Asosiasi Petani Tembakau Indonesia Kecewa dengan COP7

Rabu, 09 November 2016 - 07:11 WIB
Asosiasi Petani Tembakau...
Asosiasi Petani Tembakau Indonesia Kecewa dengan COP7
A A A
JAKARTA - Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) menyesalkan sikap India, yang dinilai tidak demokratis. Dalam Sidang Tahunan ke-7 Konferensi Pihak (COP7) Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau (Framework Convention on Tobacco Control/FCTC) di India, mereka melakukan penahanan terhadap 500 petani India yang melakukan aksi protes.

Protes petani tembakau India karena mereka berharap adanya dialog agar konferensi ini, bisa menghasilkan kebijakan yang memengaruhi kehidupan 46 juta orang yang bergantung pada industri hasil tembakau di Negeri Anak Benua.

"Proses COP7 FCTC telah melukai perasaan para petani tembakau di seluruh dunia, termasuk India dan Indonesia. Sekretariat FCTC sudah semestinya tidak melakukan diskriminasi dan sebaliknya mendengarkan suara para petani tembakau di seluruh dunia yang penghidupannya terancam akibat kebijakan tembakau yang tidak adil," ujar Ketua Umum APTI Soeseno dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu (9/11/2016).

Konferensi yang digelar setiap dua tahun sekali dan dihadiri anggota yang berasal dari sekitar 180 negara ini, secara rutin meninjau implementasi FCTC di setiap negara yang telah melakukan aksesi, serta memutuskan kebijakan yang dinilai akan meningkatkan efektivitas implementasi konvensi. Konferensi ini juga dapat mengadopsi serta melakukan amandemen terhadap FCTC.

Tak hanya petani tembakau, Sekretariat FCTC juga melarang media, para pejabat pemerintah negara anggota yang terkait dengan BUMN tembakau serta mereka yang bekerja untuk menyampaikan aspirasi industri tembakau, untuk berpartisipasi dalam konferensi yang digelar di New Delhi tersebut. Sekretariat FCTC juga menolak bekerja sama dengan interpol serta bea dan cukai karena dinilai berkaitan langsung dengan perusahaan tembakau.

Terkait hal ini, Soeseno menilai sikap pemerintah Indonesia yang tidak meratifikasi FCTC sudah tepat. Soeseno mengatakan, FCTC terbukti tidak mempertimbangkan aspek kehidupan para pemangku kepentingan industri tembakau yang telah berkontribusi pajak sebesar Rp173,9 triliun pada 2015, serta menyerap lebih dari enam juta tenaga kerja.

Soeseno juga mengatakan, APTI secara konsisten menolak FCTC yang merugikan petani tembakau dan cengkih. FCTC, di antaranya, melarang penggunaan cengkih sehingga mematikan produk rokok kretek khas Indonesia. Melarang interaksi pemerintah dan perusahaan tembakau, melarang total kegiatan promosi dan sponsor, serta menerapkan kebijakan kemasan polos yang mengabaikan hak konsumen untuk mengetahui kandungan yang ada di dalam produk hasil tembakau.

"FCTC tidak berpihak pada kepentingan nasional Indonesia, serta berpotensi menghambat perekonomian nasional yang bertumpu di sektor pertanian dan perkebunan," kata Soeseno.

Sebelumnya, berbagai organisasi petani tembakau dan mitranya melakukan aksi damai meminta pemerintah melakukan ratifikasi FCTC di Yogyakarta. Organisasi ini, termasuk APTI dan Asosiasi Petani Cengkih Indonesia, menilai FCTC adalah agenda asing untuk mematikan industri hasil tembakau.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Mematikan Ekonomi Petani...
Mematikan Ekonomi Petani Tembakau, DPN APTI Tolak PP 28 Nomor 2024
APTI: Bukan Pengendalian,...
APTI: Bukan Pengendalian, PP 28/2024 dan RPMK Kebiri Industri Hasil Tembakau
APTI Jabar Nilai Simplifikasi...
APTI Jabar Nilai Simplifikasi Tarif Layer Bakal Matikan Usaha-Petani Tembakau Lokal
APTI Kirim Surat Terbuka...
APTI Kirim Surat Terbuka ke Presiden Jokowi, Ini Isinya
DPN APTI: Diversifikasi...
DPN APTI: Diversifikasi Tembakau Bisa Merugikan Jutaan Petani
Kenaikan Cukai Rokok...
Kenaikan Cukai Rokok Dinilai Rugikan Petani Tembakau
Berita Terkini
Mentan Amran Kumpulkan...
Mentan Amran Kumpulkan Civitas Akademika UGM, Percepat Inovasi dan Hilirisasi Pertanian
4 menit yang lalu
Demi Jaga Pasokan Listrik,...
Demi Jaga Pasokan Listrik, Kebijakan DMO dan RKAB Perlu Dievaluasi
57 menit yang lalu
Indonesia Bakal Ciptakan...
Indonesia Bakal Ciptakan BBM Baru E20, Butuh 4 Juta KL Etanol per Tahun
1 jam yang lalu
Harga Gas Penting, tapi...
Harga Gas Penting, tapi Bukan Penyebab Tunggal Industri Lesu dan PHK
2 jam yang lalu
Harga Emas Antam Turun...
Harga Emas Antam Turun Rp15.000 Jadi Rp2,64 Juta per Gram, Ini Rinciannya
2 jam yang lalu
IHSG Dibuka Menguat...
IHSG Dibuka Menguat 0,61% ke Level 5.932
3 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved