Sejumlah Ekonom Sambut Penerapan GWM Averanging oleh BI
Selasa, 13 Desember 2016 - 22:39 WIB

Sejumlah Ekonom Sambut Penerapan GWM Averanging oleh BI
A
A
A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memastikan akan menerapkan kebijakan Giro Wajib Minimum (GWM) rata-rata atau GWM averaging pada 2017. Dalam penerapannya, BI berencana akan menerapkan GMW Averaging secara parsial atau bertahap.
Menurut Kepala Ekonom BCA David Sumual, langkah BI menerapkan kebijakan GWM Averaging secara parsial karena memang setiap kebijakan moneter harus dilakukan lebih prudent atau hati-hati.
"Ini kan penyesuaian harus dilihat dulu dampaknya. Waktu itu BI mengubah BI rate jadi BI 7 day RR itu kan melalui tahapan-tahapan juga. Namanya kebijakan moneter itu memang harus prudent, harus berhati-hati, konservatif. Jadi tujuannya supaya lebih prudent," ujar David dalam keterangannya kepada SINDOnews, Jakarta, Selasa (13/12/2016)
Selain itu, lanjut dia, penerapan secara bertahap ini juga agar BI dapat melihat dampak dan respons kebijakan tersebut dari perbankan dan pasar keuangan.
"BI mungkin mau melihat seberapa besar dampaknya, ada anomali atau tidak. Kadang kebijakan itu bisa juga ditanggapi negatif di pasar. Jadi enggak bisa kita terapkan langsung," jelas David.
Sementara itu, ekonom yang juga menjabat Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Destry Damayanti mengatakan, diterapkannya GWM Averaging secara bertahap akan jauh lebih baik ketimbang dilakukan langsung. Pasalnya setiap bank punya kesiapan yang berbeda-beda.
"Mungkin dilihat dulu bank bisa mengikuti atau tidak. Kalau terlalu berfluktuasi, misalnya sekarang kan GWM 6,5 persen. Kalau langsung dikenakan bisa saja kalau bank tidak berhati-hati, posisi GWM-nya berfluktuasi dan berdampak pada masalah likuiditas. Bank kita kan banyak sekali ada 118 bank, kondisi satu bank dengan bank lainnya berbeda-beda," jelas Destry.
Dibanding GWM Primer yang diterapkan saat ini, Destry menilai GWM Averaging lebih bagus untuk bank. Karena bank lebih fleksibel mengelola likuiditasnya setiap hari yang kadang transaksi keluarnya likuiditas lebih besar daripada transaksi masuk.
"Diterapkan secara bertahap jauh lebih baik ketimbang langsung diterapkan secara drastis. Kalau saya sih setuju secara parsial dan penerapan GWM Averaging ini akan mempermudah bank dalam mengatur likuiditasnya," tutur Destry.
Sebelumnya, dalam Pertemuan Tahunan BI, Gubernur BI Agus Martowardojo memperkenalkan kebijakan GWM Averaging dan akan diterapkan pada Semester II 2017. Menurutnya, kebijakan ini merupakan best practice (praktik terbaik) yang sudah dijalankan di negara-negara maju. "GWM Averaging adalah best practice di negara-negara yang sudah mapan. Untuk itu kita akan mempersiapkannya," ucap Agus.
Adapun pada GWM saat ini, BI menghitung dana milik bank yang disimpan di giro BI setiap waktu, bukan per periode. Misal, saat ini rasio GWM Primer atau yang diartikan sebagai simpanan minimum bank dalam rupiah atau valas di BI sebesar 6,5%. Maka, setiap waktu bank harus menaruh 6,5% dari total Dana Pihak Ketiga bank di giro BI.
Setelah pemberlakuan GWM Averaging maka kewajiban bank dalam menaruh simpanan di giro BI akan dihitung secara rata-rata per periode. Harapannya, dengan GWM Averaging ini perbankan lebih mudah mengatur likuiditasnya sehingga ke depan kebutuhan likuiditas bisa disesuaikan.
Menurut Kepala Ekonom BCA David Sumual, langkah BI menerapkan kebijakan GWM Averaging secara parsial karena memang setiap kebijakan moneter harus dilakukan lebih prudent atau hati-hati.
"Ini kan penyesuaian harus dilihat dulu dampaknya. Waktu itu BI mengubah BI rate jadi BI 7 day RR itu kan melalui tahapan-tahapan juga. Namanya kebijakan moneter itu memang harus prudent, harus berhati-hati, konservatif. Jadi tujuannya supaya lebih prudent," ujar David dalam keterangannya kepada SINDOnews, Jakarta, Selasa (13/12/2016)
Selain itu, lanjut dia, penerapan secara bertahap ini juga agar BI dapat melihat dampak dan respons kebijakan tersebut dari perbankan dan pasar keuangan.
"BI mungkin mau melihat seberapa besar dampaknya, ada anomali atau tidak. Kadang kebijakan itu bisa juga ditanggapi negatif di pasar. Jadi enggak bisa kita terapkan langsung," jelas David.
Sementara itu, ekonom yang juga menjabat Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Destry Damayanti mengatakan, diterapkannya GWM Averaging secara bertahap akan jauh lebih baik ketimbang dilakukan langsung. Pasalnya setiap bank punya kesiapan yang berbeda-beda.
"Mungkin dilihat dulu bank bisa mengikuti atau tidak. Kalau terlalu berfluktuasi, misalnya sekarang kan GWM 6,5 persen. Kalau langsung dikenakan bisa saja kalau bank tidak berhati-hati, posisi GWM-nya berfluktuasi dan berdampak pada masalah likuiditas. Bank kita kan banyak sekali ada 118 bank, kondisi satu bank dengan bank lainnya berbeda-beda," jelas Destry.
Dibanding GWM Primer yang diterapkan saat ini, Destry menilai GWM Averaging lebih bagus untuk bank. Karena bank lebih fleksibel mengelola likuiditasnya setiap hari yang kadang transaksi keluarnya likuiditas lebih besar daripada transaksi masuk.
"Diterapkan secara bertahap jauh lebih baik ketimbang langsung diterapkan secara drastis. Kalau saya sih setuju secara parsial dan penerapan GWM Averaging ini akan mempermudah bank dalam mengatur likuiditasnya," tutur Destry.
Sebelumnya, dalam Pertemuan Tahunan BI, Gubernur BI Agus Martowardojo memperkenalkan kebijakan GWM Averaging dan akan diterapkan pada Semester II 2017. Menurutnya, kebijakan ini merupakan best practice (praktik terbaik) yang sudah dijalankan di negara-negara maju. "GWM Averaging adalah best practice di negara-negara yang sudah mapan. Untuk itu kita akan mempersiapkannya," ucap Agus.
Adapun pada GWM saat ini, BI menghitung dana milik bank yang disimpan di giro BI setiap waktu, bukan per periode. Misal, saat ini rasio GWM Primer atau yang diartikan sebagai simpanan minimum bank dalam rupiah atau valas di BI sebesar 6,5%. Maka, setiap waktu bank harus menaruh 6,5% dari total Dana Pihak Ketiga bank di giro BI.
Setelah pemberlakuan GWM Averaging maka kewajiban bank dalam menaruh simpanan di giro BI akan dihitung secara rata-rata per periode. Harapannya, dengan GWM Averaging ini perbankan lebih mudah mengatur likuiditasnya sehingga ke depan kebutuhan likuiditas bisa disesuaikan.
(ven)