Lira Turki Jatuh Setelah Penembakan Duta Besar Rusia

Selasa, 20 Desember 2016 - 06:21 WIB
Lira Turki Jatuh Setelah...
Lira Turki Jatuh Setelah Penembakan Duta Besar Rusia
A A A
ISTANBUL - Mata uang Turki, lira jatuh ke posisi terendah pada perdagangan Senin (19/12/2016) waktu Turki, setelah Duta Besar Rusia untuk Turki Andrey Karlov tewas ditembak anggota kepolisian Turki. Melansir dari CNBC, Selasa (20/12/2016), lira Turki terjerembab 0,6% ke level 3.526 per dolar Amerika Serikat, setelah insiden penembakan.

Steve Hanke, direktur mata uang di Cato Institute, Washington, AS, mengatakan kejadian penembakan Dubes Rusia semakin menambah buruk kondisi lira Turki. Pada tahun ini, lira Turki telah kehilangan 20% terhadap dolar AS.

“Meski perekonomian Turki tumbuh USD720 miliar namun kekacauan politik dan aksi terorisme yang melanda pada beberapa bulan terakhir, membuat perekonomian Turki pada titik kritis,” ujarnya. Dan bila dikonversi ke dalam rupiah, perekonomian Turki tumbuh mencapai Rp9.644 triliun (estimasi kurs Rp13.395/USD).

Ekonomi Turki pun menyusut hingga 1,8% pada kuartal III 2016. Padahal pada 2009, pertumbuhan ekonomi Turki mulai melesat. Situasi buruk membuat penurunan investasi asing di Turki. Departemen Keuangan Turki mengungkapkan, gejolak politik di Turki belakangan telah mempengaruhi investasi asing langsung (foreign direct investment). Investasi asing turun 68% dalam tujuh bulan terakhir tahun ini hingga USD2,5 miliar (Rp33,48 triliun) menjadi USD7,5 miliar (Rp100,46 triliun).

Para ekonom menilai kekhawatiran dan ketidakpastian yang berlarut-larut, bisa menyebabkan pelarian modal (capital outflow) di Turki, dan menempatkan ekonomi negara menjadi goyah. Mengantisipasi kemungkinan buruk, Presiden Turki Tayyip Erdogan mengimbau warga Turki untuk mengkonversi tabungan dalam mata uang asing menjadi emas dan lira Turki.

“Saat ini yang dibutuhkan oleh investor adalah kepastian hukum,” ujar Sinan Ulgen, managing partner di Istanbul Economics. Ia menambahkan Turki saat ini mengalami kondisi dalam negeri yang sulit apalagi ditambah kejadian kudeta militer pada Juni lalu dan arus pengungsi.

Krisis mata uang di pasar negara berkembang pun semakin menjadi usai Donald Trump memenangkan Pilpres AS dan The Fed menaikkan suku bunga acuan. Sementara Erdogan sendiri dihadapkan “perang” dengan bank sentral mereka sendiri, dimana Erdogan menolak untuk menaikkan suku bunga lebih tinggi lagi.

Langkah Erdogan yang keras terhadap kelompok oposisi, termasuk pembersihan terhadap Dewan Pasar Modal, semakin menambah parah keadaan. Sementara itu, perusahaan investasi besar asal Amerika seperti Microsoft, Intel, dan Coca-Cola yang memiliki kantor pusat regional di Turki mulai terkena dampak gejolak pasar domestik.

Adapun PepsiCo memiliki investasi USD120 juta dan GE menanamkan modal di bidang kesehatan sebesar USD668 juta. Dan perusahaan ekuitas asal Uni Emirat Arab, Abraaj Group menginvestasi dana hingga USD9,5 miliar.

Namun Chief Executive Officer Citibank Turki, Serra Akcaoglu mengatakan kebijakan pemerintah Turki sangat pro-bisnis. Dia menerangkan bahwa pemerintah telah melakukan 25 langkah reformasi untuk memperbaiki iklim investasi dan mempertahankan suku bunga yang rendah, termasuk pembebasan pajak perusahaan.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Rupiah Menguat saat...
Rupiah Menguat saat Banyak Mata Uang Asia Melemah
5 Mata Uang Paling Banyak...
5 Mata Uang Paling Banyak Digunakan di Dunia, Nomor 1 Transaksi Hariannya Tembus Rp43.500 Triliun
8 Efek Mata Uang Baru...
8 Efek Mata Uang Baru BRICS terhadap Dollar AS jika Sudah Berlaku
Deretan Negara Ini Tak...
Deretan Negara Ini Tak Mempunyai Mata Uang, Salah Satunya Tetangga Indonesia
Mata Uang BRICS Bakal...
Mata Uang BRICS Bakal Gantikan Dolar Disebut Gagasan Konyol
Apakah Bitcoin Bisa...
Apakah Bitcoin Bisa Menggantikan Dolar AS di Masa Depan?
Berita Terkini
Harga Emas Dibuka Naik...
Harga Emas Dibuka Naik Rp5 Ribu ke Rp2.743.000 per Gram, Intip Rinciannya
32 menit yang lalu
Marketplace kian Sesak,...
Marketplace kian Sesak, Momentum Baru bagi Pertumbuhan Bisnis Mandiri
1 jam yang lalu
IHSG Hari Ini Dibuka...
IHSG Hari Ini Dibuka Makin Terkapar di Posisi 5.486, Ada 515 Saham Melemah
1 jam yang lalu
Perbandingan Harga BBM...
Perbandingan Harga BBM Pertamina, Shell, Vivo dan BP di Awal Juni 2026
2 jam yang lalu
Libur Sekolah 2026,...
Libur Sekolah 2026, Tarif Angkutan Penyeberangan Diskon Sekitar 21,9%
3 jam yang lalu
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
4 jam yang lalu
Infografis
Ini Kecanggihan Drone...
Ini Kecanggihan Drone MQ-9 Reaper AS, 11 Unit Telah Ditembak Jatuh Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved