Fed New York Ungkap Kebijakan Normalisasi Suku Bunga Berlanjut
Rabu, 10 Oktober 2018 - 13:23 WIB
Fed New York Ungkap Kebijakan Normalisasi Suku Bunga Berlanjut
A
A
A
BALI - Bank-bank sentral utama dunia baru-baru ini mulai mengurangi kebijakan moneter yang akomodatif atau mulai mempertimbangkannya. Di saat yang sama, operasional bank sentral dalam konteks yang lebih luas kian berevolusi seiring meningkatnya isu-isu baru terkait dengan tatanan global order dan kerangka kerja institusi pendukung saat ini.
Chief Executive Officer The Federal Reserve Bank of New York John Carrol Williams, dalam pidatonya di Forum Bank Sentral yang diselenggarakan secara bersama antara The Fed New York dan Bank Indonesia (BI) menyampaikan bahwa ekonomi Amerika Serikat (AS) saat ini berada dalam keadaan sangat positif. Hal tersebut diindikasikan dari tingkat pengangguran dan inflasi yang rendah, prospek pertumbuhan yang baik dan diperkirakan masih akan berlanjut.
"Dengan keadaan ekonomi yang baik tersebut, otoritas AS pun melakukan normalisasi kebijakan, dengan menaikkan suku bunga bank sentral dan normalisasi neraca," ujar John Carrol di Nusa Dua, Bali, Rabu (10/10/2018).
(Baca Juga: Fed Ungkap Ada Risiko Peningkatan Inflasi di Negara Berkembang )
Meskipun demikian, disadari bahwa dengan saling terhubungnya ekonomi dunia, kebijakan AS dapat berpengaruh pada ekonomi global. Lalu pada gilirannya dapat kembali memengaruhi ekonomi AS.
"Dua hal penting yang ditekankan bahwa normalisasi AS akan dilakukan secara bertahap, serta bahwa AS akan terus melakukan komunikasi transparan. Kedua hal ini diharapkan dapat mengurangi dampak global spillover," kata John.
Selain itu, perubahan cepat pada perkembangan teknologi dan implikasi jangka panjang dari perubahan iklim membentuk ulang pandangan para pengambil kebijakan. Perkembangan ini mengharuskan bank sentral untuk menyadari bagaimana peran dalam memengaruhi asumsi pengambilan kebijakan tradisional.
Adapun dinamika perekonomian global, khususnya normalisasi kebijakan ekonomi negara maju turut membawa dampak pada negara berkembang, termasuk Indonesia. Untuk itu, bank sentral di berbagai negara perlu melakukan respons kebijakan yang tepat dengan saling berkoordinasi, komunikasi dan kerja sama.
Chief Executive Officer The Federal Reserve Bank of New York John Carrol Williams, dalam pidatonya di Forum Bank Sentral yang diselenggarakan secara bersama antara The Fed New York dan Bank Indonesia (BI) menyampaikan bahwa ekonomi Amerika Serikat (AS) saat ini berada dalam keadaan sangat positif. Hal tersebut diindikasikan dari tingkat pengangguran dan inflasi yang rendah, prospek pertumbuhan yang baik dan diperkirakan masih akan berlanjut.
"Dengan keadaan ekonomi yang baik tersebut, otoritas AS pun melakukan normalisasi kebijakan, dengan menaikkan suku bunga bank sentral dan normalisasi neraca," ujar John Carrol di Nusa Dua, Bali, Rabu (10/10/2018).
(Baca Juga: Fed Ungkap Ada Risiko Peningkatan Inflasi di Negara Berkembang )
Meskipun demikian, disadari bahwa dengan saling terhubungnya ekonomi dunia, kebijakan AS dapat berpengaruh pada ekonomi global. Lalu pada gilirannya dapat kembali memengaruhi ekonomi AS.
"Dua hal penting yang ditekankan bahwa normalisasi AS akan dilakukan secara bertahap, serta bahwa AS akan terus melakukan komunikasi transparan. Kedua hal ini diharapkan dapat mengurangi dampak global spillover," kata John.
Selain itu, perubahan cepat pada perkembangan teknologi dan implikasi jangka panjang dari perubahan iklim membentuk ulang pandangan para pengambil kebijakan. Perkembangan ini mengharuskan bank sentral untuk menyadari bagaimana peran dalam memengaruhi asumsi pengambilan kebijakan tradisional.
Adapun dinamika perekonomian global, khususnya normalisasi kebijakan ekonomi negara maju turut membawa dampak pada negara berkembang, termasuk Indonesia. Untuk itu, bank sentral di berbagai negara perlu melakukan respons kebijakan yang tepat dengan saling berkoordinasi, komunikasi dan kerja sama.
(akr)
Lihat Juga :