Sri Mulyani Sebut Biaya Perjalanan Dinas Pemda Tak Masuk Akal

Rabu, 06 Desember 2017 - 16:59 WIB
Sri Mulyani Sebut Biaya...
Sri Mulyani Sebut Biaya Perjalanan Dinas Pemda Tak Masuk Akal
A A A
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyinggung tingginya biaya perjalanan dinas yang dianggarkan oleh pemerintah daerah (pemda). Pasalnya, anggaran yang digelontorkan pemda untuk perjalanan dinas dan rapat melebihi biaya perjalanan dinas pemerintah pusat.

Dia menilai, fenomena tersebut tidaklah masuk akal. Hal ini berarti, Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) hanya habis untuk kepentingan birokrat semata.

"Perjalanan dinas dan standar rapat. Masa rapat disini (pemerintah pusat) dan daerah menjadi lebih mahal. Itu nggak masuk akal. Oleh karena itu, kita ingin itu diteliti. Honor team, biaya rapat dan konsinyering itu artinya APBD habis hanya untuk birokrat," katanya di Gedung Kemenkeu, Jakarta, Rabu (6/12/2017).

Menurutnya, hal ini bisa terjadi lantaran masih banyak daerah yang tidak menggunakan standar biaya masukan (SBM) dan standar biaya keluaran (SBK) dalam penggunaan APBD nya. Akibatnya, mereka membuat standar yang jauh lebh tinggi dari pemerintah pusat.

"Penggunaan standar biaya masukan dan standar biaya keluaran yang di berbagai daerah masih belum dibuat. Sehingga dia menggunakan standar sesuka mereka. Yang sudah buat SBM dan SBK saja, sebagian daerah membuat standar lebih tinggi dari pusat," imbuh dia.

Mantan Menkeu era Presiden SBY ini menambahkan, akuntabilitas pemerintah daerah pun masih memiliki berbagai kelemahan. Ini terlihat dari hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang menyatakan ada 7.950 temuan dalam laporan keuangna pemerintah daerah.

Tak hanya itu, ada 12.168 permasalahan di daerah yang memiliki dampak keuangan sebesar Rp2 triliun serta menimbulkan kerugian negara hingga Rp1,55 triliun. Belum lagi, ada 143 kepala daerah yang terjerat masalah hukum, khususnya korupsi.

"Jangan dijadikan kebiasaan (kepala daerah terjerat kasus hukum), apalagi menormalisir. Kita harus memerangi korupsi serius. Setiap rupiah yang diambil untuk korupsi adalah setiap rupiah yang hilang untuk masyarakat memperbaiki kesejahteraan. Saya berharap Pak Dirjen dan pejabat di daerah, termasuk eksekutif dan legislatif agar tata kelola diperbaiki. Jangan sampai kita sekadar dapat WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) tapi terjadi korupsi," tandasnya
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Belanja APBD 2020 Tembus...
Belanja APBD 2020 Tembus Rp1.088,7 Triliun, Ini Rinciannya
Lapor Bu Sri Mulyani,...
Lapor Bu Sri Mulyani, Duit Pinjaman Daerah Dipakai Pejabat Buat Beli Mobil
Akibat Covid-19, Kemenkeu...
Akibat Covid-19, Kemenkeu Tunda Penyaluran DAU Sejumlah Daerah
Menuju Indonesia Emas...
Menuju Indonesia Emas 2045, Generasi Muda Diminta Kawal Pengelolaan APBN dan APBD
Pj Gubernur Sebut Sulsel...
Pj Gubernur Sebut Sulsel Bangkrut, Stafsus Menkeu Beri Penjelasan
Menkeu Sebut Separuh...
Menkeu Sebut Separuh Masyarakat RI Masih Tinggal di Desa
Berita Terkini
Binus School dan Damai...
Binus School dan Damai Indah Golf Sinergi Perkuat Pengembangan Soft Skill Siswa
5 jam yang lalu
Permintaan Minyak Dunia...
Permintaan Minyak Dunia Diramal Turun 1,1 Juta Barel per Hari di 2026
5 jam yang lalu
Centrepark Perkuat Penerapan...
Centrepark Perkuat Penerapan Parkir Cashless di Properti Komersial Indonesia
5 jam yang lalu
Industri Aset Digital...
Industri Aset Digital Dorong Penguatan Ekosistem Hospitality Bandara
5 jam yang lalu
Solusi Atasi Sampah...
Solusi Atasi Sampah Laut, Komut Pertamina Mochamad Iriawan Hadirkan Kapal Pintar ke Pesisir Bali
6 jam yang lalu
Antam Tebar Dividen...
Antam Tebar Dividen Jumbo Rp5,04 Triliun, 70% dari Laba Bersih di 2025
6 jam yang lalu
Infografis
Bocoran 4 Calon Menkeu...
Bocoran 4 Calon Menkeu Pilihan Prabowo untuk Gantikan Sri Mulyani
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved