Pasar Obligasi China Jadi Bagian Indeks Utama Global

Senin, 01 April 2019 - 18:56 WIB
Pasar Obligasi China...
Pasar Obligasi China Jadi Bagian Indeks Utama Global
A A A
SINGAPURA - Mulai 1 April 2019, pasar obligasi domestik China menjadi bagian dari indeks utama global, menandai tonggak sejarah baru dalam pasar keuangan China. Sebanyak 364 obligasi China akan ditambahkan ke dalam Bloomberg Barclays Global Aggregate Index dalam 20 bulan ke depan.

Para analis mengestimasi bahwa inklusi obligasi ini secara penuh akan menarik sekitar USD150 miliar pemasukan asing ke pasar obligasi China yang senilai USD13 triliun (sekitar Rp182.000 triliun), yangmerupakan pasar obligasi terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat (AS) dan Jepang.

Berikut adalah rincian sumber dan jumlah obligasi yang akan dimasukkan ke dalam indeks, Pemerintah China (159); China Development Bank (102); Agricultural Development Bank of China (58); dan Export-Import Bank of China (45).

Menurut Bloomberg, ketika keseluruhan obligasi ini masuk ke dalam tolok ukur global, bobot China di dalam indeks akan meningkat hingga sekitar 6% dan mata uang China, Yuan, akan menjadi komponen mata uang terbesar keempat di dunia.

Meski demikian, obligasi-obligasi China berada di bawah kepemilikan para investor global. Para analis mengestimasi bahwa kepemilikan asing atas utang China hanya sebesar 2% dari total nilai USD13 triliun tersebut.

Direktur Pelaksana dan Kepala BlackRock Neeraj Seth mengatakan, masuknya obligasi China dalam beragam indeks akan mendorong negara tersebut untuk mereformasi pasar keuangannya.

Semakin banyak investor asing yang membeli aset-aset China, semakin meningkat pula permintaan akan yuan. Khoon Goh dari ANZ memperkirakan bahwa China akan menerima sejumlah USD275 miliar pemasukan asing dari obligasi-obligasi yang dimasukkan ke dalam indeks Bloomberg, JP Morgan, dan FTSE (Financial Times Stock Exchange).

Dengan pemasukan yang sedemikian besar, yuan akan berada di bawah tekanan, karena dengan adanya perubahan struktural di China diprediksi menyusutkan surplus transaksinya saat ini.

Bank investasi multinasional asal AS Morgan Stanley dalam laporannya di bulan Februari memprediksi bahwa transaksi China akan mengalami defisit pada tahun ini. Hal tersebut berarti bahwa China harus menarik lebih banyak uang asing untuk mendanai kebutuhannya. Sebelumnya, China pernah mengalami defisit transaksi pada tahun 1993.

Menurut Goh, perkembangan seperti itu akan menempatkan yuan di bawah tekanan. "Mengingat adanya peningkatan struktural dalam pemasukan portofolio asing selama beberapa tahun ke depan, kami berharap yuan tetap tertopang," tambahnya.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Investor Ketakutan,...
Investor Ketakutan, Evergrande China Lewati Batas Waktu Bayar Bunga Obligasi
Nilainya Masih Seiprit,...
Nilainya Masih Seiprit, Pasar Obligasi Korporasi Punya Potensi Besar
Kupas Tuntas Proyeksi...
Kupas Tuntas Proyeksi Pasar Obligasi, Ini Link Pendaftaran Webinar MNC Asset Management
Obligasi Pasar Sekunder...
Obligasi Pasar Sekunder Bisa Jadi Alternatif Diversifikasi Investasi
Tokenisasi Obligasi...
Tokenisasi Obligasi Pertama Resmi Meluncur, IDDB Kantongi Dana Kelolaan Rp1,2 M
Kabar Terbaru Kejatuhan...
Kabar Terbaru Kejatuhan Raksasa Properti China: Evergrande Mau Bayar Kupon Obligasi
Berita Terkini
Pasokan Batu Bara Aman,...
Pasokan Batu Bara Aman, PLN Jamin Tak Ada Lagi Pemadaman Listrik Mulai 21 Juli 2026
32 menit yang lalu
Transmisi Hijau Tulang...
Transmisi Hijau Tulang Punggung Penentu Masa Depan Energi Bersih
47 menit yang lalu
Rupiah Kritis, Hari...
Rupiah Kritis, Hari Ini Berakhir Ambruk ke Rp17.995 per Dolar AS
59 menit yang lalu
Kunker ke Jatim, Komut...
Kunker ke Jatim, Komut Pertamina Tekankan Pentingnya Keselamatan Kerja
1 jam yang lalu
Syngenta Indonesia Kenalkan...
Syngenta Indonesia Kenalkan Inovasi Pertanian di PENAS KTNA XVII
1 jam yang lalu
Selat Hormuz Sempat...
Selat Hormuz Sempat Lumpuh, Raja-raja Minyak Arab Garap Proyek Pipa Raksasa
1 jam yang lalu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved