Dilema Rupiah: Antara Suku Bunga The Fed dan Pelantikan Trump
Rabu, 28 Desember 2016 - 07:07 WIB
Dilema Rupiah: Antara Suku Bunga The Fed dan Pelantikan Trump
A
A
A
JAKARTA - Kondisi nilai tukar rupiah menghadapi dilema pada tahun 2017. Penyebabnya adalah potensi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) dan pelantikan Presiden AS Donald Trump akan mempengaruhi nasib mata uang NKRI.
Analis Investa Saran Mandiri Hans Kwee mengatakan, pergerakan rupiah cenderung tertekan sejak Donald John Trump memenangkan Pilpres AS dan Federal Reserve mengerek suku bunga pada awal Desember ini.
Hans menjelaskan kebijakan Trump mulai dari internasional hingga dalam negeri, seperti belanja infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, inflasi dan kenaikan suku bunga membuat ketidakpastian ekonomi. Sehingga peluang rupiah menguat agak kecil dan diperkirakan bergerak di rentang Rp13.500-Rp14.000/USD sampai dengan semester I 2017.
"Menguat agak kecil peluangnya. Divergent antara Fed dan bank sentral dunia yang melakukan quantitative easing dan Fed cenderung menaikkan suku bunga. Kecuali kabinet Donald Trump jelek, kebijakan enggak jelas, rupiah bisa menguat," ujarnya kepada SINDOnews, belum lama ini.
Senada dengan itu, ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual menuturkan, dalam beberapa waktu ke depan nilai tukar rupiah akan cenderung tertekan. Menurutnya, rupiah akan terus bergejolak sampai diumumkan susunan kabinet pemerintahan AS yang baru.
"Kecenderungan mungkin masih akan tertekan karena ekspetasi di pasar sampai nanti diresmikannya pemerintahan Amerika, kabinetnya seperti apa," pungkasnya.
VP Corporate Development & Market Research ForexTime Ltd (FXTM) Jameel Ahmad meramalkan kebintangan mata uang dolar Amerika Serikat (USD) akan memudar awal tahun 2017. USD diperkirakan mulai melemah setelah Donald Trump dilantik sebagai Presiden AS.
Jameel menjelaskan, sebelum Trump dilantik, kondisi nilai tukar USD masih terus perkasa terhadap mata uang lain termasuk rupiah. Akhir Januari nanti diprediksi itu semua berbalik 180 derajat.
"Jadi, pelemahan rupiah terhadap dolar akan melemah sampai Trump dilantik jadi Presiden AS akhir Januari nanti. Dan setelah dia dilantik ada risiko koreksi dolar. Dari sekarang sampai Trump dilantik, semua mata uang akan melemah termasuk rupiah," ujarnya.
Saat ini, kata dia, kebintangan USD masih bersinar terang di atas langit Indonesia dan negara-negara lain. Bahkan angka kekuatan mata uang Negeri Paman Sam itu sedang berada di titik tertinggi dalam 15 tahun terakhir.
"Jadi, ceritanya tentang dolar, bintangnya dolar AS, mata uang negara lain banyak ketidakpastian, itu sebab melemahnya banyak mata uang. Nilai tukar USD sekarang kekuatannya 100, tertinggi 15 tahun terkahir. Poundsterling 124, dulu poundsterling 150 dan yen dulu 125, sekarang 94, rupiah 36. Standar dolar AS 100 belum maksimum, masih bisa naik lagi," kata Jameel.
Di sisi lain, faktor kuat yang membuat rupiah akan mengalami pelemahan berasal dari bank sentral AS, The Fed yang akan menaikkan suku bunga (Fed rate) akhir tahun ini. Saat itu, USD diyakini tambah perkasa meski sebenarnya data perekonomian Indonesia masih cenderung baik.
"Fed rate akan naik akhir tahun dan naik dua kali lagi tahun depan. Dolar menguat bukan cermin ekonomi Indonesia," katanya.
Komisi XI DPR RI menilai, gejolak yang terjadi pada kurs nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD), pasca keputusan The Fed menaikkan tingkat suku bunga acuannya adalah hal biasa. Bahkan, baik The Fed menaikkan atau menurunkan tingkat suku bunganya, Indonesia pasti akan terkena dampaknya.
Meski demikian, anggota Komisi XI Donny Imam Priambodo mengungkapkan, secara fundamental ekonomi Indonesia saat ini dalam kondisi cukup kokoh. Sehingga gejolak nilai tukar mata uang Garuda tidak akan membuat ekonomi Indonesia tergerus.
"Fed bunganya naik kita kena, turun juga kena. Dan saya sependapat dengan apa yang disampaikan Ibu Sri Mulyani bahwa fundamental (ekonomi) cukup baik. Jadi naik tidaknya kurs bukan hal menakutkan, yang penting stabil," katanya kepada wartawan.
Analis Investa Saran Mandiri Hans Kwee mengatakan, pergerakan rupiah cenderung tertekan sejak Donald John Trump memenangkan Pilpres AS dan Federal Reserve mengerek suku bunga pada awal Desember ini.
Hans menjelaskan kebijakan Trump mulai dari internasional hingga dalam negeri, seperti belanja infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, inflasi dan kenaikan suku bunga membuat ketidakpastian ekonomi. Sehingga peluang rupiah menguat agak kecil dan diperkirakan bergerak di rentang Rp13.500-Rp14.000/USD sampai dengan semester I 2017.
"Menguat agak kecil peluangnya. Divergent antara Fed dan bank sentral dunia yang melakukan quantitative easing dan Fed cenderung menaikkan suku bunga. Kecuali kabinet Donald Trump jelek, kebijakan enggak jelas, rupiah bisa menguat," ujarnya kepada SINDOnews, belum lama ini.
Senada dengan itu, ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual menuturkan, dalam beberapa waktu ke depan nilai tukar rupiah akan cenderung tertekan. Menurutnya, rupiah akan terus bergejolak sampai diumumkan susunan kabinet pemerintahan AS yang baru.
"Kecenderungan mungkin masih akan tertekan karena ekspetasi di pasar sampai nanti diresmikannya pemerintahan Amerika, kabinetnya seperti apa," pungkasnya.
VP Corporate Development & Market Research ForexTime Ltd (FXTM) Jameel Ahmad meramalkan kebintangan mata uang dolar Amerika Serikat (USD) akan memudar awal tahun 2017. USD diperkirakan mulai melemah setelah Donald Trump dilantik sebagai Presiden AS.
Jameel menjelaskan, sebelum Trump dilantik, kondisi nilai tukar USD masih terus perkasa terhadap mata uang lain termasuk rupiah. Akhir Januari nanti diprediksi itu semua berbalik 180 derajat.
"Jadi, pelemahan rupiah terhadap dolar akan melemah sampai Trump dilantik jadi Presiden AS akhir Januari nanti. Dan setelah dia dilantik ada risiko koreksi dolar. Dari sekarang sampai Trump dilantik, semua mata uang akan melemah termasuk rupiah," ujarnya.
Saat ini, kata dia, kebintangan USD masih bersinar terang di atas langit Indonesia dan negara-negara lain. Bahkan angka kekuatan mata uang Negeri Paman Sam itu sedang berada di titik tertinggi dalam 15 tahun terakhir.
"Jadi, ceritanya tentang dolar, bintangnya dolar AS, mata uang negara lain banyak ketidakpastian, itu sebab melemahnya banyak mata uang. Nilai tukar USD sekarang kekuatannya 100, tertinggi 15 tahun terkahir. Poundsterling 124, dulu poundsterling 150 dan yen dulu 125, sekarang 94, rupiah 36. Standar dolar AS 100 belum maksimum, masih bisa naik lagi," kata Jameel.
Di sisi lain, faktor kuat yang membuat rupiah akan mengalami pelemahan berasal dari bank sentral AS, The Fed yang akan menaikkan suku bunga (Fed rate) akhir tahun ini. Saat itu, USD diyakini tambah perkasa meski sebenarnya data perekonomian Indonesia masih cenderung baik.
"Fed rate akan naik akhir tahun dan naik dua kali lagi tahun depan. Dolar menguat bukan cermin ekonomi Indonesia," katanya.
Komisi XI DPR RI menilai, gejolak yang terjadi pada kurs nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD), pasca keputusan The Fed menaikkan tingkat suku bunga acuannya adalah hal biasa. Bahkan, baik The Fed menaikkan atau menurunkan tingkat suku bunganya, Indonesia pasti akan terkena dampaknya.
Meski demikian, anggota Komisi XI Donny Imam Priambodo mengungkapkan, secara fundamental ekonomi Indonesia saat ini dalam kondisi cukup kokoh. Sehingga gejolak nilai tukar mata uang Garuda tidak akan membuat ekonomi Indonesia tergerus.
"Fed bunganya naik kita kena, turun juga kena. Dan saya sependapat dengan apa yang disampaikan Ibu Sri Mulyani bahwa fundamental (ekonomi) cukup baik. Jadi naik tidaknya kurs bukan hal menakutkan, yang penting stabil," katanya kepada wartawan.
(ven)