Marketing Outlook 2019: Menyalip di Kenormalan Baru

Minggu, 09 Desember 2018 - 08:15 WIB
Marketing Outlook 2019:...
Marketing Outlook 2019: Menyalip di Kenormalan Baru
A A A
2019 adalah tahun di mana dua ekonomi baru, yaitu Digital Economy dan Leisure Economy, mulai menemukan critical mass-nya dan akan menghasilkan ”the whole new world” dengan jutaan peluang pasar dan bisnis baru.

Kenormalan baru sudah lamat-lamat menampakkan bentuknya dan setiap pelaku bisnis harus mulai jeli memasang insting bisnisnya agar bisa ”menyalip” pemain lain (khususnya incumbent) di tengah kenormalan baru yang bakal lahir.

Memang betul pertumbuhan ekonomi kita stagnan, ogah beranjak dari 5%, namun para pelaku bisnis tak perlu resah. Kenapa? Karena kita sedang mengalami ”anomali pertumbuhan” di mana begitu banyak output ekonomi yang ”tak tertangkap” dalam angkagross domestic product(GDP) konvensional kita.

Pertumbuhan yang ”flat cenderung turun” adalah konsekuensi dari ”more-for-less economy”, ekonomi baru superproduktif, yang mampu mengolah sumber daya minimal untuk menghasilkan output yang maksimal.

Platform digital memungkinkan pelaku ekonomi memangkas input 10X lebih sedikit untuk menghasilkan output10X lipat lebih banyak. Bagaimana wajah lanskap bisnis pada 2019? Ulasannya saya sederhanakan seperti bagan dalam gambar di samping .

Winter Is Coming: ”Trade War”
Ada dua driver of changes utama yang bakal memengaruhi tahun 2019, yaitu di tingkat global (”Winter Is Coming”) dan kondisi politik yang bakal tidak menentu sebagai akibat digelarnya pemilu (”Pemilu Effect”) yang mendorong pelaku bisnis ”wait and see”.

Istilah Jokowi ”Winter Is Coming” untuk menggambarkan dinamika ekonomipolitik global sungguh pas, di mana muncul tahta-tahta seperti digambarkan dalam film Game of Thrones: Ada tahta AS, tahta China, atau tahta ekonomi Eropa.

Masing-masing melakukantrade war untuk berebut pengaruh. Ketika sesama gajah bertarung, maka pelanduk mati di tengah-tengah. Nasionalisme ekonomi AS (”America First”) melawan China (dan Dunia) kini menemukan momentumnya saat kebijakan populis Trump menuai hasil luar biasa.

Setelah dicaci-maki di mana-mana, kini Trump menjadi hero di negaranya karena mampu mewujudkan ”America Great Again”, janjinya saat kampanye. Sungguh mengagetkan pengumuman World Economy Forum(WEF) bulan lalu yang menempatkan AS sebagaiThe World’s Most Competitive Economy setelah 10 tahun kecolongan posisi bergengsi ini.

Ketika kebijakan nasionalisme ekonomi Trump mendapat angin segar, maka trade warantartahta akan makin intensif. Dan, ketika sesama gajah saling bertarung, maka pelanduk-pelanduk (termasuk Indonesia) akan sengsara di tengah-tengah.

Pemilu Effect: ”Wait and See”
Di dalam negeri, bagaimana dengan pengaruh pemilu tahun depan ke dunia bisnis? Akankah volatiledan uncertain? Atau, sebaliknya adem-ayem? Tergantung. Tapi, yang jelas pelaku bisnis akan ”wait and see”.

Ada dua momen politik yang mereka tunggu: Pertama, bulan April saat muncul nama presiden baru terpilih. Kedua, bulan Oktober saat kabinet baru terbentuk. Skenarionya, kalau Jokowi- Amin terpilih, maka kondisinya akan cenderung ademayem karena besar kemungkinan presiden baru akan melanjutkan kebijakan-kebijakan sebelumnya tanpa ada perubahan drastis dan uncertain.

Pelaku bisnis juga bisa menebak bagaimana format kabinet dan arah kebijakannya. Namun, bila Prabowo-Sandi yang terpilih, maka pelaku bisnis akan lebih waswas dan terus menduga-duga arah kebijakan ekonomi-bisnis pemerintahan baru.

Bisa dipastikan pemerintahan baru akan mengambil posisi detrimental: mencari simpati dengan membalik arah semua kebijakan pemerintah sebelumnya.

Perubahan-perubahan drastis yang ditimbulkan oleh kebijakan-kebijakan pemerintah baru yang detrimental ini tentu menimbulkan ketidakmenentuan dan ketidakpastian setidaknya pada masa-masa awal pemerintahan. Setiap pelaku bisnis harus mumpuni beradaptasi perubahanperubahan drastis ini.

(Tulisan pertama dari dua tulisan)

YUSWOHADY
Managing Partner Inventure www.yuswohady.com
(nfl)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Indonesia Tuan Rumah...
Indonesia Tuan Rumah Forum Marketing Dunia Tahun 2022
Jelajahi Kota Samarinda,...
Jelajahi Kota Samarinda, IMS dan Dahua Siapkan Strategi Baru pada 2023
Tools yang Tepat Bisa...
Tools yang Tepat Bisa Memotret Perilaku Konsumen di Medsos Secara Akurat
GDPS Berpartisipasi...
GDPS Berpartisipasi dalam Acara Jakarta Marketing Week 2022
Hadirkan S.M.A.R.T,...
Hadirkan S.M.A.R.T, ISH Perkuat Posisi sebagai Penyedia Layanan Sales Promotion Berbasis Aplikasi
Resmi Diluncurkan di...
Resmi Diluncurkan di Jakarta, SAMA Kukuhkan Kolaborasi dalam Industri Marketing Asia
Berita Terkini
Relevansi Jadi Kunci...
Relevansi Jadi Kunci Utama Membangun Kekuatan Merek di Era Digital
1 jam yang lalu
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
2 jam yang lalu
GAPKI Tegaskan Industri...
GAPKI Tegaskan Industri Sawit RI Terapkan Standar Keselamatan Kerja Berkelanjutan
2 jam yang lalu
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
3 jam yang lalu
Airlangga Bocorkan Lahan...
Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali Jadi Opsi Calon Lokasi PFII
3 jam yang lalu
Soal Pindar, KPPU Didorong...
Soal Pindar, KPPU Didorong Utamakan Tindakan Pencegahan
3 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Jalan...
10 Negara dengan Jalan Terbaik di Dunia, Juaranya Tetangga Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved