Markus Seseray, Putra Papua Sukses Junjung Profesionalitas

Kamis, 27 Juni 2019 - 22:54 WIB
Markus Seseray, Putra Papua Sukses Junjung Profesionalitas
Markus Seseray, Putra Papua Sukses Junjung Profesionalitas
A A A
JAYAPURA - Setelah empat tahun mengadu nasib di Jepang, Markus Seseray (47) memutuskan kembali ke tanah kelahirannya, Papua. Sejak 2004 hingga kini, ia menjalankan usaha toko kelontong. Usaha yang kini mendatangkan omzet hingga belasan juta rupiah dalam sehari dan membuka lapangan pekerjaan bagi anak muda Papua.

Bagi Markus Seseray, usaha yang dirintisnya bukan semata untuk kemapanan ekonominya serta keluarganya. Lebih dari itu, ini adalah keinginannya sebagai putra daerah untuk berkontribusi memajukan ekonomi tanah Papua yang dicintainya.

Pada 1996, Markus Seseray mengikuti pertukaran pelajar Papua ke Jepang. Tak berapa lama, ia kembali lagi karena ada kendala bahasa. Tak patah semangat, Markus kembali mengikuti pelatihan untuk mencoba kesempatan kedua menimba pengalaman di Negeri Sakura.

Usahanya tak sia-sia. Ia kembali berangkat ke Osaka, bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang bangunan hingga akhirnya memutuskan pulang ke Papua pada tahun 2000.
Markus Seseray, Putra Papua Sukses Junjung Profesionalitas
Hasil dari melanglang buana ke Jepang itu dimanfaatkannya sebagai modal membangun usaha. Ia membeli tanah di kawasan Jayapura, Papua, dan membangun toko yang kini berkembang kian maju.

“Saya beli tanah tahun 2000. Kemudian, sekarang toko punya sendiri,” kata pria kelahiran 13 Januari 1972 ini, ketika ditemui beberapa waktu lalu.
Markus kemudian mengisahkan alasannya memilih kembali ke Papua. Saat itu, tahun 2000, diberlakukan otonomi khusus Papua. Bagi dia, ini kesempatan besar bagi putra Papua untuk maju dan membangun daerahnya.

“Setelah 4 tahun, saya pulang ke Papua karena saya pikir tahun 2000 ada otonomi khusus Papua. Saya pikir ada peluang kembali ke sana, sudah ada modal sedikit. Saya pakai untuk berwiraswasta di Papua. Apalagi setelah otsus, putra Papua diperhatikan, diberikan kemudahan,” ujarnya.

Ia menyebutkan, keputusan ini untuk merealisasikan janjinya. “Kalau berhasil di sana (Jepang), saya harus pulang buka lapangan kerja,” tuturnya.

Setelah tokonya berdiri pada tahun 2004, Markus memulainya dengan membuka usaha biliar. Tak tanggung-tanggung, ada 16 meja saat itu. Ia juga membuka jasa warung telekomunikasi alias wartel.
Markus Seseray, Putra Papua Sukses Junjung Profesionalitas
Akan tetapi, lama kelamaan usaha wartel tak terlalu menjanjikan seiring semakin mudahnya kepemilikan ponsel. Akhirnya, ia memutuskan menutup usaha wartel dan menyisakan dua space yang menjadi cikal bakal toko kelontongnya.

Dari dua ruang yang tersisa, Markus memanfaatkannya untuk berjualan sembako dan membuka usaha fotokopi. Kini, yang masih bertahan adalah usaha toko kelontong karena mesin fotokopi rusak dan tidak bisa beroperasi.

Lima tahun lalu, saat pusat perbelanjaan mulai berdiri di Jayapura, Markus sempat khawatir akan berdampak pada usahanya. Akan tetapi, kekhawatirannya tak terbukti. Ia justru melihat peluang bisnis baru, yaitu jasa penitipan helm bagi para pengunjung mal.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.1271 seconds (11.210#12.26)