Indef Soroti Besarnya Rencana Belanja Subsidi 2018
Jum'at, 18 Agustus 2017 - 20:02 WIB
Indef Soroti Besarnya Rencana Belanja Subsidi 2018
A
A
A
JAKARTA - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyoroti besaran belanja subsidi dalam RAPBN 2018, yang melonjak 3,6% atau sekitar Rp172,4 triliun.
Peneliti Indef, Bhima Yudhistira menilai kenaikan belanja subsidi energi cukup mengundang tanya tanya. Pasalnya belanja subsidi energi dalam RAPBN 2018, angkanya meningkat 15% dibanding outlook APBN-P 2017, yaitu sebesar Rp103,3 triliun.
"Kalau sekarang tiba-tiba pemerintah mengusulkan ada kenaikan subsidi energi di 2018 justru aneh. Seolah-olah di tahun 2018 mendatang, pemerintah ingin jadi pahlawan yang menyelamatkan daya beli masyarakat," ujar Bhima di Jakarta, Jumat (18/8/2017).
Menurut Bhima, asumsi harga minyak mentah di tahun 2017 dan 2018 tetap sama, yaitu di angka USD48 per barel. Wajar jika publik beropini bahwa kenaikan subdisi energi lebih dikaitkan dengan strategi di tahun politik menjelang Pilpres 2019 mendatang, dibandingkan sekadar pergeseran asumsi makro ekonomi.
Sebelumnya pada 2017, di tengah tren penurunan konsumsi rumah tangga yang terjadi sejak tahun 2014 silam, pemerintah bersikukuh tetap mencabut subsidi listrik golongan 900 Volt Ampere.
Akibatnya ada 18,9 juta rumah tangga yang terpukul daya belinya. Sebagian besar merupakan kelompok masyarakat menengah kebawah. Rapor kinerja ekonomi di semester I 2017 pun merah. Pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 5,01% di kuartal II atau stagnan dibanding kuartal I 2017.
Peneliti Indef, Bhima Yudhistira menilai kenaikan belanja subsidi energi cukup mengundang tanya tanya. Pasalnya belanja subsidi energi dalam RAPBN 2018, angkanya meningkat 15% dibanding outlook APBN-P 2017, yaitu sebesar Rp103,3 triliun.
"Kalau sekarang tiba-tiba pemerintah mengusulkan ada kenaikan subsidi energi di 2018 justru aneh. Seolah-olah di tahun 2018 mendatang, pemerintah ingin jadi pahlawan yang menyelamatkan daya beli masyarakat," ujar Bhima di Jakarta, Jumat (18/8/2017).
Menurut Bhima, asumsi harga minyak mentah di tahun 2017 dan 2018 tetap sama, yaitu di angka USD48 per barel. Wajar jika publik beropini bahwa kenaikan subdisi energi lebih dikaitkan dengan strategi di tahun politik menjelang Pilpres 2019 mendatang, dibandingkan sekadar pergeseran asumsi makro ekonomi.
Sebelumnya pada 2017, di tengah tren penurunan konsumsi rumah tangga yang terjadi sejak tahun 2014 silam, pemerintah bersikukuh tetap mencabut subsidi listrik golongan 900 Volt Ampere.
Akibatnya ada 18,9 juta rumah tangga yang terpukul daya belinya. Sebagian besar merupakan kelompok masyarakat menengah kebawah. Rapor kinerja ekonomi di semester I 2017 pun merah. Pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 5,01% di kuartal II atau stagnan dibanding kuartal I 2017.
(ven)
Lihat Juga :