Wall Street Berakhir Mixed Jelang Rilis Data Pekerja AS

Jum'at, 07 Oktober 2016 - 08:06 WIB
Wall Street Berakhir...
Wall Street Berakhir Mixed Jelang Rilis Data Pekerja AS
A A A
NEW YORK - Wall Street pada perdagangan kemarin (Jumat pagi WIB) ditutup mixed (variatif), menjelang data pekerja AS yang dilihat sebagai kunci untuk menentukan apakah Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun ini.

Seperti dikutip dari Reuters, Jumat (7/10/2016), Indeks Dow Jones industrial average turun 12,53 poin atau 0,07% ke level 18.268,5, Indeks S&P 500 naik 1,04 poin atau 0,05% ke level 2.160,77 dan Nasdaq Composite turun 9,17 poin atau 0,17% ke 5.306,85.

Kenaikan harga minyak mentah memberikan dukungan kepada gagasan memperkuat ekonomi seperti yang dilakukan sebuah laporan yang menunjukkan jumlah orang Amerika yang mengajukan tunjangan pengangguran turun tak terduga pekan lalu ke level terendah dalam 43 tahun. Sebelum adanya data resmi laporan payrolls untuk September, diperkirakan menunjukkan ekonomi AS menciptakan 175.000 pekerjaan bulan lalu.

USD mencapai level tertinggi sejak akhir Juli terhadap beberapa mata uang lainnya sebagai data memperkuat pandangan the Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan yanga akan digelar Desember. Meskipun kekuatan mata uang, harga minyak naik ke level tertinggi dalan empat bulan.

Harga minyak mentah berjangka telah meningkat hampir 15% selama tujuh sesi terakhir. "Energi merupakan masukan positif, bottoming harga energi," kata Art Hogan, kepala strategi pasar di Wunderlich Securities di New York.

Namun, kata dia, para pedagang menunggu dan melihat menjelang data payrolls. "Ini semua merupakan awal jumlah pekerjaan," imbuh dia.

Saham Twitter (TWTR.N) anjlok 20,1% menjadi USD19,87 karena adanya kekhawatiran terkait akan dibelinya dari perusahaan media sosial akan menarik bunga minimal dari calon pembeli. Situs berita Disney (DIS.N) dan Alphabet (GOOGL.O) tidak akan mengajukan tawaran bagi perusahaan.

Saham Wal-Mart (WMT.N) turun 3,2% menjadi USD69,36 dan menjadi beban paling berat di Indeks S&P 500 setelah perkiraan laba perusahaan ritel terbesar di dunia ini di perkiraan mendatar untuk tahun depan. Persentase gainer terbesar di S&P 500 adalah Whole Foods (WFM.O) yang naik 4,9% menjadi USD29,33.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Wall Street Terdongkrak...
Wall Street Terdongkrak Diterpa Optimisme Pengembangan Vaksin Corona
Wall Street Berbalik...
Wall Street Berbalik Jatuh di Tengah Ancaman Trump Tutup Facebook dan Twitter
Wall Street Mixed Saat...
Wall Street Mixed Saat Dow dan S&P 500 Jatuh Dibayangi Kasus Baru Covid-19
Wall Street Turun Tajam...
Wall Street Turun Tajam Dihantam Aksi Jual Saham Teknologi
Microsoft Pikir-pikir...
Microsoft Pikir-pikir Beli TikTok Bikin Nasdaq Cetak Rekor, Wall Street Rebound
Wall Street Lebih Tinggi...
Wall Street Lebih Tinggi di Tengah Ancang-ancang Stimulus USD1 Triliun Gedung Putih
Berita Terkini
Ekonom Soroti Data Positif...
Ekonom Soroti Data Positif Fiskal dan Investasi, Narasi Sell Indonesia Dinilai Keliru
36 menit yang lalu
Mandatori B50 Buka Peluang...
Mandatori B50 Buka Peluang Swasembada Energi dan Jadikan Indonesia Pionir Energi Bersih
10 jam yang lalu
Bitcoin Melemah Usai...
Bitcoin Melemah Usai FOMC, Indodax Ingatkan Manajemen Risiko
11 jam yang lalu
Pascadamai AS-Iran:...
Pascadamai AS-Iran: Kapal Raksasa Ini Tembus Selat Hormuz, Krisis Energi Global Mulai Mereda?
11 jam yang lalu
BEI Tegaskan MSCI Belum...
BEI Tegaskan MSCI Belum Putuskan Status Pasar Saham RI
12 jam yang lalu
Rupiah Hari Ini Masih...
Rupiah Hari Ini Masih Terseok-seok ke Posisi Rp17.804 per Dolar AS
12 jam yang lalu
Infografis
Perang AS-Israel vs...
Perang AS-Israel vs Iran Telah Mengungkap Kelemahan Militer Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved