Timbulkan Kesenjangan, Struktur Gaji Pejabat Perlu Dikoreksi

Selasa, 26 Juni 2018 - 15:06 WIB
Timbulkan Kesenjangan,...
Timbulkan Kesenjangan, Struktur Gaji Pejabat Perlu Dikoreksi
A A A
JAKARTA - Chairman Center for Islamic Studies in Finance, Economics, and Development (CISFED) Farouk Abdullah Alwyni mengkritisi kebijakan pemerintah yang menganakemaskan birokrat dengan kenaikan gaji, tunjangan, dan bonus.

Dia menilai, hal itu bisa jadi berimbas pada semakin parahnya kesenjangan sosial karena masyarakat biasa pada umumnya tidak mengalami peningkatan pendapatan yang memadai setiap tahun. Besarnya gaji pejabat negara baik eksekutif, legislatif, dan yudikatif, juga direksi dan komisaris BUMN, serta lembaga negara lainnya menurutnya berpotensi memantik konflik dan kecemburuan sosial.

Berdasarkan studi Bank Dunia, lanjut dia, selama satu dekade hingga 2015, pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati 20% masyarakat dan meninggalkan 80% lainnya. Mayoritas rakyat, kata dia, tidak merasakan pertumbuhan ekonomi tersebut. Pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati kelompok kecil akibat struktur sosial di Indonesia yang sejak zaman kolonial hingga pascareformasi menurutnya tidak berubah signifikan.

Farouk mengingatkan soal polemik yang timbul dari penggajian anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang mencapai Rp100 juta per bulan. Dia juga menyinggung gaji pejabat negara seperti dirut BPJS Kesehatan, gubernur Bank Indonesia, pimpinan Otoritas Jasa Keuangan dan Lembaga Penjamin Simpanan yang menurutnya sudah di atas Rp200 juta per bulan.

"Struktur penggajian institusi negara sebenarnya juga memperburuk kondisi ketimpangan sosial," tegas dia melalui siaran pers, Selasa (26/6/2018).

Farouk mengatakan, besarnya penghasilan seharusnya dilihat apakah memang sudah sebanding dengan produktivitas kinerjanya, atau sejauh mana dampak manfaatnya untuk masyarakat banyak. Selain itu imbuh dia, harus pula dipertimbangkan sejauh mana pendapat per kapita masyarakat secara menyeluruh di bandingkan penghasilan para elite tersebut.

"Ke depannya, perlu ada evaluasi terhadap struktur penggajian dalam kaitannya dengan persoalan ketimpangan sosial ini. Mungkin penentuan gaji institusi publik perlu menggunakan dasar perbandingan pendapatan per kapita penduduk, ataupun mungkin dari penghasilan terendah anggota masyarakat yang ada," tuturnya.

Cara perhitungan ini, kata dia, adalah untuk memberikan rasa keadilan sebagaimana amanat konstitusi dan falsafah Pancasila. "Pejabat negara yang bergaji besar tapi tidak ada manfaatnya bagi peningkatan kesejahteraan rakyat sama artinya melanggar setidaknya empat pasal dalam Pancasila," tandasnya.

Lebih jauh lagi, dia menilai dalam kondisi beban utang negara yang besar, kondisi ekonomi secara umum yang masih berat, pemerintah bisa mengambil langkah solidaritas meski tidak populer, yakni memangkas gaji segenap pejabat negara, direksi dan komisaris BUMN untuk efisiensi anggaran.

"Di Malaysia, Mahathir Mohammad berani memotong gaji para menterinya demi menunjukkan rasa keadilan bagi rakyatnya," kata dia.

Pada akhirnya, Farouk mengingatkan, mendapatkan tanggung jawab di pemerintahan baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif juga di BUMN dan segenap institusi negara adalah untuk menjalankan fungsi negara dalam mengupayakan sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat.

"Artinya, pendapatan naik kalau penghasilan rakyat secara menyeluruh juga bertambah. Jika tidak, ujung-ujungnya, kita akan tetap menjadi negara dunia ketiga yang mengekalkan struktur kolonial dan feodal," tandasnya.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Ini Faktor-faktor Penyebab...
Ini Faktor-faktor Penyebab Ketimpangan Sosial di Masyarakat
Gaji Pejabat RI Bakal...
Gaji Pejabat RI Bakal Dipotong demi Efisiensi, Purbaya: Setuju! Itu Bagus, Sudah Kegedean
Gaji Pejabat Bank Tanah...
Gaji Pejabat Bank Tanah Tembus Rp135 Juta, Tunjangannya Gimana?
Potong Gaji Pejabat...
Potong Gaji Pejabat Publik: Belajar dari Muhammadiyah
Gaji Deddy Corbuzier...
Gaji Deddy Corbuzier sebagai Staf Khusus Kemenhan, Lebih Besar dari Raffi Ahmad
Di Balik Amarah Massa...
Di Balik Amarah Massa Gelombang Protes Anti-Imigran Global
Berita Terkini
IHSG Sepekan Ambruk...
IHSG Sepekan Ambruk 8,69%, Market Cap Menyusut Jadi Rp9.807 Triliun
19 menit yang lalu
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
10 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
11 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
11 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
11 jam yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
11 jam yang lalu
Infografis
Virus Hanta Merebak!...
Virus Hanta Merebak! Ini 5 Gejalanya yang Perlu Diwaspadai
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved