri Turun Rp141 Triliun di Kuartal II 2022
Berita Terkini
KAI Logistik Kelola...
KAI Logistik Kelola 8,7 Juta Ton Angkutan Barang di Semester I 2026
4 menit yang lalu
Transaksi BI-FAST Capai...
Transaksi BI-FAST Capai 1,53 Miliar di Triwulan II 2026, Nilainya Tembus Rp3.777 Triliun
15 menit yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Integrasikan Penanganan Stunting dan Pemberdayaan UMKM
39 menit yang lalu
Heboh Surat Dinas ke...
Heboh Surat Dinas ke AS dengan Keluarga Bocor, Menteri PU: Saya Nggak Jadi Berangkat
49 menit yang lalu
Pupuk Kaltim Dukung...
Pupuk Kaltim Dukung Pengembangan SDM melalui Olahraga
1 jam yang lalu
Pimpin BGN, Sudaryono...
Pimpin BGN, Sudaryono Lepas Jabatan Wakil Menteri Pertanian
1 jam yang lalu
Infografis
7 Universitas Islam...
7 Universitas Islam Negeri Terbaik Masuk Top 100 Nasional Webometrics 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved