Bank Dunia Ramal Ekonomi Negara Berkembang ASEAN Makin Cerah

Kamis, 13 April 2017 - 12:15 WIB
Bank Dunia Ramal Ekonomi...
Bank Dunia Ramal Ekonomi Negara Berkembang ASEAN Makin Cerah
A A A
JAKARTA - Ekonom Utama Bank Dunia untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik Sudhir Shetty menyatakan, ekonomi negara-negara besar dan berkembang di kawasan ASEAN akan menguat lebih cepat pada 2017-2018. Hal ini karena faktor berbeda-beda di setiap negara.

Untuk Filipina akan mendapat keuntungan dari belanja publik yang lebih tinggi untuk infrastruktur, kenaikan investasi swasta, ekspansi kredit dan bertambahnya pemasukan dari luar negeri. "Pertumbuhannya akan menguat ke 6,9% pada 2017 dan 2018," ujar dia di Jakarta, Kamis (13/4/2017).

Untuk Malaysia, subsidi pemerintah yang lebih tinggi serta belanja infrastruktur yang lebih banyak dan kenaikan ekspor akan menaikkan pertumbuhan negara tersebut menjadi 4,3% di 2017 dan 4,5% pada 2018.

"Di Indonesia sendiri, ekspansi kredit dan kenaikan harga minyak akan mendorong perekonomian tumbuh ke 5,2% pada 2017, naik dari 5% di 2016," imbuhnya.

Sementara di Vietnam, pertumbuhan akan naik menjadi 6,3%. Hal ini seiring sentimen pasar yang positif dan investasi asing langsung yang kuat.

Secara umum, ekonomi negara-negara yang lebih kecil di kawasan tersebut akan mendapat manfaat dari ketangguhan perekonomian negara tetangga mereka yang lebih besar, serta sebagian dari mereka akan mendapat keuntungan dari harga komoditas yang lebih tinggi.

"Untuk ekonomi Kamboja akan naik menjadi 6,9% di 2017 dan 2018, seiring naiknya belanja publik serta ekspansi di bidang pertanian dan pariwisata yang mengimbangi penurunan di bidang konstruksi dan garmen," tutur dia.

Sementara, ekonomi Myanmar akan naik ke 6,9% pada 2017 dan 7,2% oada 2018. Hal ini seiring kenaikan belanja infrastruktur dan reformasi struktural yang akan memancing investasi asing. Untuk ekonomi di Papua Nugini secara bertahap akan pulih, didorong berbagai proyek baru di sektor tambang dan migas.

"Papua Nugini akan mencapai 3,0% tahun ini dan 3,2% tahun depan. Untuk ekonomi Mongolia akan stagnan di 2017 seiring upaya pemerintah untuk memulihkan utangnya ke tingkat yang lebih baik," pungkasnya.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
5 Strategi Pemulihan...
5 Strategi Pemulihan Ekonomi ASEAN dari Dampak Covid-19
Perlindungan Alam di...
Perlindungan Alam di Asia Tenggara Berpotensi Tumbuhkan Ekonomi
Asia Tenggara Berpotensi...
Asia Tenggara Berpotensi Besar Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Dunia
Kiai Cholil Nafis Dorong...
Kiai Cholil Nafis Dorong Asia Tenggara Terapkan Ekonomi Syariah
Pandemi Pacu Ekonomi...
Pandemi Pacu Ekonomi Digital Asia Tenggara Tembus Rp1.470 Triliun
IMF Wanti-wanti Soal...
IMF Wanti-wanti Soal Pembatasan, Tekan Pemulihan Ekonomi Asia Tenggara
Berita Terkini
Saat Infrastruktur,...
Saat Infrastruktur, Fasilitas, dan Komunitas Tumbuh Bersama dalam Satu Kawasan
8 jam yang lalu
Cara PAMA Ikut Meningkatkan...
Cara PAMA Ikut Meningkatkan Kualitas Kesehatan Masyarakat
9 jam yang lalu
Prabowo: 66,4 Juta Warga...
Prabowo: 66,4 Juta Warga RI Dapat LPG Subsidi, Lebih Banyak dari Penduduk Singapura
9 jam yang lalu
Menanti Peran Besar...
Menanti Peran Besar Pertamina dalam Proyek LNG Kelas Dunia Blok Masela
9 jam yang lalu
Purbaya Segera Temui...
Purbaya Segera Temui Kepala BGN, Bahas Pemotongan Anggaran MBG
10 jam yang lalu
Soal Investor PFII Bebas...
Soal Investor PFII Bebas Pajak hingga 50 Tahun, Purbaya: Masih Belum Tentu
10 jam yang lalu
Infografis
Slavko Vincic, Wasit...
Slavko Vincic, Wasit Final Piala Dunia 2026 yang Pelit Kartu
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved