Sektor Migas Tak Lagi Jadi Andalan Pendapatan APBN

Jum'at, 18 Agustus 2017 - 17:34 WIB
Sektor Migas Tak Lagi...
Sektor Migas Tak Lagi Jadi Andalan Pendapatan APBN
A A A
JAKARTA - Direktur Program Instutute for Development of Economics and Finance (Indef) Berly Martawardaya mengatakan, sektor migas bukanlah jadi andalan pendapatan APBN. Karena itu, di APBN 2018 harus memaksimalkan cukai dan pajak.

"Migas sangat kecil sekali. Andalan masih PPh nonmigas dan cukai. Makanya kalau maksimal, maka 2018 harus memaksimalkan pajak dan cukai," ujarnya di Jakarta, Jumat (18/8/2017).

Menurutnya, berdasarkan data APBN 2018, pertumbuha sektor pendapatan di luar PPh Migas naik di atas 10%. Sementara, migas justru mengalami minus 11%-12%. Sebab, saat ini mengalami masa transisi bahwa migas tidak lagi menjadi sumber pendapatan penting.

"Memang dengan harga gas kita yang terus turun dan produksi gas juga turun maka, komposisi pendapatan dari sektor migas juga terus menurun," kata dia.

Padahal, lanjut Berly, dahulu komposisi pendapatan sektor migas mencapai 25% dan sejak tiga tahun terakhir ini terus menurun. Sehingga pemerintah harus efesien dan mencari sumber pendapatan lain, di antaranya non migas dan mulai disadari pemerintah.

Pihaknya menilai, sektor pendapatan yang perlu digenjot yaitu pajak dan cukai. Cukai itu potensinya cukup besar, bahkan sampai saat ini secara natural pertumbuhan ekonomi sekitar 9%-10%.

Di luar itu, RAPBN 2018 menjadi APBN terakhir sebelum pileg dan pilpres 2019. Menurutnya, ada upaya kehati-hatian dan upaya bersih-bersih, di antaranya utang yang masih besar berusaha ditekan.

"APBN 2015 sampai 2017 terlalu ambisius, terbukti target pajak tidak pernah tercapai. Bahkan tahun lalu dan tahun ini ada pemotongan di tengah jalan sebesar Rp170 triliun serta ada pemotongan dana transfer daerah," jelasnya.

Berly menuturkan, pendapatan 2018 ditarget naik 12% lebih, di mana pendapatan 2017 sebesar Rp1.736,1 triliun dan naik menjadi Rp1.878,4 triliun. Namun, sisi belanja naiknya hanya sedikit, yakni dari Rp2.133,3 triliun pada 2017 menjadi Rp2.204,4 triliun pada 2018.

"Makanya saya katakan dari sini ada kehati-hatianya, sehingga memyimpan kekhawatiran bila target 2017 tidak tercapai," kata dia.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Jokowi Umumkan Postur...
Jokowi Umumkan Postur RAPBN 2024, Target Penerimaan Negara Rp2.781,3 Triliun
Kejar Pendapatan Negara...
Kejar Pendapatan Negara Rp2.463 Triliun di RAPBN 2023, Sri Mulyani Didukung DPR
Alokasi Dana Pendidikan...
Alokasi Dana Pendidikan dalam RAPBN 2021 Harus Sentuh Pesantren Demi Pemerataan
RAPBN 2023, Ini 5 Fokus...
RAPBN 2023, Ini 5 Fokus Pemerintahan Jokowi
Butuh Duit Rp1.840,7...
Butuh Duit Rp1.840,7 Triliun Tahun Depan, Jokowi Minta Genjot Pajak
Sah! RAPBN 2023 Jadi...
Sah! RAPBN 2023 Jadi Undang-undang: Belanja Negara Tembus Rp3.000 Triliun
Berita Terkini
Mengintegrasikan AI...
Mengintegrasikan AI Demi Mewujudkan Ekosistem Investasi Mass Market
1 jam yang lalu
UE Putar Haluan Kembali...
UE Putar Haluan Kembali ke Pelukan Rusia, Rogoh Dana Raksasa Rp123 Triliun demi LNG
1 jam yang lalu
Harga MinyaKita Tembus...
Harga MinyaKita Tembus Rp16.000 per Liter di Atas HET, Apa Sebabnya?
2 jam yang lalu
Kimia Farma Siapkan...
Kimia Farma Siapkan Rantai Layanan Hulu-Hilir Percepat Penanggulangan TB
2 jam yang lalu
Esgin dan Agraus Resources...
Esgin dan Agraus Resources Sinergi Garap Potensi Investasi Hijau dan Ekonomi Karbon
2 jam yang lalu
Kasus Hukum Febrie Momentum...
Kasus Hukum Febrie Momentum Audit Menyeluruh Tata Kelola Sawit Sitaan Negara
4 jam yang lalu
Infografis
Skuad Timnas Inggris...
Skuad Timnas Inggris di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Liverpool
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved