Dolar Naik Jelang Keputusan The Fed, Rupiah Jatuh ke Rp13.580
Rabu, 01 November 2017 - 17:53 WIB
Dolar Naik Jelang Keputusan The Fed, Rupiah Jatuh ke Rp13.580
A
A
A
JAKARTA - Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada penutupan perdagangan Rabu (1/11/2017) berakhir melemah. Di pasar spot Bloomberg, rupiah jatuh 17 poin atau 0,13% menjadi Rp13.580 per USD.
Pagi tadi, rupiah dibuka terdepresiasi 8 poin ke level Rp13.571 per USD, dibanding penutupan Selasa (31/10) di angka Rp13.563 per USD. Rupiah hari ini bergerak di kisaran Rp13.566-Rp13.597 per USD.
Data Yahoo Finance juga mencatat melemahnya rupiah, dengan terperosok 15 poin atau 0,11% menjadi Rp13.575 per USD. Saat pembukaan, rupiah sempat menguat 2 poin ke Rp13.558 per USD, dibanding penutupan akhir Oktober di Rp13.560 per USD. Rabu ini, mata uang NKRI diperdagangkan di kisaran Rp13.558-Rp13.595 per USD.
Senada dengan itu, rupiah di data SINDOnews yang bersumber dari Limas pada Rabu petang ini, berada di Rp13.595 per USD, terdepresiasi 5 poin dari pembukaan di level Rp13.590 per USD.
Mulai perkasanya dolar karena investor mengamati keputusan kebijakan The Federal Reserve. Melansir dari Reuters, Rabu (1/11), bank sentral AS itu diperkirakan tidak akan menaikkan suku bunga. "Kebijakan harus disesuaikan dengan prediksi bulan-bulan mendatang, dimana mungkin tidak banyak berdampak terhadap dolar. Dan kenaikan suku bunga 25 basis poin yang lalu sudah terjangkau untuk pertemuan di Desember," ujar Kepala Strategi Mata Uang ING, Chris Turner.
Alhasil indeks USD yang mengukur greenback terhadap enam mata uang saingan utama bertambah 0,1% menjadi 94,680. Namun dolar AS masih mendatar terhadap euro di level USD1,1642 EUR.
Sementara itu, dolar Selandia Baru mencuri sorotan Asia dengan naik 1,2% menjadi NZD0,6931, setelah pemerintah Negeri Kiwi berhasil mengurangi tingkat pengangguran secara signifikan dengan turun 4,6%. Merupakan level terendah dalam sembilan tahun. Kesuksesan ini berkat kebijakan Pemerintah Selandia Baru yang menunda investasi asing dan menolak imigran.
Pagi tadi, rupiah dibuka terdepresiasi 8 poin ke level Rp13.571 per USD, dibanding penutupan Selasa (31/10) di angka Rp13.563 per USD. Rupiah hari ini bergerak di kisaran Rp13.566-Rp13.597 per USD.
Data Yahoo Finance juga mencatat melemahnya rupiah, dengan terperosok 15 poin atau 0,11% menjadi Rp13.575 per USD. Saat pembukaan, rupiah sempat menguat 2 poin ke Rp13.558 per USD, dibanding penutupan akhir Oktober di Rp13.560 per USD. Rabu ini, mata uang NKRI diperdagangkan di kisaran Rp13.558-Rp13.595 per USD.
Senada dengan itu, rupiah di data SINDOnews yang bersumber dari Limas pada Rabu petang ini, berada di Rp13.595 per USD, terdepresiasi 5 poin dari pembukaan di level Rp13.590 per USD.
Mulai perkasanya dolar karena investor mengamati keputusan kebijakan The Federal Reserve. Melansir dari Reuters, Rabu (1/11), bank sentral AS itu diperkirakan tidak akan menaikkan suku bunga. "Kebijakan harus disesuaikan dengan prediksi bulan-bulan mendatang, dimana mungkin tidak banyak berdampak terhadap dolar. Dan kenaikan suku bunga 25 basis poin yang lalu sudah terjangkau untuk pertemuan di Desember," ujar Kepala Strategi Mata Uang ING, Chris Turner.
Alhasil indeks USD yang mengukur greenback terhadap enam mata uang saingan utama bertambah 0,1% menjadi 94,680. Namun dolar AS masih mendatar terhadap euro di level USD1,1642 EUR.
Sementara itu, dolar Selandia Baru mencuri sorotan Asia dengan naik 1,2% menjadi NZD0,6931, setelah pemerintah Negeri Kiwi berhasil mengurangi tingkat pengangguran secara signifikan dengan turun 4,6%. Merupakan level terendah dalam sembilan tahun. Kesuksesan ini berkat kebijakan Pemerintah Selandia Baru yang menunda investasi asing dan menolak imigran.
(ven)