Kekhawatiran Perang Mata Uang Mencuat Dipicu Konflik AS-China

Minggu, 05 Agustus 2018 - 01:11 WIB
Kekhawatiran Perang...
Kekhawatiran Perang Mata Uang Mencuat Dipicu Konflik AS-China
A A A
SEOUL - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menuduh China dan Uni Eropa telah memanipulasi nilai mata uang mereka. Beberapa jam kemudian, China mendevaluasi yuan pada level 6,767 per dolar. Hal itu dilakukan sebagai langkah untuk memperkuat kebijakan fiskal dan keuangan dalam persiapan konflik perdagangan yang berlarut-larut dengan AS.

Karena yuan terus turun terhadap dolar, kekhawatiran atas perang mata uang yang dipicu oleh konflik perdagangan antara dua ekonomi teratas di dunia semakin meningkat. Saat ini, Korea Selatan (Korsel) tengah mempertimbangkan faktor risiko dan fluktuasi mata uang China sebagai akibat dari tekanan Washington. Kemunduran ekspor dan perlambatan ekonomi di China akan memberikan pukulan besar pada Korea Selatan, yang menjual banyak barang ke China.

"Kami berhati-hati menganalisa perubahan dalam lingkungan eksternal dan mengambil berbagai cara untuk mendiversifikasi pasar ekspornya," ujar Bank Sentral Korea Selatan seperti dikutip KBSworld.

Lanjut dia, hal itu sebabnya Korea Selatan perlu mempersiapkan tanggapannya yang tepat terhadap perang mata uang yang semakin sengit. Saat ini, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin telah mengatakan bahwa Washington akan memantau secara ketat apakah China memanipulasi nilai tukar mata uang asingnya.

Seperti dilansir Bloomberg, diterangkan perang mata uang antara AS dan China tidak hanya akan berdampak pada pasar valuta asing global, namun akan membuat ekuitas, minyak dan aset pasar yang berkembang jatuh. Diperkirakan bahwa negara ekonomi terbuka yang kecil, seperti Korea Selatan, Hungaria dan Republik Ceko akan menjadi korban terbesar dalam konflik perdagangan global.

Di tengah perang mata uang yang semakin intensif, negara seperti Korea Selatan yang mengimpor bahan baku atau suku cadang dan mengekspor barang jadi, akan kehilangan daya saing mereka pada ekspor, karena kenaikan harga impor. Di sisi lain, perang mata uang antara AS dan China dapat menguntungkan mata uang Korea dan pasar saham Korea.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Yuan China Ambruk ke...
Yuan China Ambruk ke Level Terendah 2007, Salah Satu Mata Uang Asia dengan Kinerja Terburuk
3 Negara yang Menggunakan...
3 Negara yang Menggunakan Yuan untuk Transaksi Dagang selain China
Tak Hanya China, RI-Jepang...
Tak Hanya China, RI-Jepang Sepakat Transaksi Dagang Tidak Pakai Dolar
Brasil Batalkan Rencana...
Brasil Batalkan Rencana Mata Uang BRICS, Fokus Pembayaran Lokal
China Uji Coba Mata...
China Uji Coba Mata Uang Digital di Bulan Ini
Perdana, Satelit Mata-mata...
Perdana, Satelit Mata-mata Korea Selatan Mulai Beroperasi
Berita Terkini
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
8 jam yang lalu
PLN EPI Targetkan Pengembangan...
PLN EPI Targetkan Pengembangan Bio-CNG Berbasis Limbah Sawit Dukung Transisi Energi
8 jam yang lalu
IHSG dan Rupiah Tertekan,...
IHSG dan Rupiah Tertekan, Pasar Uji Kredibilitas Sistem Keuangan Indonesia
8 jam yang lalu
Redam Sentimen Sell...
Redam Sentimen 'Sell Indonesia', Ini Saran dari Ekonom
9 jam yang lalu
Soroti Pelemahan Rupiah,...
Soroti Pelemahan Rupiah, BADKO HMI Jatim Dorong Evaluasi Kebijakan Moneter
10 jam yang lalu
Kanda Dukung Afi Trending...
'Kanda Dukung Afi' Trending Global Jelang Pemilihan Ketum Hipmi
10 jam yang lalu
Infografis
Perang AS-Israel vs...
Perang AS-Israel vs Iran Telah Mengungkap Kelemahan Militer Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved