Lahan Masam Potensi Sumber Pangan di Masa Depan

Minggu, 21 Oktober 2018 - 11:01 WIB
Lahan Masam Potensi...
Lahan Masam Potensi Sumber Pangan di Masa Depan
A A A
JAKARTA - Pemerintah tengah mendorong pemanfaatan lahan suboptimal untuk mendukung produksi pangan nasional. Salah satu potensi yang bisa digarap untuk perluasan areal tanam adalah lahan masam.

Dosen Universitas Brawijaya Malang Setyono Yudo Tyasmoro mengatakan, pembukaan lahan baru ini merupakan bentuk penjabaran Program Nawacita yang mencanangkan pembukaan lahan pertanian seluas 1 juta ha dalam kurun waktu 5 tahun (2015 - 2019). Selain untuk peningkatan produksi pangan, program ini sekaligus untuk mengimbangi laju alih fungsi lahan yang terus meningkat.

"Pembukaan lahan baru bisa dilakukan pada lahan kering maupun lahan basah (gambut) dengan pembuatan infrastruktur irigasi, sehingga lahan yang selama ini tidak dimanfaatkan menjadi lebih produktif," kata Setyono pada FGD bertema "Pengelolaan Lahan Masam Secara Berkelanjutan" baru-baru ini.

Setyono mengatakan, isu ketersedian lahan untuk pangan menjadi prioritas utama seiring meningkatnya jumlah penduduk Indonesia yang kini mencapai 260 juta jiwa. Karena itu prioritas pembangunan pertanian masih fokus pada upaya peningkatan produksi pangan, khususnya padi, jagung dan kedelai guna memenuhi kecukupan pangan secara nasional.

Untuk mengisi kebutuhan pangan, pemerintah gencar mencari lahan baru untuk dicetak menjadi sawah (ekstensifikasi), namun kebanyakan merupakan lahan masam. Data Badan Litbang Pertanian, potensi lahan kering masam untuk tanaman pangan seluas 22,31 juta ha dan luas lahan kering masam untuk pengembangan tanaman tahunan 49,87 juta ha.

Namun Setyono mengakui, permasalahan utama pembukaan lahan pertanian adalah terkait dengan pemanfaatan pasca konstruksi. Jadi, selain aspek penanganan budidaya oleh petani, tingkat kesuburan yang rendah juga menghambat pencapaian target peningkatan produksi pangan.

Secara umum lahan bukaan baru yang berasal dari lahan masam dan marginal kondisi tingkat keasaman tanah pada kisaran pH 4,0-5,0. Sedangkan umumnya tanaman membutuhkan kondisi keasaman yang ideal pada pH 6,0-6,5. Kesuburan yang rendah pada areal lahan baru mengakibatkan produktivitas hasil yang didapatkan juga sangat rendah. Untuk lahan sawah dalam kisaran 2,5-3 ton/ha Gabah Kering Giling (GKG).
"Tingkat keasaman yang tinggi menjadi sebab mengapa kesuburannya rendah," ujarnya.

Untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan masam atau lahan baru, teknologi yang sangat mungkin adalah pemberian material kesuburan lahan berupa dolomit. Kebutuhan dolomit pada lahan bukan baru yang ideal adalah 4 ton/ha.

Sementara itu Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Syekhfani mengatakan, peningkatan kesuburan tanah di lahan sulfat masam sangat mungkin dilakukan dengan memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Antara lain, pertama, untuk meningkatkan pH tanah dilakukan aplikasi unsur Kalsium (Ca) dan Magnesium (Mg).

Kedua, meningkatkan ketersediaan unsur hara P dengan aplikasi reaktif pupuk posphat. Ketiga, meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah dengan aplikasi bahan organik, mikoriza, hayati dan amelioran lainnya.

Kepala Balai Penelitian Tanah, Balitbang Pertanian, Husnain juga mengakui potensi pengembangan lahan untuk pertanian yang belum dimanfaatkan masih cukup besar. Misalnya, lahan rawa dari total luas 34,1 juta ha potensi untuk pertanian sekitar 20 juta ha. Dari luasan itu yang baru dimanfaatkan sekitar 3,68 juta ha (18%), sehingga masih terdapat 16,32 juta ha (82%) yang belum dimanfaatkan.

Sedangkan lahan kering yang ada dari 17 juta ha dan yang masih potensial seluas 24,7 juta ha berada kawasan budidaya pertanian (APL) seluas 5,7 juta ha, di kawasan Hutan Produksi (HP) 14,6 Juta ha dan 4,4 juta ha dikawasan Hutan Produksi Konservasi (HPK) sebagai lahan cadangan.

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya lainnya Syahrul Kurniawan mencontohkan, kunci keberhasilan pengelolaan lahan alih fungsi hutan menjadi kebun karet dan kelapa sawit di tanah masam adalah keseimbangan nutrisi dimana input nutrisi. Dalam hal ini pupuk disesuaikan dengan output nutrisi.

"Faktor yang mempengaruhi output nutrisi antara lain penyerapan hara tanaman dan pencucian unsur hara. Aplikasi pupuk dolomit dan bahan organik dapat meningkatkan penyerapan hara tanaman dan meminimalisir pencucian hara," tuturnya.

Karena lahan masam mempunyai prospek yang sangat tinggi untuk mendukung ketersediaan pangan. Pemerintah harus mulai menetapkan strategi pengelolaan lahan masam menjadi sumber lahan pangan baru dengan memperhatikan konsep keberlanjutan sumber daya alam.

"Kita mempunyai sumber alam yang dapat memperbaiki permasalahan tanah masam tersebut. Salah satunya dengan penambahan bahan yang kaya akan Ca dan Mg yang terdapat dalam Dolomit. Tambang terbesar dan terbaik Dolomit ada di Desa Sekapuk, Gresik, Jawa Timur," tuturnya.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Urban Farming, Bertani...
Urban Farming, Bertani di Lahan Mini Solusi Ketahanan Pangan
Target Swasembada Pangan...
Target Swasembada Pangan 2027 Diyakini Mampu Diwujudkan
Pertanian Keluarga Solusi...
Pertanian Keluarga Solusi Ketahanan Pangan
Kementan Tingkatkan...
Kementan Tingkatkan Produksi Pangan Lewat Optimasi Lahan Rawa
Penyempitan Lahan Sawah...
Penyempitan Lahan Sawah Bisa Ancam Ketahanan Pangan
Tingkatkan Jumlah Petani...
Tingkatkan Jumlah Petani Muda untuk Ketahanan Pangan Nasional
Berita Terkini
Lippoland Kembangkan...
Lippoland Kembangkan OAZE sebagai Pusat Kehidupan Baru di Cikarang
13 menit yang lalu
Kuasai 25% Kekayaan...
Kuasai 25% Kekayaan Miliarder AS: 144 Imigran Terkaya Pecahkan Rekor Rp39.261 Triliun
36 menit yang lalu
Jelang Mandatori SAF...
Jelang Mandatori SAF 1% di 2027, Pertamina Patra Niaga Percepat Ekosistem
1 jam yang lalu
Tren Penguatan IHSG...
Tren Penguatan IHSG Lanjut ke 6.346, Transaksi di Awal Sesi Cetak Rp627 Miliar
1 jam yang lalu
AS Gempur Iran 12 Malam...
AS Gempur Iran 12 Malam Beruntun & Houthi Tembak Tanker Saudi, Harga Minyak Dunia Tembus USD96/Barel
2 jam yang lalu
Purbaya Bebaskan Bea...
Purbaya Bebaskan Bea Masuk Impor LPG dan Komponen Pesawat Udara
3 jam yang lalu
Infografis
Joao Pinheiro, Wasit...
Joao Pinheiro, Wasit Kontroversial di Laga Argentina vs Swiss
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved