Bursa Jepang Jaga Tren Positif, IHSG Ditutup Memerah
Senin, 14 November 2016 - 16:47 WIB
Bursa Jepang Jaga Tren Positif, IHSG Ditutup Memerah
A
A
A
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini berakhir masih memerah sejak pagi tadi hingga ditutup ke level 5.115,74 atau turun sebesar 2,22%, setara dengan 116,23 poin. Penguatan IHSG sore ini di tengah bursa Jepang yang sukses menjaga tren positif.
Di sisi lain IHSG pada perdagangan sesi I hari ini semakin terkapar hingga 137,71 poin atau 2,63% ke level 5.094,26 setelah pada perdagangan tadi pagi dibuka anjlok ke level 5.178,34 dengan kejatuhan 1,03% atau setara dengan 53,63 poin. Sedangkan kemarin pasar saham Tanah Air berakhir tenggelam hingga 218,33 poin atau 4,01% ke level 5.231,97.
Seperti dilansir CNBC, Senin (14/11/2016) mayoritas pasar saham Asia pada akhir perdagangan awal pekan ini tergelincir, saat Nikkei masih kokoh di zona hijau sejak sesi pembukaan. Indeks Nikkei Jepang melompat 1,71% atau setara dengan 297,83 poin dan berakhir di level 17.672,62, setelah data perekonomian Negeri Matahari Terbit -julukan Jepang- itu naik 2,2% secara year-on-year (YoY).
Sementara di sisi lain bursa utama Asia lainnya seperti indeks Hang Seng justru melemah sebesar 1,37% atau setara dengan 308,87 poin ke level 22.222,22 mengiringi kejatuhan indeks Strait Times yang berkurang 25,33 poin menjadi 2.789,27. Pasar saham Australia juga mencetak hasil negatif saat indeks 200 ditutup menyusut 47% atau 25,04 poin ke level 5.345,7.
Pelemahan indeks Australia dipengaruhi sektor material yang turun 1,31% serta kejatuhan sektor keuangan sebesar 0,53%. Bank-bank besar di Australia seperti Westpac dan ANZ tidak terkecuali juga mengalami pelemahan saham sebesar 3,17% dan 1,45% untuk masing-masing.
Di sisi lain penguatan terjadi pada bursa saham daratan China, ketika indeks Shanghai ditutup naik 0,44% atau setara dengan 14,06 poin menjadi 3.210,1 dan komposit Shenzhen ditutup naik 0,297% atau 6,27 poin ke level 2.114,3. Data ekonomi China sendiri pada awal pekan ini terlihat variatif, dimana Investasi Aktiva naik 8,3% pada periode Januari hingga Oktober untuk melebihi ekspektasi pasar.
Sedangkan output industri China untuk Oktober juga melonjak, meski tidak sebesar perkiraan yakni naik 6,1% dan penjualan ritel tumbuh 10% pada Oktober. Meski ditopang data positif, namun beberapa saham pada indeks Shanghai tercatat di bawah tekanan seperti saham teknologi.
Hasil negatif juga dicetak indek Kospi yang juga turun 0,51% atau 10.03 poin ke level 1,974.4 saat krisis politik yang berkembang. Seperti diketahui ratusan ribu demonstran turun ke jalan untuk menyerukan pengunduran diri Presiden Park Geun-hye yang dimulai sejak akhir pekan kemarin, lantaran kolega sang Presiden diyakini ikut campur dalam kebijakan pemerintah.
Sektor saham di dalam negeri mayoritas berada dalam tren negatif, dipimpin kejatuhan sektor infrastruktur yang turun 3.68% diikuti keuangan dengan penyusutan sebesar 3,44%. Satu-satunya sektor yang mencetak hasil positif adalah perkebunan 0,73%.
Adapun nilai transaksi di bursa Indonesia tercatat sebesar Rp11,15 triliun dengan 11,4 miliar saham diperdagangkan dan transaksi bersih asing minus Rp1,96 triliun dengan aksi jual asing mencapai Rp5,92 triliun dan aksi beli sebesar Rp3,95 triliun. Tercatat di akhir perdagangan hari ini sebanyak 72 saham menguat, 281 saham melemah dan 81 saham stagnan.
Saham-saham yang menguat di antaranya PT Panin Sekuritas Tbk (PANS) naik Rp180 menjadi Rp3.750, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) naik Rp115 menjadi Rp1.645, dan PT Astra Graphia Tbk (ASGR) naik Rp55 menjadi Rp1.920.
Sementara, saham-saham yang menguat di antaranya PT Danasupra Erapacific Tbk (DEFI) meningkat Rp180 menjadi Rp905, PT Indoritel Makmur Internasional Tbk. (DNET) bertambah Rp150 menjadi Rp1.180 dan PT Duta Anggada Realty Tbk. (DART) naik Rp54 menjadi Rp460.
Selanjutnya saham yang melemah di antaranya PT Asuransi Bina Dana Arta Tbk. (ABDA) melemah Rp500 menjadi Rp7.000, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) menyusut Rp85 menjadi Rp1.420 dan PT Astra International Tbk. (ASII) berkurang Rp75 menjadi Rp7,625.
Di sisi lain IHSG pada perdagangan sesi I hari ini semakin terkapar hingga 137,71 poin atau 2,63% ke level 5.094,26 setelah pada perdagangan tadi pagi dibuka anjlok ke level 5.178,34 dengan kejatuhan 1,03% atau setara dengan 53,63 poin. Sedangkan kemarin pasar saham Tanah Air berakhir tenggelam hingga 218,33 poin atau 4,01% ke level 5.231,97.
Seperti dilansir CNBC, Senin (14/11/2016) mayoritas pasar saham Asia pada akhir perdagangan awal pekan ini tergelincir, saat Nikkei masih kokoh di zona hijau sejak sesi pembukaan. Indeks Nikkei Jepang melompat 1,71% atau setara dengan 297,83 poin dan berakhir di level 17.672,62, setelah data perekonomian Negeri Matahari Terbit -julukan Jepang- itu naik 2,2% secara year-on-year (YoY).
Sementara di sisi lain bursa utama Asia lainnya seperti indeks Hang Seng justru melemah sebesar 1,37% atau setara dengan 308,87 poin ke level 22.222,22 mengiringi kejatuhan indeks Strait Times yang berkurang 25,33 poin menjadi 2.789,27. Pasar saham Australia juga mencetak hasil negatif saat indeks 200 ditutup menyusut 47% atau 25,04 poin ke level 5.345,7.
Pelemahan indeks Australia dipengaruhi sektor material yang turun 1,31% serta kejatuhan sektor keuangan sebesar 0,53%. Bank-bank besar di Australia seperti Westpac dan ANZ tidak terkecuali juga mengalami pelemahan saham sebesar 3,17% dan 1,45% untuk masing-masing.
Di sisi lain penguatan terjadi pada bursa saham daratan China, ketika indeks Shanghai ditutup naik 0,44% atau setara dengan 14,06 poin menjadi 3.210,1 dan komposit Shenzhen ditutup naik 0,297% atau 6,27 poin ke level 2.114,3. Data ekonomi China sendiri pada awal pekan ini terlihat variatif, dimana Investasi Aktiva naik 8,3% pada periode Januari hingga Oktober untuk melebihi ekspektasi pasar.
Sedangkan output industri China untuk Oktober juga melonjak, meski tidak sebesar perkiraan yakni naik 6,1% dan penjualan ritel tumbuh 10% pada Oktober. Meski ditopang data positif, namun beberapa saham pada indeks Shanghai tercatat di bawah tekanan seperti saham teknologi.
Hasil negatif juga dicetak indek Kospi yang juga turun 0,51% atau 10.03 poin ke level 1,974.4 saat krisis politik yang berkembang. Seperti diketahui ratusan ribu demonstran turun ke jalan untuk menyerukan pengunduran diri Presiden Park Geun-hye yang dimulai sejak akhir pekan kemarin, lantaran kolega sang Presiden diyakini ikut campur dalam kebijakan pemerintah.
Sektor saham di dalam negeri mayoritas berada dalam tren negatif, dipimpin kejatuhan sektor infrastruktur yang turun 3.68% diikuti keuangan dengan penyusutan sebesar 3,44%. Satu-satunya sektor yang mencetak hasil positif adalah perkebunan 0,73%.
Adapun nilai transaksi di bursa Indonesia tercatat sebesar Rp11,15 triliun dengan 11,4 miliar saham diperdagangkan dan transaksi bersih asing minus Rp1,96 triliun dengan aksi jual asing mencapai Rp5,92 triliun dan aksi beli sebesar Rp3,95 triliun. Tercatat di akhir perdagangan hari ini sebanyak 72 saham menguat, 281 saham melemah dan 81 saham stagnan.
Saham-saham yang menguat di antaranya PT Panin Sekuritas Tbk (PANS) naik Rp180 menjadi Rp3.750, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) naik Rp115 menjadi Rp1.645, dan PT Astra Graphia Tbk (ASGR) naik Rp55 menjadi Rp1.920.
Sementara, saham-saham yang menguat di antaranya PT Danasupra Erapacific Tbk (DEFI) meningkat Rp180 menjadi Rp905, PT Indoritel Makmur Internasional Tbk. (DNET) bertambah Rp150 menjadi Rp1.180 dan PT Duta Anggada Realty Tbk. (DART) naik Rp54 menjadi Rp460.
Selanjutnya saham yang melemah di antaranya PT Asuransi Bina Dana Arta Tbk. (ABDA) melemah Rp500 menjadi Rp7.000, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) menyusut Rp85 menjadi Rp1.420 dan PT Astra International Tbk. (ASII) berkurang Rp75 menjadi Rp7,625.
(akr)
Lihat Juga :