Dolar AS Melemah Terhadap Euro Tapi Perkasa Melawan Yuan China

Sabtu, 30 Juni 2018 - 08:06 WIB
Dolar AS Melemah Terhadap...
Dolar AS Melemah Terhadap Euro Tapi Perkasa Melawan Yuan China
A A A
FRANKFURT - Mata uang Uni Eropa, euro melonjak terhadap dolar Amerika Serikat usai para pemimpin Uni Eropa mencapai kesepakatan soal imigran. Dalam pertemuan maraton selama 10 jam, akhirnya 28 pemimpin dari negara anggota Uni Eropa sepakat memperkuat perbatasan secara eksternal dan kontrol internal atas imigran.

Kesepakatan ini akhirnya meredakan kekhawatiran akan sikap garis tegas pemerintah Italia dan mengurangi tekanan pada Kanselir Jerman Angela Merkel, dimana perempuan tua tersebut akhirnya bisa mencegah potensi keruntuhan dari koalisi pemerintahan yang ia bentuk.

Kesepakatan tadi membuat euro naik 0,84% terhadap dolar AS menjadi USD1,1664 per EUR, dan menuju kenaikan harian terbesar dalam sebulan. "Kesepakatan migrasi harus meringankan beban ke negara-negara seperti Italia. Sehingga mengurangi kemungkinan perpecahan diantara negara-negara Uni Eropa dan menjadi positif bagi euro," kata Viraj patel, analis mata uang di ING.

Sementara itu, ahli strategi mata uang dari Commerzbank di Frankfurt, Jerman, Antje Praefcke mengatakan, ketidaksepakatan dalam Uni Eropa dapat memberi tekanan pada euro. Sehingga kesepakatan di atas menjadi hal yang baik bagi euro.

Melansir dari CNBC, Sabtu (30/6/2018), kesepakatan tadi membuat indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama turun 0,77% menjadi 94,65. Meski menurun, dolar Amerika Serikat telah menguat 5,5% sepanjang kuartal I 2018, kenaikan tertinggi sejak kuartal IV 2016.

Keuntungan dolar AS sebagian besar karena prospek kenaikan suku bunga The Fed. Dan nilai dolar pada Jumat meski melemah, namun masih lebih tinggi 0,39% terhadap yen Jepang menjadi 110,91 terhadap dolar.

Dan mata uang yang melemah terhadap dolar AS ialah yuan China, yang mencapai level terendah 7 1/2 bulan menjadi 6,6522 pada perdagangan Jumat. Mata uang China ini telah rugi 3,5% terhadap dolar AS pada bulan ini, melebihi penurunan 2,7% pada Agustus 2015. Saat itu, Beijing mengejutkan pasar dengan secara tidak terduga melakukan manipulasi mata uang dengan membimbing yuan lebih rendah agar ekspor mereka kompetitif.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Rupiah Menguat saat...
Rupiah Menguat saat Banyak Mata Uang Asia Melemah
5 Mata Uang Paling Banyak...
5 Mata Uang Paling Banyak Digunakan di Dunia, Nomor 1 Transaksi Hariannya Tembus Rp43.500 Triliun
8 Efek Mata Uang Baru...
8 Efek Mata Uang Baru BRICS terhadap Dollar AS jika Sudah Berlaku
Deretan Negara Ini Tak...
Deretan Negara Ini Tak Mempunyai Mata Uang, Salah Satunya Tetangga Indonesia
Mata Uang BRICS Bakal...
Mata Uang BRICS Bakal Gantikan Dolar Disebut Gagasan Konyol
Apakah Bitcoin Bisa...
Apakah Bitcoin Bisa Menggantikan Dolar AS di Masa Depan?
Berita Terkini
Kinerja Tumbuh Positif,...
Kinerja Tumbuh Positif, ASABRI Bukukan Kenaikan Aset 12,23% di 2025
37 menit yang lalu
Blok Masela Ditargetkan...
Blok Masela Ditargetkan Produksi 2029, Alokasi Gas Domestik Capai 60%
52 menit yang lalu
Pasar Kripto Masih Sideways,...
Pasar Kripto Masih Sideways, Bittime Futures Bisa Jadi Alternatif Strategi
1 jam yang lalu
Antisipasi Risiko Sosial...
Antisipasi Risiko Sosial Tambang, Perusahaan Didorong Terapkan Standar Keberlanjutan Global
1 jam yang lalu
Dibuka Naik Tipis, IHSG...
Dibuka Naik Tipis, IHSG Langsung Balik Arah Turun 0,24% ke 6.093
2 jam yang lalu
Purbaya Tarik Dana SAL,...
Purbaya Tarik Dana SAL, BTN Siap Kembalikan Rp38 Triliun
3 jam yang lalu
Infografis
Perbandingan Gaji Tentara...
Perbandingan Gaji Tentara AS dengan Rusia, China, dan Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved