Indonesia dan Turki Kurangi Hambatan Dagang

Sabtu, 14 Oktober 2017 - 01:11 WIB
Indonesia dan Turki...
Indonesia dan Turki Kurangi Hambatan Dagang
A A A
SERPONG - Indonesia dan Turki mengurangi hambatan dagang kedua negara lewat gelaran forum bilateral berupa Sidang Komisi Bersama/SKB (Joint Commission on Economic and Technical Cooperation/JEC). SKB ini sendiri berlangsung pada 11-12 Oktober 2017, di sela-sela kegiatan Trade Expo Indonesia (TEI) yang diselenggarakan di Ruang Garuda 10a, International Convention Exhibition (ICE) Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang Selatan, Banten.

Pada SKB tersebut, delegasi Indonesia dipimpin Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita sedangkan delegasi Turki dipimpin Wakil Perdana Menteri Turki Fikri Isik.
"SKB ke-8 fokus membahas hubungan perdagangan dan kerangka kerja sama ekonomi dan teknis," jelas Mendag.

Menurut Mendag, selama kurun waktu lima tahun, kinerja perdagangan kedua negara dan realisasi investasi Turki di Indonesia tercatat terus mengalami penurunan. Untuk itu, SKB ke-8 sebagai kelanjutan Kunjungan Presiden RI ke Turki pada Juli lalu dapat dimanfaatkan secara optimal guna meningkatkan hubungan Indonesia-Turki.

"Hambatan dagang seperti kasus anti dumping harus dikurangi atau bahkan dihapuskan. Ini sebagai langkah konkret dalam meningkatkan perdagangan bilateral dan memaksimalkan potensi perdagangan kedua negara," tegas Enggar.

Mendag berharap kerangka kerja sama ekonomi dan teknis dapat menjembatani permasalahan yang selama ini timbul. "Selain itu, Turki juga memiliki perjanjian customs union dengan Uni Eropa yang tentunya dapat dijadikan hub ke Uni Eropa yang memiliki standarnya relatif lebih tinggi," imbuhnya.

Hingga saat ini SKB telah berlangsung sebanyak tujuh kali. Pertemuan terakhir dilaksanakan pada 17-18 September 2008 (mohon konfirmasi) di Ankara, Turki yang dipimpin Menteri Perdagangan RI dan Menteri Kehakiman Turki. Pembahasan dalam SKB tersebut mencakup bidang ekonomi, perdagangan, investasi, energi, infrastruktur, pariwisata, serta berbagai bidang kerja sama lainnya.

Pada tahun 2016, Turki merupakan negara tujuan ekspor nonmigas ke-23 dengan nilai USD1,02 miliar dan negara asal impor nonmigas ke-34 bagi Indonesia dengan nilai USD311,1 juta. Nilai ini memberikan surplus bagi Indonesia sebesar USD712,9 juta. Adapun total perdagangan Indonesia dengan Turki mencapai USD1,33 miliar. Selama kurun waktu lima tahun terakhir, neraca perdagangan kedua negara menunjukkan surplus bagi Indonesia.

Produk ekspor utama Indonesia ke Turki adalah woven fabrics of synthetic filament yarn; yarn of synthetic staple fibre; natural rubber; synthetic filament yarn; dan yarn of artificial staple fibre. Sedangkan produk impor utama Indonesia dari Turki adalah unmanufactured tobacco; petroleum oils and oils obtain from bituminous minerals; wheat or meslin flour; Borates, peroxoborates; dan starches, inulin.

Sementara investasi Turki di Indonesia mencapai USD 2,7 juta dengan 61 proyek dan tercatat sebagai mitra investasi ke-43.

Perundingan I-T CEPA

Pada pertemuan tersebut, kedua negara membahas mengenai dimulainya perundingan dagang yang juga merupakan mandat kedua Kepala Negara saat kunjungan kenegaraan Presiden Joko Widodo ke Ankara bulan Juli lalu.

"Indonesia dan Turki meminta agar para Ketua Juru Runding segera memulai Putaran Pertama Perundingan Indonesia-Turkey Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-T CEPA) sehingga negosiasi dapat segera dimulai dengan perundingan Trade in Goods (TIG) terlebih dahulu di bawah kerangka I-T CEPA,” ujar Mendag.

CEPA sangat penting bagi Indonesia. “CEPA bagi Indonesia dapat meningkatkan daya saing di pasar Turki dan mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain yang telah memiliki perjanjian dagang terlebih dahulu. CEPA juga dapat mendorong pencapaian volume perdagangan sebesar USD10 miliar pada tahun 2023 sebagaimana ditargetkan kedua Kepala Negara,” pungkasnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
21 Perjanjian Dagang...
21 Perjanjian Dagang Baru Dijajaki, Benua Afrika Salah Satu Targetnya
Sertifikasi Bikin Seret...
Sertifikasi Bikin Seret Ekspor, Kemendag Lakukan Lobi-lobi
Indonesia dan Filipina...
Indonesia dan Filipina Perkuat Kerja Sama Perdagangan Digital
11 Perjanjian Dagang...
11 Perjanjian Dagang On Going, 4 di Antaranya Target Rampung 2021
Kemendag dan KBRI Canberra...
Kemendag dan KBRI Canberra Dorong Kerja Sama Perdagangan Bilateral
Sempat Tertunda 4 Tahun,...
Sempat Tertunda 4 Tahun, RI Mendorong Perundingan IT-CEPA Dilanjutkan
Berita Terkini
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
3 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
4 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
4 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
4 jam yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
4 jam yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
4 jam yang lalu
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved