Bank Dunia Ramal Ekonomi Negara Berkembang Semakin Cerah

Rabu, 04 Oktober 2017 - 13:45 WIB
Bank Dunia Ramal Ekonomi...
Bank Dunia Ramal Ekonomi Negara Berkembang Semakin Cerah
A A A
JAKARTA - Meningkatnya prospek pertumbuhan global dan permintaan domestik yang berlanjut, mendukung ekonomi negara berkembang di Asia Timur dan Pasifik untuk tumbuh semakin positif.

Kepala Ekonom Bank Dunia untuk wilayah Asia Timur dan Pasifik Sudhir Shetty menyatakan, laporan Bank Dunia terbaru menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang kuat di negara maju, pemulihan harga komoditas yang moderat, serta pemulihan pertumbuhan perdagangan global, merupakan faktor eksternal bagi negara berkembang.

"Secara khusus akan mendukung ekonomi negara berkembang di Asia Timur dan Pasifik untuk berkembang sebesar 6,4% pada 2017," ujarnya saat teleconference di World Bank Jakarta, Rabu (4/10/2017).

Bahkan, lanjut Sudhir Shetty, East Asia and Pacific Economic Update edisi Oktober 2017 melaporkan, tingkat pertumbuhan 2017 lebih tinggi dari perkiraan awal mencerminkan pertumbuhan China yang lebih kuat yaitu 6,7% sama dengan 2016.

"Di wilayah lainnya, termasuk ekonomi negara-negara Asia Tenggara yang besar, pertumbuhan 2017 akan sedikit lebih tinggi dari 5,1% dan 5,2% pada 2018, naik dari 4,9% pada 2016," tuturnya.

Hanya saja, beberapa risiko eksternal dan domestik dapat memengaruhi proyeksi positif ini. Kebijakan ekonomi di beberapa negara maju tetap tidak pasti, sementara ketegangan geopolitik yang berpusat di wilayah tersebut meningkat.

"Kebijakan moneter di Amerika Serikat dan kawasan Eropa bisa diperketat lebih cepat dari perkiraan. Banyak negara di kawasan ini memiliki utang sektor swasta dengan tingkat tinggi, sementara defisit fiskal tetap tinggi atau sedang naik," imbuh dia.

Kendati demikian, kata Shetty, pulihnya ekonomi global dan perluasan perdagangan global membawa kabar baik bagi kawasan Asia Timur dan Pasifik, juga keberhasilannya dalam memperbaiki taraf hidup. Tantangannya adalah bagi negara-negara untuk mencapai keseimbangan antara memprioritaskan pertumbuhan jangka pendek dan mengurangi kerentanan jangka menengah.

"Sehingga, wilayah ini memiliki fondasi yang lebih kuat bagi pertumbuhan berkelanjutan dan inklsif," bebernya.

Menurutnya, upaya China untuk mencapai keseimbangan baru dengan mengurangi investasi dan menaikkan konsumsi masyarakat, diperkirakan akan berlanjut. Hal itu, membuat proyeksi pertumbuhan melambat menjadi 6,4% pada 2018

Sementara Thailand dan Malaysia diproyeksikan akan tumbuh lebih cepat dari perkiraan, karena ekspor yang lebih kuat, termasuk pariwisata untuk Thailand, dan peningkatan investasi untuk Malaysia.

"Kenaikan upah riil mendorong konsumsi kuat di Indonesia, dan kembali menguatnya sektor pertanian serta manufaktur mendorong pertumbuhan Vietnam. Ekonomi Filipina diproyeksikan akan berkembang sedikit lebih lambat dari 2016, sebagian akibat pelaksanaan proyek-proyek investasi publik yang implementasinya lebih lambat dari perkiraan," tutur dia.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BI Ramal Ekonomi Global...
BI Ramal Ekonomi Global Tumbuh 2,7% di 2023, Negara Berkembang Lebih Kuat
4 Direktur Bank Dunia...
4 Direktur Bank Dunia dari Indonesia, Ini Profil Lengkapnya
Kekuatan Ekonomi BRICS...
Kekuatan Ekonomi BRICS Capai 35% GDP Dunia, Bisakah Indonesia Ambil Manfaat?
Hati-hati! Ketidakpastian...
Hati-hati! Ketidakpastian Pasar Keuangan Masih Tinggi
Jokowi Singgung Ketidakadilan...
Jokowi Singgung Ketidakadilan Tatanan Ekonomi Dunia Saat KTT BRICS
Ekonomi Dunia Berangsur...
Ekonomi Dunia Berangsur Membaik, Investasi Lari ke Negara Berkembang
Berita Terkini
DPR Sahkan Revisi UU...
DPR Sahkan Revisi UU PPSK Hari Ini, Berikut Poin-poin Lengkapnya
19 menit yang lalu
Ayo Belajar Cara Investasi...
Ayo Belajar Cara Investasi ETF di IG Live MNC Sekuritas: Investasi Simpel dengan Diversifikasi Otomatis
42 menit yang lalu
Mengenal Lipstick Effect,...
Mengenal Lipstick Effect, Alasan Mal dan Coffee Shop Tetap Ramai di Tengah Krisis Ekonomi
56 menit yang lalu
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp15.000 per Gram, Serok atau Jual?
1 jam yang lalu
PINDEX 2026 Dibuka,...
PINDEX 2026 Dibuka, Pertamina Patra Niaga Tampilkan Inovasi Engineering Energi Hilir
2 jam yang lalu
Rupiah Jebol Tembus...
Rupiah Jebol Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Pelemahan Terburuk Sepanjang Sejarah
2 jam yang lalu
Infografis
Skuad Timnas Inggris...
Skuad Timnas Inggris di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Liverpool
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved