Ekonom: Momentum Membenahi Tata Niaga Industri Garam

Jum'at, 04 Agustus 2017 - 21:08 WIB
Ekonom: Momentum Membenahi...
Ekonom: Momentum Membenahi Tata Niaga Industri Garam
A A A
JAKARTA - Kelangkaan garam nasional baik untuk kebutuhan konsumsi maupun industri dalam beberapa hari terakhir, dinilai bisa menjadi momentum yang tepat untuk membenahi kebijakan garam di Tanah Air. Ekonom Universitas Indonesia (UI) Berly Martawardaya menerangkan, pembenahan yang dilakukan termasuk tata kelembagaan mulai dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kementerian Perdagangan, PT Garam hingga pihak lain yang terlibat.

Menurutnya sudah saatnya menanggalkan ego sektoral dan bekerja bersama untuk membuat perubahan. Berly mengungkapkan turunnya produksi garam ketika permintaan tetap stabil membuat harga menjadi melonjak. Sementara terkait kebijakan impor, menurutnya hal tersebut merupakan solusi jangka pendek karena yang paling penting adalah mendongkrak produksi dalam dua hingga tiga tahun ke depan.

“Produksi turun. Demand tetap, sehingga harga naik. Solusi jangka pendek ya impor, tapi harus jadi target kebijakan sistematis untuk tingkatkan kapasitas produksi dalam 2-3 tahun ke depan,” kata Berly kepada wartawan, Jumat (4/8/2018).

Guna dapat mendongkrak jumlah produksi garam, Ia menambahkan diperlukan kebijakan sistematis yang dapat meningkatkan teknologi dan manajemen yang baik. Terang Berly, lokasi tempat produksi juga perlu diperhatikan, jika tempat produksi jauh dari lokasi pembeli, harga jual akan mahal, karena biaya transport jauh. “Kalau produksi jauh dari lokasi pembeli, maka biaya transport jadi mahal harga jual,” ujar Berly.

Sementara Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menjelaskan, menurutnya pemerintah sebenarnya sudah memiliki program untuk petani garam, yakni program Pengembangan Usaha Garam Rakyat (PUGAR). Namun, implementasinya tidak berjalan maksimal.

"Ini tapi enggak jalan, realisasi bantuan tidak pernah mencapai 100%, target produksi garam dari PUGAR hanya 51,4 % dari target. Jadi, programnya sudah ada, tetapi tidak serius diawasi pemerintah," tuturnya.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mau tidak mau harus impor garam sebanyak 75 ribu ton dari Australia. Alasan kenapa impor garam dari Australia adalah karena jarak tempuhnya yang relatif singkat, sehingga mempercepat garam sampai di Indonesia. "Kita semua berharap kedepannya Indonesia dapat swasembada garam, dan menjadi negara yang berdirikari," ungkap Enggar.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Produksi Garam Sulsel...
Produksi Garam Sulsel Terus Turun Dalam 2 Tahun Terakhir
Produksi dan Kebutuhan...
Produksi dan Kebutuhan Jomplang, RI Bakal Kecanduan Impor Garam
Pakar UI: Garam Bermutu...
Pakar UI: Garam Bermutu Dihasilkan Dari Panen di Atas Meja Garam
APGRI Beberkan Penyebab...
APGRI Beberkan Penyebab Indonesia Selalu Impor Garam
Industri Pengguna Garam...
Industri Pengguna Garam Bisa Tenang, Ada Jaminan Pasokan dari Kemenperin
KPPU Endus Ada potensi...
KPPU Endus Ada potensi Rente di Impor Garam
Berita Terkini
Jakarta Fair 2026 Diserbu...
Jakarta Fair 2026 Diserbu 6 Juta Pengunjung, Nilai Transaksi Cetak Rp8,2 Triliun
6 jam yang lalu
Laporan Menkop ke Prabowo:...
Laporan Menkop ke Prabowo: 15.845 Koperasi Merah Putih Sudah Berdiri, 19 Ribu Masih Dibangun
7 jam yang lalu
Pengawasan DMO Diperketat,...
Pengawasan DMO Diperketat, PLN Didorong Kebut Kontrak Pasokan Batu Bara
9 jam yang lalu
Garuda Terapkan Bagasi...
Garuda Terapkan Bagasi Piece Concept, Bawaan Penumpang Bisa hingga 64 Kg
11 jam yang lalu
Selat Hormuz Kembali...
Selat Hormuz Kembali Ditutup Total, Siap-siap Harga Minyak Bisa Meroket
12 jam yang lalu
Bandara Banda Neira...
Bandara Banda Neira Bakal Dibangun Ulang, Pesawat Kapasitas Besar Bisa Mendarat
13 jam yang lalu
Infografis
Konflik Rusia Ukraina...
Konflik Rusia Ukraina Jadi Berkah Buat Industri Migas RI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved