Diguyur Impor 500 Ribu Ton, Harga Beras Tak Goyang
Selasa, 24 April 2018 - 13:36 WIB
Diguyur Impor 500 Ribu Ton, Harga Beras Tak Goyang
A
A
A
JAKARTA - Impor beras yang dilakukan pemerintah belum lama ini menurut Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa sama sekali tidak mempan untuk menurunkan harga beras di pasaran. Bahkan, harga gabah dan beras di tingkat konsumen masih sangat tinggi dan jau di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
Dari hasil kajiannya di 23 kabupaten, Andreas menyatakan bahwa impor yang dilakukan pemerintah tersebut tidak ada efeknya terhadap penurunan harga. "Impor 500 ribu ton tidak ada efeknya sama sekali terhadap penurunan harga gabah dan beras. Harga gabah per kemarin masih Rp11.800 per liter. Jauh lebih tinggi dari HET," katanya dalam acara CORE Quarterly Review di Jakarta, Selasa (24/4/2018).
Menurutnya, harga beras yang hingga saat ini relatif masih tinggi disebabkan karena kesalahan mendasar pemerintah yang salah memperkirakan antara stok dan produksi beras. Akibatnya, stok beras di awal tahun 2018 sangat tipis.
"Stok yang tipis ini berimbas ke terkurasnya stok cadagan beras pemerintah dan stok Bulog. Dan kita tau, operasi pasar yang dilakukan semuanya gagal. TIdak ada ceritanya operasi di akhir 2017-2018 memiliki dampak. Tidak ada dampak sama sekali," imbuh dia.
Stok beras di Indonesia yang tipis ini selaras dengan data internasional, dimana stok akhir (ending stock) beras Indonesia cenderung menurun berturut-turut dari 5,501 juta ton di 2013/2014 menjadi 4,111 juta ton di 2014/2015. Kemudian menurun lagi di periode 2015/2016 menjadi 3.509 juta ton dan 3.165 juta ton di 2016/2017.
"Jadi enggak ngefek yang namanya impor terhadap harga beras. harga beras di tingkat konsumen juga masih tinggi dan jauh di atas HET," tandasnya.
Dari hasil kajiannya di 23 kabupaten, Andreas menyatakan bahwa impor yang dilakukan pemerintah tersebut tidak ada efeknya terhadap penurunan harga. "Impor 500 ribu ton tidak ada efeknya sama sekali terhadap penurunan harga gabah dan beras. Harga gabah per kemarin masih Rp11.800 per liter. Jauh lebih tinggi dari HET," katanya dalam acara CORE Quarterly Review di Jakarta, Selasa (24/4/2018).
Menurutnya, harga beras yang hingga saat ini relatif masih tinggi disebabkan karena kesalahan mendasar pemerintah yang salah memperkirakan antara stok dan produksi beras. Akibatnya, stok beras di awal tahun 2018 sangat tipis.
"Stok yang tipis ini berimbas ke terkurasnya stok cadagan beras pemerintah dan stok Bulog. Dan kita tau, operasi pasar yang dilakukan semuanya gagal. TIdak ada ceritanya operasi di akhir 2017-2018 memiliki dampak. Tidak ada dampak sama sekali," imbuh dia.
Stok beras di Indonesia yang tipis ini selaras dengan data internasional, dimana stok akhir (ending stock) beras Indonesia cenderung menurun berturut-turut dari 5,501 juta ton di 2013/2014 menjadi 4,111 juta ton di 2014/2015. Kemudian menurun lagi di periode 2015/2016 menjadi 3.509 juta ton dan 3.165 juta ton di 2016/2017.
"Jadi enggak ngefek yang namanya impor terhadap harga beras. harga beras di tingkat konsumen juga masih tinggi dan jauh di atas HET," tandasnya.
(akr)
Lihat Juga :