BTPN Syariah Fokus Garap Segmen Prasejahtera Produktif

Rabu, 15 November 2017 - 17:53 WIB
BTPN Syariah Fokus Garap...
BTPN Syariah Fokus Garap Segmen Prasejahtera Produktif
A A A
SEMARANG - BTPN Syariah terus memperkuat penetrasi nasabah dengan fokus menggarap segmen prasejahtera produktif melalui pemberdayaan perempuan.

Dari total pembiayaan sebesar Rp5,75 triliun per September 2017, seluruhnya atau sebesar 100% menyasar pelaku supermikro atau masyarakat prasejahtera yang sebelumnya tidak memiliki akses terhadap perbankan.

“Kami fokus pada kaum perempuan dari segmen prasejahtera produktif, karena perempuan punya peran penting dalam perekonomian keluarga. Apabila ibu terberdaya, maka keluarga juga ikut terberdaya," kata Direktur Utama BTPN Syariah Ratih Rachmawaty di Semarang, Jawa Tengah, Rabu (15/11/2017).

Lebih lanjut dia menuturkan, segmen tersebut juga memiliki potensi yang cukup besar dan cenderung belum tergarap secara maksimal oleh kalangan perbankan.

BTPN Syariah tidak hanya memberikan pembiayaan tetapi juga pendampingan yang memberi kesempatan kepada para perempuan di segmen prasejahtera produktif untuk berpartisipasi meningkatkan penghasilan keluarga.

Saat ini, perseroan telah melayani lebih dari 2 juta nasabah termasuk di wilayah Indonesia Timur. Ke depan, kata dia, BTPN Syariah akan terus mengembangkan pemberdayaan perempuan khususnya di sektor UMKM agar turut berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Terkait kinerja, BTPN Syariah saat ini memiliki Non Performing Finance (NPF) 1,7% dengan rasio kecukupan modal (CAR) di level 27,3%. Hingga September 2017, total aset perseroan mencapai angka Rp8 triliun.

Dalam kesempatan yang sama, Ekonom CORE Indonesia Hendri Saparini menuturkan bahwa jumlah UMKM di Indonesia berjumlah lebih dari 58 juta. Sebanyak 99% di antaranya adalah usaha mikro dan kecil. Dari seluruh pelaku UMKM tersebut, imbuh dia, baru sekitar sepertiganya yang bisa mengakses pembiayaan dari perbankan.

Dengan demikian, masih banyak UMKM yang membutuhkan pendanaan yang dapat diakses dengan mudah serta sesuai dengan karakteristik mereka yakni tidak memiliki jaminan, administrasi keuangan dan pemahaman pasar.

Karena itu, menurut Hendri, sangat diperlukan adanya lembaga pembiayaan baik bank maupun nonbank yang mampu memberikan pendampingan pada pelaku UMK agar mampu meningkatkan kapasitasnya.

"Tentu, melayani mereka bukan pekerjaan mudah, bukan hanya modal kapital tetapi mereka membutuhkan hal yang sangat mendasar mulai dari menumbuhkan keyakinan bahwa mereka mampu berkembang melakukan kegiatan ekonomi," tuturnya.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pengusaha: Pemerintah...
Pengusaha: Pemerintah Tidak Bisa Sendirian Menangani UMi
Danone Indonesia Tingkatkan...
Danone Indonesia Tingkatkan Kemampuan Digital dan UMKM Nasional
UMKM Diharapkan Naik...
UMKM Diharapkan Naik Kelas dengan Memanfaatkan Aplikasi Lokal
Pelaku Usaha Mikro Paling...
Pelaku Usaha Mikro Paling Rawan Bangkrut Saat Krisis Datang
UU Ciptaker Beri Kemudahan,...
UU Ciptaker Beri Kemudahan, Pemberdayaan dan Perlindungan bagi Pelaku UMKM
Omzet Tembus Rp5,7 Triliun...
Omzet Tembus Rp5,7 Triliun SRC Kembangkan Aplikasi untuk UMKM
Berita Terkini
Jaga Distribusi BBM...
Jaga Distribusi BBM di Aceh, Pertamina Patra Niaga Perkuat Operasional Terminal
1 jam yang lalu
LPEU MUI Luncurkan Perumahan...
LPEU MUI Luncurkan Perumahan Merah Putih di Bogor, Terapkan Konsep Syariah Bebas Riba
1 jam yang lalu
PHK Masih Terus Berlanjut,...
PHK Masih Terus Berlanjut, 30.000-an Karyawan Jadi Korban
1 jam yang lalu
Dana Pensiun PNS Malaysia...
Dana Pensiun PNS Malaysia Jadi Korban eFishery, Kerugian Capai Rp855 Miliar
4 jam yang lalu
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Stagnan Rp2,61 Juta per Gram, Berikut Rinciannya
6 jam yang lalu
Inflasi AS Turun Jadi...
Inflasi AS Turun Jadi 3,5%, Bitcoin dan Ethereum Berpeluang Menguat
7 jam yang lalu
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved