API Keluhkan Hancurnya Pasar Tekstil Domestik

Rabu, 27 Maret 2019 - 16:32 WIB
API Keluhkan Hancurnya...
API Keluhkan Hancurnya Pasar Tekstil Domestik
A A A
BANDUNG - Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mengeluhkan hancurnya pasar tekstil dalam negeri, akibat serbuan produk impor dan berbagai persoalan lainnya. Sekjen API Kevin Hartanto mengatakan, kondisi industri tekstil Indonesia saat ini dalam kondisi kurang begitu bagus.

Pelaku industri menghadapi tantangan berat, atas gempuran bahan baku dan produk tekstil impor. “Kondisi saat ini, industri tekstil menghadapi tantangan berat, karena banyaknya impor pakaian bekas, grey, dan lainnya,” kata Kevin, Rabu (27/3/2019).

Kendati data BPS menyebutkan impor tekstil belum begitu besar, namun kenyataan di lapangan banyak sekali produk impor di pasaran. Bahkan dia mengkhawatirkan masuknya produk impor tekstil ilegal ke Indonesia karena bisa saja produk tersebut masuk melalui jalur-jalur yang tidak terpantau.

Menurut dia, bukti anjloknya produk tekstil di pasar domestik tampak pada turunnya komposisi suplai. Suplai industri tekstil ke domestik saat ini hanya 40%. Padahal, sebelumnya bisa mencapai 80%. Bisa jadi, selisih itu diisi produk impor legal atau ilegal.

“Produk TPT (tekstil dan produk tekstil) unknown impor ini banyak dikonsumsi masyarakat, bahkan oleh industri tenunnya. Itu karena harganya selalu dibawah harga pasaran,” beber dia.

Menurut dia, berbagai upaya perlu dilakukan pemerintah dan semua pihak agar hak negatif atas industri tekstil dalam negeri tidak terjadi. Karena kemungkinan yang bisa terjadi adalah rusak dan hancurnya pasar domestik. Belum lagi, terhentinya produksi industri IKM TPT dan penutupan pabrik.

“Harus ada kegiatan rutin ke lapangan, melakukan operasi pasar di pasar domestik. Operasi bisa dilakukan dua hingga tiga bulan sekali. Ini untuk mengetahui kondisi riil di pasaran,” imbuh dia.

Alternatif lainnya yang bisa dilakukan adalah tindakan pengamanan sesuai instrumen perdagangan dari WTO. yaitu melalui skema anti dumping, safeguards, dan anti subsidi. Walau pun penerapan safeguards untuk produk kain jadi dan pakaian jadi sangat sulit terealisasi.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Diproduksi di Solo,...
Diproduksi di Solo, GSP Siap Pasok Kain American Drill ke Pasar Domestik dan Global
Memahami Pentingnya...
Memahami Pentingnya Kapas Berkualitas Dorong Kesuksesan Industri Tekstil
Kolaborasi dengan MC...
Kolaborasi dengan MC Texstyle, Vira Tandia: Memudahkan Pelanggan Mendapat Bahan Kain Berkualitas
Permendag 8/2024 Bakal...
Permendag 8/2024 Bakal Direvisi Disambut Baik Asosiasi Tekstil
Diacak-acak Barang Impor,...
Diacak-acak Barang Impor, Juragan Tekstil Sempat Nangis Darah
Mendorong Industri Tekstil...
Mendorong Industri Tekstil Tanah Air Mengedepankan Bisnis Berkelanjutan
Berita Terkini
Harga Minyak Mendidih...
Harga Minyak Mendidih 1% saat Houthi Blokade Arab Saudi, Bakal Tembus USD100 per Barel?
1 jam yang lalu
IHSG Masih Perkasa,...
IHSG Masih Perkasa, Hari Ini Dibuka Menanjak Naik 0,67% ke level 6.273.
2 jam yang lalu
Bappenas Petakan Kekayaan...
Bappenas Petakan Kekayaan Hayati Indonesia untuk Pembangunan Berkelanjuran
2 jam yang lalu
Kilau Emas Meredup,...
Kilau Emas Meredup, Turun 9 Ribu Sentuh Level Rp2.601.000/Gram
2 jam yang lalu
Tabungan Kelas Menengah...
Tabungan Kelas Menengah Melambat, LPS Menyoroti Anomali Melejitnya Simpanan di Atas Rp5 Miliar
3 jam yang lalu
AS Kembali Picu Perang...
AS Kembali Picu Perang Dagang, Kali Ini Kanada Bakal Dihantam Tarif 50%
4 jam yang lalu
Infografis
Pasar di Jakarta Hasilkan...
Pasar di Jakarta Hasilkan 500 Ton Sampah Per Hari
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved