PUPR Siapkan Langkah Antisipasi Kekeringan di 12 Provinsi
Sabtu, 13 Juli 2019 - 21:31 WIB
PUPR Siapkan Langkah Antisipasi Kekeringan di 12 Provinsi
A
A
A
JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyatakan telah menyiapkan antisipasi kekeringan di 12 provinsi. Pemerintah meramalkan musim puncak kemarau terjadi pada Agustus 2019.
Adapun 12 provinsi yang telah disiapkan tersebut adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Papua Barat, dan Papua.
Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR, Hari Suprayogi, mengatakan lahan pertanian yang mengalami dampak kekurangan air pada musim kemarau tahun 2019, umumnya sawah tadah hujan dan sawah yang mengandalkan irigasi teknis dari bendung yang bergantung pada debit air sungai.
"Sementara, untuk irigasi teknis yang mendapat jaminan air bendungan atau irigasi premium masih mendapat pasokan air yang cukup. Dari 16 waduk utama dengan kapasitas minimal 50 juta meter kubik, 10 waduk dalam kondisi di bawah rencana dan 6 waduk lainnya dalam kondisi normal. Waduk dengan kondisi di bawah rencana akan mengalami penyesuaian pola tanam yang pengaturannya di tentukan oleh perkumpulan petani pengguna air atau P3A," ujar Hari Suprayogi di Jakarta, Sabtu (13/7/2019).
Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika puncak musim kering diperkirakan berlangsung pada Agustus 2019 dengan cakupan 52,9% wilayah Indonesia terpapar musim kekeringan.
Kementerian PUPR terus melakukan pemantauan terhadap kondisi 16 waduk utama tersebut, yaitu Jatiluhur, Cirata, Saguling, Kedungombo, Batutegi, Wonogiri, Wadaslintang, Sutami, Bili-bili, Wonorejo, Cacaban, Kalola, Solorejo, Way Rarem, Batu Bulan, dan Ponre-ponre.
Terpantau per 30 Juni 2019, volume ketersediaan air dari 16 waduk utama tersebut sebesar 3.858,25 juta meter kubik dari tampungan efektif sebesar 5.931,62 juta meter kubik. Luas area yang bisa dilayani dari ke-16 bendungan tersebut adalah 403.413 hektar dari total 573.367 hektar. Sementara 75 waduk lainnya dengan skala kecil sampai menengah, kondisinya 10 normal, 58 di bawah rencana, dan 7 kering.
Antisipasi lainnya yang dilakukan Kementerian PUPR dalam menghadapi musim kering tahun ini dengan menyiapkan pompa sentrifugal berkapasitas 16 liter per detik. Pompa yang disiapkan mencapai 1.000 unit yang tersebar di 34 provinsi. Di samping itu, Kementerian PUPR juga membangun sumur bor sebanyak dua titik di setiap balai besar/balai wilayah sungai di daerah.
Direktur Bina Operasi dan Pemeliharaan Kementerian PUPR, Agung Djuhartono, menambahkan sebagai antisipasi kekeringan, petani diimbau untuk disiplin dalam mengikuti rencana pola tanam yang sudah disepakati.
"Untuk waduk di bawah rencana, pola operasinya diubah karena kondisi airnya yang berkurang. Kalau tadinya musim tanam ini menanam padi, maka diubah menanam palawija yang lebih hemat air," kata Agung Djuhartono.
Adapun 12 provinsi yang telah disiapkan tersebut adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Papua Barat, dan Papua.
Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR, Hari Suprayogi, mengatakan lahan pertanian yang mengalami dampak kekurangan air pada musim kemarau tahun 2019, umumnya sawah tadah hujan dan sawah yang mengandalkan irigasi teknis dari bendung yang bergantung pada debit air sungai.
"Sementara, untuk irigasi teknis yang mendapat jaminan air bendungan atau irigasi premium masih mendapat pasokan air yang cukup. Dari 16 waduk utama dengan kapasitas minimal 50 juta meter kubik, 10 waduk dalam kondisi di bawah rencana dan 6 waduk lainnya dalam kondisi normal. Waduk dengan kondisi di bawah rencana akan mengalami penyesuaian pola tanam yang pengaturannya di tentukan oleh perkumpulan petani pengguna air atau P3A," ujar Hari Suprayogi di Jakarta, Sabtu (13/7/2019).
Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika puncak musim kering diperkirakan berlangsung pada Agustus 2019 dengan cakupan 52,9% wilayah Indonesia terpapar musim kekeringan.
Kementerian PUPR terus melakukan pemantauan terhadap kondisi 16 waduk utama tersebut, yaitu Jatiluhur, Cirata, Saguling, Kedungombo, Batutegi, Wonogiri, Wadaslintang, Sutami, Bili-bili, Wonorejo, Cacaban, Kalola, Solorejo, Way Rarem, Batu Bulan, dan Ponre-ponre.
Terpantau per 30 Juni 2019, volume ketersediaan air dari 16 waduk utama tersebut sebesar 3.858,25 juta meter kubik dari tampungan efektif sebesar 5.931,62 juta meter kubik. Luas area yang bisa dilayani dari ke-16 bendungan tersebut adalah 403.413 hektar dari total 573.367 hektar. Sementara 75 waduk lainnya dengan skala kecil sampai menengah, kondisinya 10 normal, 58 di bawah rencana, dan 7 kering.
Antisipasi lainnya yang dilakukan Kementerian PUPR dalam menghadapi musim kering tahun ini dengan menyiapkan pompa sentrifugal berkapasitas 16 liter per detik. Pompa yang disiapkan mencapai 1.000 unit yang tersebar di 34 provinsi. Di samping itu, Kementerian PUPR juga membangun sumur bor sebanyak dua titik di setiap balai besar/balai wilayah sungai di daerah.
Direktur Bina Operasi dan Pemeliharaan Kementerian PUPR, Agung Djuhartono, menambahkan sebagai antisipasi kekeringan, petani diimbau untuk disiplin dalam mengikuti rencana pola tanam yang sudah disepakati.
"Untuk waduk di bawah rencana, pola operasinya diubah karena kondisi airnya yang berkurang. Kalau tadinya musim tanam ini menanam padi, maka diubah menanam palawija yang lebih hemat air," kata Agung Djuhartono.
(ven)
Lihat Juga :